Topic
Home / Pemuda / Essay / AL4y dan (Pencapaian) Eksistensi

AL4y dan (Pencapaian) Eksistensi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Alay – sebuah trend yang bisa dikatakan cukup berhasil masuk di kehidupan para remaja akhir-akhir ini, khususnya di Indonesia.  Alay yang seringkali kita artikan anak layangan atau ada juga yang menyebut anak lebay. Lebay adalah transformasi kata dari lebih (berlebihan). Mungkin sebelum kita bahas topik ini kita selami dulu apa arti alay itu dan bagaimana ciri-ciri yang ditampakkan. Berikut ada beberapa pernyataan tentang itu:

Koentjara Ningrat:

“Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati, kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar”

Selo Soemaridjan:

“Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.”

Secara umum bisa dikatakan Alay adalah sebuah sisi lain kehidupan remaja generasi muda saat ini. Remaja adalah sebuah fase kehidupan di mana ia ingin di “anggap”. Maksudnya setiap orang agar menganggap keberadaan dan eksistensi dirinya. Pencarian jati diri mengharuskan atau mungkin memang dekat dengan yang namanya ingin dihargai, ingin dianggap, ingin dipercaya. Lalu dengan eksis dirasa itulah solusi yang memang solutif untuk itu. Kemudian yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mereka bisa eksis dan dikenal di kalangan mereka.

(Alay Mode On)

Alay, inilah solusi yang mereka anggap bisa mengkat dirinya secara instant, membuat dirinya eksis di komunitas mereka. Sebuah metode yang bisa menarik perhatian orang lain dengan menunjukkan sesuatu yang berbeda yang ada pada dirinya. Mungkin bisa berupa gaya tulisan dan bagaimana berpenampilan.

Tulisan alay seringkali kita temui berupa nama user di Facebook atau status di Facebook sendiri. Sedangkan terkait penampilan bisa berupa cara berpakaian, kenarsisan, dan sikap mereka menghadapi masalah. Dengan berbagai cara itu (baca: kealayan), mereka merasa dirinya beda dengan sekitarnya. Lalu kondisi ini akan berimplikasi pada perhatian orang-orang di sekitar tertuju padanya. Mereka menjadi fokus perhatian. Itulah  goal yang ingin di capai dengan ke-alay-an mereka. Sehingga eksistensi dengan cara itu bisa dicapai dengan cara yang cukup instant.

(Alay ada Batasnya)

Saya kira setiap kebebasan itu pasti ada batasannya. Setiap manusia memiliki pendapat dan cara sendiri. Inilah yang harus diperhatikan, kebebasan yang dianut di Indonesia adalah kebebasan pancasila di mana kita diberi kebebasan yang seluas-luasnya namun harus memperhatikan kebebasan orang lain. Terlepas dari apa opini penulis tentang alay itu, Saya hanya berpesan kepada teman-teman yang mungkin mulai, sedang, terjerumus dalam dunia kealay-an, mari kita hargai teman-teman yang mungkin bukan memberi perhatian akan kealayan teman-teman, namun justru dirinya merasa terusik dan alergi dengan hal-hal  yang berbau alay itu. Katakan saja misal di Facebook, dalam beranda FB seseorang diwarnai dengan status-status alay. Ini kadang juga menimbulkan anggapan bahwa “Alay adalah sampah” dan anggapan- anggapan lainnya. Kita boleh ber-alay ria sesuka kita namun kita harus memperhatikan apakah kealayan kita mengganggu atau tidak terhadap orang di sekitar kita.

Demikian mungkin ulasan tentang alay dan berbagai sisi lainnya. Saya pribadi memang agak terganggu dengan hal-hal yang berbau alay terutama di media jejaring sosial, namun saya menghargai Alay, karena alay itu adalah sebuah fase menuju pendewasaan dan saya juga menilai alay itu adalah seninya anak muda, seni dalam tulis menulis salah satunya. Asalkan satu hal yang perlu diingat, harus ada batasan yaitu tidak membuat orang lain di sekitar kita terganggu.

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 5)
Loading...
Phisca Aditya Rosyady
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Korea Selatan Periode 2017-2018. Ketua Indonesian Muslim Student Society in Korea Periode 2016-2017. Lulusan master di Computer Science and Engineering Seoul National University, pernah menjadi Researcher Assistant di Sungkyunkwan University, Korea. Suka traveling, menulis, coding, dan blogging. Memiliki semboyan, beraksilah niscaya Allah akan mereaksikan ikhtiarmu!

Lihat Juga

Teater Kehidupan

Figure
Organization