Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tidak Ada yang Luput, Semua dalam Genggaman-Nya

Tidak Ada yang Luput, Semua dalam Genggaman-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – Firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١٨١﴾ (Q.S. Al-Baqarah [2]: 181)

وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿٨٠﴾ (Q.S. Al-An’am [6]: 80)

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ ﴿٢١﴾ (Q.S. Al-Hijr [15]: 21)

Ilustrasi (inet)

Di tulisan sebelumnya, Apakah Filsafat Dapat Dipadukan dan Disejajarkan dengan Agama?, filsafat emanasi (نَظَرِيَّةُ الْفَيْضِ) saduran filsafat Aristoteles dan Platinos yang dijabarkan oleh Abu Nasr Al-Farabi dan Ibn Sina mengilustrasikan zat Allah seperti zat yang lemah dan tidak mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dunia, sehingga urusan dunia sepenuhnya ditangani oleh akal kesepuluh atau wujud kesebelas (الْعَقْلُ الْفَعَّالُ أَوْ الْعَقْلُ الْعَاشِرُ). Tentunya, filsafat seperti ini menempatkan keagungan dan kebesaran Allah SWT bukan pada tempat-Nya. Olehnya itu, wajar jika mereka disifati oleh Al-Qur’an sebagai kaum yang jahil terhadap hakikat-hakikat ketuhanan.

Firman-Nya:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Dan mereka tidak menyifati (menghormati) Allah dengan sifat (penghormatan) yang semestinya.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 67)

Sebelum terlalu jauh memberikan jawaban, saya mengajak pecinta hakikat-hakikat ketuhanan melihat penyifatan Al-Qur’an ini terhadap mereka di tafsir-tafsir ulama.

Fakruddin ar-Razi berkata:

(مَا قَدَرُوْا الله حَقَّ قَدْرِهَِ), artinya: mereka tidak mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya keagungan. Yang demikian itu karena mereka melihat bahwa Allah punya sekutu dan tidak mampu menghidupkan yang mati, sementara bumi dan langit di dalam genggaman dan kesanggupan-Nya.”[[1]]

Syekh Muhammad Thahir bin Asyur berkata:

(مَا قَدَرُوْا اللهَ), artinya: mereka tidak mengetahui keagungan-Nya, sehingga mereka tidak menyucikan-Nya dari segala wacana distorsif yang menyalahi kemuliaan zat-Nya, seperti menyekutukan Allah.”[[2]]

Hematnya, buah-buah pikiran yang lahir dari filsafat emanasi (نَظَرِيَّةُ الْفَيْضِ) wajib dijauhi karena ia terlalu jauh menyimpang dari rel-rel ketauhidan yang mengagungkan dan memuliakan Allah dengan sebenar-benarnya kemuliaan dan keagungan.

Dengan menyadari hakikat-hakikat ketuhanan yang dikoleksi ayat-ayat di atas, ulama-ulama ilmu kalam pun terpanggil untuk menjawab dan meruntuhkan hasil garapan filsafat tersebut.

Di sini saya mengajak Anda sekalian menyimak dan menelaah pernyataan Imam Aduddin al-Îjî di al-Mawâqif dan as-Sayyid as-Syarif al-Jurjâni, pensyarah buku ini, keduanya berkata:

Di antara wacana distorsif para filosof: (Seandainya) Allah (ada, apakah Dia mengetahui hal-hal kecil (parcial) atau tidak? Opsi pertama batil, karena seandainya tidak seperti itu, pasti terjadi perubahan di dalam diri-Nya (zat-Nya) mengikuti perubahan objek) dari satu kondisi ke kondisi lain. Contohnya Said, ia kadang berdiri dan duduk. Tentunya, ilmu wajib menyesuaikan diri dengan objek pengetahuan, sehingga ia senantiasa berubah mengikuti perubahan obyeknya. (Olehnya itu, Zat Allah bukanlah) dengan penjabaran seperti ini (kekal) karena ia bersentuhan dengan objek-objek yang senantiasa berubah dan mengalami kemusnahan. (Dan opsi kedua pun batil, karena kita mengetahui) tanpa pikir panjang (bahwa kreasi-kreasi Allah yang begitu sempurna) terlihat di objek-objek parcial (tidak mungkin lahir dari kebodohan).

(Jawabnya: opsi pilihan kami, Allah mengetahui objek-objek parcial, dan perubahan) yang diprediksikan di ilmu Allah pada dasarnya (tidak menghendaki perubahan zat-Nya, tetapi perubahan itu di penamaan saja), artinya: perubahan itu bukan pada sifat-sifat Allah, karena ilmu-Nya satu yang meliputi seluruh objek, sehingga jika mereka berubah, sifat ilmu Allah tidak ikut berubah, tetapi yang berubah adalah penamaan yang lahir dari keterlibatan sifat itu terhadap objek-objek tersebut.[[3]] Olehnya itu, perubahan seperti ini hanya sebatas penamaan saja, bukan perubahan hakiki pada sifat-sifat Allah, dan (itu boleh) terhadap-Nya.”[[4]]

Hematnya, ilmu Allah meliputi seluruh objek-objek parcial dan itu tidak menghendaki perubahan terhadap zat-Nya setiap kali bersentuhan dengan mereka karena ilmu Allah satu untuk semua objek.

Jika mereka bertanya: “Tolong jabarkan lebih lanjut dengan dalil-dalil kuat terhadap ilmu Allah yang menyeluruh?”

Di sini saya mengajak pecinta hakikat-hakikat ketuhanan menelaah dua teks pernyataan Ustadz Said Nursi.

Di teks pertama beliau berkata:

“Lihat rezeki-rezeki makhluk hidup –manusia salah satu contohnya- yang terpenuhi dengan apik dan teratur di balik layar alam gaib!

Lihat semua kehidupan bayi makhluk-makhluk hidup! Rezeki mereka, yaitu air susu ibu, yang senantiasa mengalir seperti mata air suci, bersih, dan menyegarkan! Lihat keindahan memesona ini, keindahan rahmat Allah yang Maha Memelihara!

Lihat seluruh jenis entitas kehidupan! Bagaimana hikmah ilahi menciptakan mereka seperti buku besar yang sarat dengan hikmah, sehingga satu huruf dari buku itu terdiri dari ratusan kalimat, setiap kalimat terdiri dari ratusan baris, setiap baris terdapat seribu bab, dan setiap bab ribuan buku-buku kecil? Saksikan keindahan tiada tara ini, keindahan hikmah-hikmah ilahi!

Lihat alam dan isinya! Keadilan ilahi menghimpun mereka dalam satu neraca, melanggengkan keseimbangan benda-benda langit dan bumi, mengatur dan menempatkan mereka di tempat yang paling baik dan cantik dengan begitu apik, dan menganugerahkan kehidupan kepada semua makhluk hidup. Dasar keadilan ini menghendaki penegakan kebenaran dan hukuman terhadap mereka yang melampaui batas. Lihat keindahan memukau ini, keindahan keadilan ilahi!

Lihat manusia! Allah yang Maha Menjaga menulis sejarah hidup setiap manusia di kekuatan memori ingatan mereka yang ukurannya tidak melebihi besar satu biji gandum, menyimpan sejarah hidup tumbuhan dan pepohonan di biji-biji mereka, dan memberikan makhluk hidup apa saja yang dapat menjaga kelangsungan hidupnya, seperti: alat-alat lahiriah dan batiniah. Lihat –sebagai contoh-: sayap lebah dan jarum penyegatnya, duri-duri tumbuhan berduri yang siap meluncur seperti tombak dan kulit-kulit keras yang mengitari biji-bijian! Lihat keindahan sentuhan kreasi ilahi, keindahan pemeliharaan Zat yang Maha Memelihara!

 Lihat apa yang ada di hamparan makanan yang tidak terkira ini, seperti: bau harum dengan aneka rasa, warna-warna yang cantik memukau, cita rasa yang enak dan beda! Kemudian telaah alat-alat tubuh makhluk hidup! Bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan tingkat rasa dan kenikmatan yang lahir dari mereka sendiri! Saksikan keindahan manis ini yang tidak ada bandingannya, keindahan anugerah rabbani!”[[5]]

Di teks kedua beliau berkata:

“Kitab besar ini, yaitu alam, tertulis di lembaran-lembarannya, yaitu permukaan bumi, dan tertulis di salah satu malzamahnya (brosur yang terdiri dari 8 lembaran atau lebih), yaitu musim semi, 300.000 jenis buku yang berbeda, yaitu flora dan fauna, setiap dari mereka seperti kitab. Keduanya tertulis dengan begitu rapi, apik, tanpa bercampur baur, jauh dari kesalahan, lupa, dan tertulis dengan teratur dan sempurna. Bahkan, termaktub di setiap kalimat buku itu, seperti pohon, syair yang sempurna lagi memesona, dan di setiap titiknya, seperti biji, indeks kitab itu. Sungguh ini nampak terlihat jelas di hadapan kita. Tentunya, ini menunjukkan bahwa di balik itu ada pena yang tidak hentinya menulis. Olehnya itu, Anda sekalian pasti sudah bisa mencerna sejauh mana makna dan hikmah setiap kalimat di kitab besar ini, yaitu alam, menunjukkan kebesaran penulisnya, Allah yang Maha Agung dan Suci. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang Anda baca dari ilmu hikmah segala sesuatu dan seni baca tulis. Dengan neraca dan pandangan universal terhadap alam raya ini Anda mengetahui kebesaran dan keagungan Sang Maha Pencipta dengan (اللهُ أَكْبَر), penyucian Zat-Nya dengan (سُبْحَانَ الله), dan pujian terhadap-Nya dengan (الْحَمْدُ للهِ)

Demikianlah, setiap disiplin ilmu menuntun Anda untuk mengenal lebih dekat Sang Maha Pencipta alam ini dan mengetahui manifestasi nama-nama-Nya (Asmaul Husna), dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.[[6]]

Di sini saya hanya meminta Anda membujurkan perhatian ke paragraf yang digarisbawahi di kedua teks tersebut. Tentunya, Anda dapat menjelaskannya lebih jauh dengan melihat dan mencerna kosakata-kosakata penciptaan di alam raya ini dari huruf A hingga Z. Setiap dari abjad itu seperti indeks yang meliputi pelbagai vokabuler penciptaan yang tidak terhingga. Jika Anda telah menyadari ini, Anda diminta mengambil huruf (M) sebagai indeks penciptaan entitas kehidupan. Di indeks huruf (M) ini terdapat kosakata-kosakata penciptaan yang tidak terhitung, seperti: manusia, mentari, mars, dan merkerius. Manusia sendiri seperti buku induk yang meliputi pelbagai riset dan kajian dari pelbagai disiplin ilmu pula. Di sana ada ilmu anatomi tubuh, sosial kemasyarakatan, akhlak, politik, kesehatan jasmani, dan kedokteran. Setiap disiplin ilmu itu proyek ilmiah terbuka terhadap para saintis yang telah menulis ribuan buku sejak ilmu itu mulai dikenal dan digeluti sampai saat sekarang, bahkan apa yang akan datang dari buku-buku mungkin jauh lebih banyak dari apa yang telah tertulis. Siapa yang membuka tingkat kecerdasan mereka sehingga buku-buku itu hadir di tengah-tengah mereka? Siapakah yang menuntun mereka meramu teori-teori fisika dan kimia sehingga melahirkan penemuan-penemuan bermanfaat? Tingkat kecerdasan manusia terbatas, tetapi ilmu Allah tidak ada batasnya. Jika mereka mampu mendatangkan jutaan buku, meskipun pengetahuan itu sendiri terbatas, bagaimana dengan Allah yang ilmu-Nya hanya Dia yang Tahu? Dia mengetahui yang nampak dan tersembunyi.

Di ilmu anatomi itu sendiri –sebagai bukti- terdapat beberapa cabang, Seperti: Anatomi Makroskopis, Mikroskopis, Regional, Sistemik, dan lain-lian. [[7]]

Anatomi Sistemik –sebagai salah satu contoh- mempelajari kinerja dan fungsi setiap sistem tubuh, seperti: otot, jantung, paru-paru, dan lainnya. Di sistem otot saja jutaan buku hadir memenuhi perpustakaan dunia dengan aneka ragam bahasa. Bahkan, di otot sendiri, sebelum lebih jauh menyebutkan nama-nama otot, terdapat bagian dan jaringan otot, seperti di bagian otot: sarkolema, sarkoplasma, miofibril, dan miofilamen. Di jaringan otot, seperti: otot polos, lurik, dan otot cardiak. [[8]] perbendaharaan kosakata otot ini telah melahirkan jutaan buku yang memuat aneka ragam informasi. Jika demikian halnya, bagaimana dengan setiap disiplin setiap jenis otot itu sendiri? Pastinya, karya-karya yang lahir dalam hal ini lebih banyak lagi. Jika riset dan buku-buku ilmiah dari hari ke hari bermunculan seperti jamur-jamur di musim hujan dengan aneka bentuk dan warna? Bagaimana dengan ilmu Allah sendiri, Tuhan seluruh makhluk di kosmos ini?

Bukankah setiap buku yang lahir membeberkan laporan-laporan ilmiah sepatutnya menambah keyakinan kita bahwa Allah itu senantiasa hadir memenuhi rongga-rongga kehidupan manusia, khususnya –kaitannya dengan tulisan ini- kehidupan ilmiah para saintis.

Yakinilah itu seperti keyakinan Ibn Rusyd tentang fungsi ilmu anatomi tubuh di alam ketauhidan! Di sini beliau menyuarakan pernyataan monumental yang sepatutnya ditulis dengan tinta emas, beliau berkata:

“Barang siapa yang menggeluti dunia anatomi, keimanannya terhadap Allah pasti menebal.”[[9]]

Hematnya, jika dunia sains mampu mengetahui hal-hal terkecil dan paling rumit, kenapa di antara mereka masih ada dengan begitu lancang mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui hal-hal sepele yang dilakukan manusia? Ketahuilah! Tidak ada yang luput dari-Nya, semuanya dalam genggaman-Nya.

Firman-Nya:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ ﴿٥﴾ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ ﴿٦﴾

“Allah yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy. 6. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya, dan semua yang ada di bawah tanah. 7. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi”. (QS. Thaha [20]: 5-7)

Di penghujung tulisan singkat ini saya mengajak pemerhati hakikat-hakikat ketauhidan dan pecinta filsafat Islam mengakui keterbatasan ilmu pengetahuan kita selaku manusia dan meyakini ilmu Allah yang Maha Luas Mengetahui segala perkara dengan menyucikan Zat-Nya: (سُبْحَانَكَ، لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاََّ ماَ عَلَّمْتَنَا، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ)

 


Catatan Kaki:

[1] Lihat: at-Tafsir al-Kabîr, vol. 27, hlm. 15

[2] Lihat: at-Tahrîr wa at-Tanwî r, vol. 24, hlm. 61

[3] Contohnya, Perubahan kondisi said dari duduk ke kondisi berdiri tidak menghendaki perubahan sifat ilmu dan zat Allah. Yang berubah hanyalah penamaan ilmu itu di saat bersentuhan dengan kondisi-kondisi Said. Seperti, di saat Said berdiri, kita mengatakan Allah mengetahui Said sedang berdiri, dan di saat ia duduk, kita mengatakan Allah mengetahui Said sedang duduk. Perubahan pada ilmu Allah hanya sebatas itu, bukan perubahan hakiki yang menghendaki perubahan zat Allah setiap kali objek pengetahuan-Nya berubah.

[4] Lihat: Aduddin al-Îji, Abdurrahman bin Ahmad (w 756 H/1355 M), al-Mawâqif, dan pensarahnya, Syarif al-Jurjani, Ali bin Muhammad bin Ali (w 816 H/1413 M), ditahkik dan dikomentari oleh Dr. Ahmad al-Mahdi, ad-Dar al-Islamiyah, Mansurah, hlm. 18-19

[5] Lihat: as-Syuâât (as-Syuâ’ ar-Râbi’), hlm. 84-85

[6] Lihat: Risalah at-Tsamrah min Syajarah al-Îmân, hlm. 43

[7] Di sana terdapat 9 cabang ilmu Anatomi, yaitu:

        1. Anatomi Makroskopis: Ilmu anatomi yang mempelajari susunan setiap organ tubuh dengan memisahkan bagian-bagian tubuh.

     2. Anatomi Mikroskopis: Ilmu anatomi yang mempelajari susunan setiap organ tubuh dengan mikroskop, misalnya mempelajari tentang sel dan penyelidikian tentang jaringan.

     3. Anatomi Sistemik: Ilmu anatomi yang mempelajari setiap sistem yang terdapat dalam tubuh. Setiap sistem tubuh punya jaringan yang sama dan membentuk fungsi yang lebih khusus, misalnya sistem otot, sistem jantung, dan lainnya.

     4. Anatomi Regional: Ilmu anatomi yang mempelajari letak organ-organ tubuh. Ilmu ini sangat penting, khususnya di saat melakukan pembedahan (operasi), misalnya mengetahui letak saraf, pembuluh darah, dan lainnya.

     5. Anatomi Perkembangan (embriologi): Ilmu anatomi yang mempelajari perubahan-perubahan sel sejak hari pertama kehamilan hingga anak lahir.

     6. Anatomi Permukaan (surface anatomy): Ilmu anatomi yang mempelajari letak organ-organ tubuh yang diproyeksikan ke permukaan tubuh.

     7. Anatomi Perbandingan (Comperative anatomy): Ilmu anatomi yang mempelajari perbedaan dan persamaan susunan tubuh manusia dengan makhluk yang lebih rendah (binatang).

     8. Anatomi Radiologi (anatomy X-ray): Ilmu yang mempelajari susunan organ-organ tubuh manusia secara radiologi.

     9. Anatomi Antroologi: Ilmu yang mempelajari ukuran tubuh manusia yang berbeda antara satu bangsa dengan bangsa lain.

Lihat: cabang-cabang ilmu anatomi di website ini: http://proners.blogspot.com/2012/03/cabang-cabang-ilmu-anatomi.html

[8] Jaringan otot adalah kumpulan sel-sel otot yang memiliki bentuk, struktur dan fungsi yang sama.

     A. Bagian-bagian otot:

1. Sarkolema

Sarkolema adalah membran yang melapisi sel otot yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap otot.

     2. Sarkoplasma

Sarkoplasma adalah cairan sel-sel otot

     3. Miofibril

Miofibril adalah serat-serat otot.

     4. Miofilamen

Miofilamen adalah benang-benang/filamen halus yang berasal dari miofibril.

Miofilamen ada dua macam, yaitu:

  1. miofilamen homogen (terdapat pada otot polos).
  2. miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan otot rangka/otot lurik).

Di dalam miofilamen terdapat protein kontaraktil yang disebut aktomiosin (aktin dan miosin), tropopin dan tropomiosin. Ketika otot kita berkontraksi (memendek), yang sedang bekerja adalah protein aktin dan jika otot kita melakukan relaksasi (memanjang) maka miosin yang sedang bekerja.

     B. Jaringan otot terdiri dari:

     1. Otot Polos (otot volunter)

Otot polos adalah otot yang mempunyai bentuk polos dan bergelondong. Cara kerjanya tidak disadari (tidak sesuai kehendak)/invontary, memiliki satu nukleus yang terletak di tengah sel. Otot ini biasanya terdapat pada saluran pencernaan, seperti: lambung dan usus.

     2. Otot Lurik (otot rangka)

Otot rangka jenis otot yang melekat di seluruh rangka. Cara kerjanya disadari (sesuai kehendak), bentuknya memanjang dengan lurik-lurik, memiliki banyak nukleus yang terletak di tepi sel. Contohnya otot lengan.

3. Otot Jantung (otot cardiak)

Otot jantung hanya terdapat di jantung. Otot ini otot yang paling istimewa karena memiliki bentuk yang hampir sama dengan otot lurik. Ia mempunyai lurik-lurik, bedanya dengan otot lurik hanya karena otot lurik memiliki satu atau dua nukleus yang terletak di tengah/tepi sel, sementara otot jantung satu-satunya otot yang memiliki percabangan yang disebut duskus interkalaris. Otot ini juga memiliki kesamaan dengan otot polos dalam cara kerjanya, yaitu bekerja dengan sendirinya tanpa disadari (involuntary).

        Lihat: http://organisasi.org/definisi-pengertian-jaringan-otot-serta-bagian-otot-dan-jenis-jaringan-otot

[9] Abdul Mu’ti Bayoumi, al-Falsafah al-Islâmiyyah min al-Masyriq ila al-Maqrib, vol. 3, hlm. 277

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT