Topic
Home / Berita / Opini / Tinggalkan Kedokteran Modern?

Tinggalkan Kedokteran Modern?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Beberapa waktu lalu seorang teman sejawat dokter menulis pengalamannya di daerah tempatnya bertugas. Ketika ia mengikuti suatu pengajian umum, pembicara pada pengajian tersebut menyatakan bahwa dunia kedokteran yang sekarang ini merupakan salah satu invasi pemikiran Yahudi-nasrani. Mulai dari penggunaan antibiotik oleh dokter, melarang adanya vaksin, hingga menyinggung profesi dokter secara terang-terangan dengan menyebutkan obat-obat dari dokter itu barang kimia yang merusak tubuh, tidak halal, produk Yahudi untuk merusak orang Islam. Si pembicara kebetulan seorang herbalist.

Penulis sendiri juga pernah menerima email yang mempromosikan sebuah produk herbal, mengajak menghindari obat-obatan dari dokter yang merupakan bahan kimia beracun, untuk beralih ke pengobatan herbal yang alami, bebas efek samping dan halal.

Perdebatan mengenai kedokteran modern versus pengobatan alternatif sudah beberapa kali penulis dengar. Ada rekan sejawat yang mengeluh teman mengaji yang tidak mau mengimunisasi anaknya, dan kemudian anaknya menunjukkan gejala pertusis. Atau ibu seorang teman yang menderita hipertensi dan diabetes mellitus, menolak minum obat dokter, beralih ke pengobatan herbal, kembali berobat ke dokter dengan stroke dan kerusakan ginjal.

1. Dijamin Sembuh, Tanpa Efek Samping?

Obat-obatan yang digunakan di kedokteran modern selalu merupakan hasil dari serangkaian penelitian dan uji klinis, yang intinya adalah mengetahui manfaat dan keamanannya. Oleh karena itu obat-obatan yang digunakan dokter umumnya sudah diketahui manfaat dan resikonya. Sehingga penggunaan suatu obat selalu berdasarkan pertimbangan apakah manfaatnya melebihi resikonya. Bagi dokter, tidak ada jenis terapi yang 100% manjur, dan tidak ada terapi yang tanpa efek samping. Kalau kita baca penelitian atau textbook tentang manfaat sebuah terapi, selalu kita temukan angka kegagalan pengobatan, walaupun mungkin sedikit, dan kejadian efek yang tidak diharapkan dari terapi tersebut.

Oleh karena itu iklan pengobatan alternatif dengan jargon “dijamin sembuh” dan “bebas efek samping” yang sering kita lihat ditempel di pintu angkot selalu membuat prihatin. Suatu terapi yang dikampanyekan sebagai “bebas efek samping” sesungguhnya lebih tepat kalau disebut “belum diketahui efek sampingnya”, karena belum ada penelitian ilmiah yang menelitinya. Sehingga pilihan pengobatan adalah ‘terapi yang sudah diketahui efek sampingnya versus terapi yang belum diketahui efek sampingnya’, BUKAN ‘terapi yang berefeksamping versus terapi tanpa efek samping’.

Pengalaman juga menunjukkan adanya pasien-pasien yang mengalami gangguan lambung, kerusakan ginjal, dan kerusakan hati diduga disebabkan karena mengkonsumsi jamu. Kasus Sindrom Steven Johnson (reaksi alergi yang berat) juga pernah dilaporkan akibat obat herbal.

Masalah manfaat pun tidak mudah untuk disimpulkan. Umumnya pengobatan alternatif mengandalkan kesaksian beberapa orang yang mendapat manfaat dari terapi tersebut. Di kedokteran modern, kesaksian beberapa orang tidak cukup kuat sebagai bukti manfaat. Logika sederhananya, kalau ada 1000 pasien yang diterapi, dan yang memberikan kesaksian sembuh 10 orang, maka angka kesembuhannya sangat rendah. Belum lagi kalau ditelusuri bagaimana kelanjutan perjalanan penyakit dari pasien tersebut, keakuratan diagnosis, metode, dan lain-lain.

Komunikasi yang baik antara kedokteran modern dengan pengobatan alternatif (termasuk pengobatan cara Nabi atau thibunnabawi) sebenarnya sudah ditunjukkan dengan adanya terapi alternatif yang sudah diakui oleh kedokteran modern. Misalnya akupunktur yang dulu dianggap tidak ilmiah, saat ini sudah ada perhimpunan dan pendidikan spesialis akupunktur. Walaupun belum seluruh manfaatnya diakui, tapi sekarang beberapa manfaat akupunktur sudah ada dasar ilmiahnya melalui penelitian-penelitian yang mendukung.

Contoh lain adalah habbatussauda (jinten hitam, Nigela sativa), yang berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW dapat digunakan untuk semua penyakit. Di kedokteran, obat yang paling mungkin untuk dapat digunakan untuk banyak penyakit adalah anti oksidan dan imunomodulator (penguat kekebalan tubuh). Dan sekarang sudah ada pabrik farmasi yang memproduksi habbatussauda sebagai imunomodulator dalam bentuk produk farmasi yang diresepkan. Walaupun uji klinisnya belum selesai, tapi manfaatnya sudah diteliti secara ilmiah. Sayangnya orang non-muslim yang memproduksinya. Kaum muslimin sendiri tampaknya kurang tertarik untuk menjadikan habbatussauda sebagai bagian dari kedokteran modern, malah ada yang menganjurkan untuk meninggalkan kedokteran modern.

2. Dokter Seutuhnya

Perbincangan tentang kedokteran modern dan pengobatan cara Nabi SAW mendorong saya untuk kembali membuka salah satu rujukan utama thibunnabawi (pengobatan cara Nabi Saw), yaitu buku At Thib an Nabawi –nya Ibnu Qayyim AlJauziyah (Praktek Kedokteran Nabi, Hikam Pustaka, atau Buku IV Terjemah Kitab Zadul Ma’ad, Penerbit Pustaka AlKautsar). Namun semakin saya membaca buku tersebut, banyak hal yang justru sejalan dengan kedokteran modern, atau potensial untuk saling melengkapi.

Dalam buku At Thib an Nabawi, Ibnul Qayyim al Jauziyah menulis begini:

“Hendaknya seorang dokter memiliki keahlian di bidang penyakit hati dan ruh serta pengobatannya. Sebab hal itu adalah pangkal yang agung untuk pengobatan badan, sebab terpengaruhnya badan dan sifat alamiahnya oleh jiwa dan hati adalah kenyataan yang telah terbukti. Dokter yang mengetahui berbagai jenis hati dan ruh serta pengobatannya maka ia adalah dokter yang sempurna. Dan yang tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, meski ia ahli dalam pengobatan segi alamiah dan badaniah maka ia hanyalah setengah dokter. Setiap dokter yang tidak mengobati pasien dengan membersihkan hati pasien itu dan memperbaikinya dan dengan memperkuat ruhnya dengan sedekah dan perbuatan baik, dan dengan mengarahkan perhatian kepada Allah dan akhirat maka ia bukanlah seorang dokter, melainkan seorang yang berlagak dokter yang cacat..”

Bila seorang dokter bisa memiliki keahlian medis yang bertanggung jawab, memiliki pola pendekatan yang lebih humanis terhadap manusia sebagai insan spiritual, memahami secara cukup masalah hati, tidak memandang pasien sebagai makhluk material semata apalagi menjadikan pasien sebagai sumber perolehan ekonomi, maka ia adalah dokter yang sebenarnya.

Konsep holistik ini sebenarnya bukan hal yang asing dalam pendidikan kedokteran modern. Melalui berbagai modul, mahasiswa kedokteran dididik untuk memahami pasiennya sebagai manusia yang utuh dengan segenap karakter dan latar belakangnya. Dokter juga diajarkan untuk memahami bahwa penyakit terjadi karena adanya interaksi antara vector (si penyebab penyakit), host (manusia), dan environment (lingkungan), sehingga mengobati orang sakit juga harus mengintervensi hal-hal tersebut. Dalam versi lain, status kesehatan dipengaruhi genetika, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan.

Kendalanya ketika lulus menjadi dokter, pendekatan tersebut sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan karena berbagai sebab, misalnya jumlah pasien yang banyak, sehingga alokasi waktu untuk berkomunikasi dengan pasien semakin kurang. Padahal jika menurut Ibnu Qoyyim, hal ini akan membuat sang dokter menjadi “setengah dokter”.

3. Kaidah Sebab Akibat.

Buku At Thib an Nabawi menjelaskan makna hadits Nabi Muhammad SAW, “Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah” (HR. Muslim).

Setiap penyakit ada penyebabnya, saat dokter/terapis tidak mampu mendiagnosis penyakit atau obatnya tidak mengenai sasaran, maka penyembuhan tidak berhasil. Tatkala obat mengenai sasaran yang tepat, maka penyakit akan sembuh dengan izin Allah. Penyakit-penyakit materi selalu disertai dengan penyebab, maka yang pertama kali dilakukan adalah menentukan sebab terjadinya, kemudian penyakitnya, dan kemudian obatnya.

Dari sisi ini, kedokteran modern telah memberikan kontribusinya dengan baik. Penelitian dalam dunia kedokteran telah membuka penyebab berbagai penyakit, sehingga memberikan jalan ditemukannya terapi untuk penyakit tersebut serta cara untuk mencegahnya. Namun, ilmu kedokteran modern “terlalu jujur” mengakui bahwa banyak penyakit yang belum diketahui penyebabnya, masih berupa dugaan atau hipotesa, atau sekalipun sudah diketahui penyebabnya, obat yang ada belum dapat menyembuhkan. Sedangkan pengobatan alternatif terkadang sangat percaya diri dengan terapinya, walaupun bukti-buktinya masih lemah.

Dengan demikian, kedokteran modern juga mengajarkan sang dokter untuk tidak bersikap takabur, dan tidak bersikap bahwa dirinya sebagai penyembuh. Seefektif apapun sebuah terapi, tetap ada kemungkinan kegagalannya. Seaman apapun suatu obat, tetap ada kemungkinan timbulnya efek yang tidak diharapkan.

Yang sering terjadi kemudian adalah ketidakpuasan pasien karena dokternya tidak mampu menyembuhkan, keharusan meminum/disuntik obat seumur hidup, atau mendapat terapi yang mahal dan tidak nyaman seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi. Maka beralihlah pasien-pasien itu ke terapi lain yang berani memberi harapan kesembuhan, walaupun cara kerja, manfaat dan efek samping terapi tersebut masih belum jelas, sehingga justru bertentangan dengan kaidah sebab-akibat.

4. Metode Pengobatan

Metode pengobatan yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW cukup banyak. Dari sisi metode preventif/pencegahan sebenarnya sejauh ini tidak ditemukan pertentangan dengan kedokteran modern. Bagaimana menjaga makan, kebersihan diri dan lingkungan adalah hal-hal yang manfaatnya ini sudah dibuktikan oleh kedokteran modern.

Lain halnya dengan metode kuratif dalam buku At Thib an Nabawi, seperti mengobati demam, diare, luka, kejang, dan lain-lain. Beberapa metode belum diakui kedokteran modern serta belum ada data yang cukup untuk membuktikan manfaat dan resikonya.

Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, pakar kedokteran Islam dari IIUM (International Islamic University of Malaysia) berpendapat bahwa thibunnabawi tidak hanya mencakup pengobatan pada zaman Nabi Muhammad SAW., tapi juga mencakup pengobatan hari ini dan masa depan.

Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa “Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah” merupakan dorongan bagi kita untuk mencari cara dalam masalah pengobatan. Ini menunjukkan bahwa tradisi pengobatan Nabi tidak hanya berhenti pada praktek pengobatan yang diajarkan beliau, tetapi lebih dari itu, mendorong manusia untuk mencari dan bereksperimen dengan model pengobatan baru. Dan cara yang tepat untuk mengembangkan pengetahuan medis adalah melalui penelitian dan mencari tanda-tanda Allah SWT di alam semesta.

Prof. Dr. Omar Hasan Kasule menyimpulkan bahwa sifat dari thibunnabawi tidak tetap, tapi bisa berkembang berdasar ijtihad dan penelitian empiris yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Metode kuratif yang dicontohkan Nabi SAW bukanlah suatu pembatasan untuk tidak mengembangkan metode lain. Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kedokteran. Ilmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di masa itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Membatasi kedokteran Islam hanya pada metode yang diterapkan pada zaman Nabi SAW dan menutup mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan adalah suatu bentuk kemunduran. Padahal para ilmuwan dan ulama Islam yang telah meletakkan dasar-dasar ilmu kedokteran modern.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (51 votes, average: 8,73 out of 5)
Loading...
Avatar
Lahir di Tangerang tahun 1979. Telah menikah dan sudah dikaruniai 3 orang anak. Saat ini tinggal di Jakarta. Lulus dari Fakultas Kedokteran UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Magister Kesehatan Masyarakat UMJ. Aktif sebagai Ketua BSMI Jakarta dan Sekjen Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI), Kepala IGD RSIA Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan dan Muhammadiyah Disaster Management Center. Saat ini bekerja sebagai Pengajar Emergency First Aid Course BSMI Jakarta dan Dokter IGD RSIA Muhammadiyah Jakarta Selatan. Pernah menerima penghargaan dari Menteri Kesehatan RI untuk Tim Kesehatan Penanggulangan Darurat Pangan Kab. Yahukimo, Papua tahun 2006.

Lihat Juga

Bisakah Saya Renovasi Rumah 200 Juta?

Figure
Organization