Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Jangan Lagi-Lagi

Jangan Lagi-Lagi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (riefighter.multiply.com)

dakwatuna.com – “Kamu pernah membonceng motor dengan duduk menyamping?” tanya Fulan, satu ketika.

“Seperti perempuan?” aku memperjelas maksud pertanyaannya.

“Ya, seperti perempuan jaman dulu” Fulan mengiyakan sekaligus merevisi jawabanku.

Aku menggeleng. “Belum pernah, memangnya kenapa?”

“Aku pernah, sekali. Dan aku kapok, tak ingin mengulanginya lagi!” jawab Fulan sambil tersenyum getir.

Tak perlu bertanya, Fulan sudah tahu arti tatapanku, apa yang ada dalam benakku. Aku menunggu penjelasannya.

Masih sambil tersenyum getir, Fulan menceritakan kejadian yang menurutnya telah memberi satu pelajaran berharga, yang tak ingin ia ulangi lagi.

Cerita dimulai dari kebiasaan Fulan mendatangi masjid Jami’ Al Ula untuk ‘Jum’atan’ dengan berjalan kaki. Selain jarak antara masjid dengan kontrakannya yang tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima ratus meter, setiap langkah yang akan dihitung dan diganjar dengan pahala kebaikan sekaligus menggugurkan satu keburukan, menjadi alasan Fulan untuk selalu berjalan kaki, pulang dan pergi. Dengan halus Fulan akan menolak tawaran tetangga ataupun sahabat yang akan membonceng dengan motornya. Tapi tidak untuk kali ini. Fulan tak bisa menolak ketika seorang jamaah menghentikan laju motornya beberapa langkah di depan Fulan. Tak ingin membuatnya tersinggung, akhirnya Fulan menerima tawaran tersebut.

Selain ribet bila harus menggulung sarung, ditambah jarak masjid yang tinggal sekitar dua ratus meter lagi, akhirnya Fulan membonceng dengan posisi duduk menyamping. Tapi apa yang kemudian terjadi? Belum sampai seratus meter motor berjalan, tiba-tiba Fulan merasa kepalanya pusing. Fulan yakin, pusing yang ia rasakan karena ia belum pernah membonceng motor dengan posisi duduk seperti ini. Fulan tegang. Hal ini pun sempat dirasakan oleh jamaah yang memboncengnya yang merasa motornya jauh lebih berat dari semestinya dan sulit ia kendarai dari biasanya.

Sampai di masjid, rasa pusing itu semakin menjadi. Hingga khatib berdiri di mimbar, rasa pusing itu masih ada, dan mulai agak reda setelah Fulan kembali ke kontrakannya.

“Barangkali Allah menegurku, karena aku telah duduk seperti duduknya perempuan!” Fulan terkekeh, mengakhiri ceritanya.

“Bisa jadi, karena tidak diperbolehkan laki-laki meniru dan menyerupai wanita, demikian pula sebaliknya” jawabku sependapat dengannya.

“Tapi bener lho, sebelumnya aku merasa baik-baik saja. Setelah motor berjalan, baru beberapa meter aku langsung merasa pusing. Mau turun atau berganti posisi, sudah kepalang tanggung.” Fulan menambahkan. “Apa karena membonceng motor dengan posisi duduk menyamping membuat pusing, makanya perempuan jaman sekarang banyak yang membonceng motor dengan menghadap ke depan, seperti laki-laki?”

Aku tak langsung menjawab. Mendengar tekanan suara Fulan saat menyebut kata perempuan zaman sekarang, perlahan aku mulai paham mengapa tadi Fulan mengoreksi jawabanku dengan menyebut perempuan zaman dulu.

“Sering terlihat di jalan, perempuan jaman sekarang banyak yang membonceng motor dengan posisi duduk seperti laki-laki. Parahnya, itu mereka lakukan tanpa didukung pakaian yang memadai. Entah mereka sadar atau tidak, seringkali posisi duduk seperti itu membuat yang seharusnya tidak terlihat oleh orang lain menjadi terlihat, bahkan semakin terlihat. Apalagi ada model motor sekarang yang desain pijakan kakinya membuat posisi pembonceng lutut lebih tinggi dari pahanya.” Fulan menambahkan.

Aku masih terdiam, bingung mau menanggapi apa karena yang Fulan katakan memang benar adanya. Aku yang pulang dan pergi dari dan menuju tempatku menjemput rezeki seringkali mendapati pemandangan yang Fulan maksudkan. Kaum wanita zaman sekarang, tua muda, lebih banyak yang membonceng motor dengan posisi seperti layaknya laki-laki. Entahlah, aku belum bisa memastikan apakah ini termasuk perbuatan menyerupai laki-laki yang dilarang agama (begitu pun laki-laki yang meniru dan menyerupai perempuan), tapi yang pasti posisi duduk seperti ini jika tidak didukung pakaian yang memadai (celana panjang misalnya), bisa membuat aurat mereka menjadi terlihat, bahkan yang sudah terlihat semakin terlihat, seperti yang Fulan katakan.

Seringkali di depan, samping kanan dan kiri ku saat berhenti di pertigaan jalan, juga di sepanjang jalan menuju tempatku bekerja, beberapa kaum wanita yang hendak bekerja, anak-anak sekolah serta ibu-ibu dengan berbagai keperluannya terlihat membonceng motor dengan posisi duduk (maaf, mengangkang) padahal mereka hanya mengenakan rok atau celana pendek. Malah, pernah terlihat beberapa siswi sekolah yang mengenakan seragam bawahan panjang, tidak ragu-ragu dan tidak pula malu menyingsingkan roknya agar lebih nyaman duduk dengan posisi seperti itu. Padahal, pihak sekolah sengaja mewajibkan siswi-siswinya untuk mengenakan bawahan panjang adalah untuk mengajari dan membiasakan mereka bagaimana berpakaian yang menutup aurat. Bukan saja karena alasan agama, tapi juga alasan keamanan mereka. Tapi tujuan mulia ini sepertinya tidak atau belum sejalan dengan apa yang mereka pikirkan.

“Astaghfirullah!” seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan, tiba-tiba Fulan beristighfar, mengejutkanku.

Beberapa detik kemudian, aku ikut beristighfar. Astaghfirullah! Dua orang remaja menyalip mobil yang sedang kami kendarai dari arah kiri. Tapi bukan hanya dari arah mana yang membuat kami beristighfar, melainkan mereka yang mengendarai motor tersebut. Sekilas terlihat seorang remaja berseragam putih abu-abu duduk santai di jok belakang dengan posisi menghadap ke depan (ke arah pemboncengnya). Rok yang ia kenakan sejatinya memang panjang, tapi telah ia singsingkan sehingga tepatlah apa yang Fulan katakan.

Saudari-saudariku, entah apa yang menjadi alasanmu memilih posisi duduk seperti itu. Mungkinkah alasan kenyamanan, atau juga keamanan? Kalau memang hal itu terpaksa kau lakukan, semestinya kalian kenakan pakaian yang memadai, yang menutupi aurat kalian dengan rapat dan rapi. Jangan hanya merasa nyaman dan aman sendiri, lantas kalian tidak peduli dengan banyak pengguna jalan lainnya yang justru menjadi tidak nyaman, dan tentu saja bisa membuat mereka tidak aman di jalan. Jika hari ini masih ada di antara kalian yang seperti itu, besok-besok jangan lagi ya!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (28 votes, average: 8,18 out of 5)
Loading...

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization