Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Caraku Mengagumimu Wahai Sahabat…

Caraku Mengagumimu Wahai Sahabat…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi

dakwatuna.com – Bagaimana kabarmu sahabat?

Semoga Engkau kan tetap dengan imanmu yang kokoh, langkahmu yang tegap dan semangatmu yang mengelora. Karena kau adalah pionir dalam sekitarmu… Teruslah menebarkan kepesonaanmu. Menularkan semangatmu hinngga ajal menjemputmu. Dan kau kan tersenyum, terkejut ketika amalmu hadir dan menjadi payung dalam panasnya alam akhirat sana.

Dan sebait doa ku semoga Allah anugerahkan keistiqamahan dalam dirimu. Karena kesyukuran yang agung jika kita tetap dalam petunjukNya. Bukankah Rasul pun hingga beruban dalam mempertahankan kata itu.

Sahabat izinkan ku bercerita, tentang kau dan aku.

Masih segar benar peristiwa itu, awal mula ku memijakkan kakiku di kota itu, pertama jumpa denganmu, jabat tangan  serat dengan tekanan dan sedikit senyum yang kau sunggingkan kepadaku, memang agak terkesan cuek tapi ku memahami karena tenagamu sudah terkuras untuk mencari nafkah untuk diri dan keluargamu. Sedang waktu itu kau butuh istirahat untuk melepaskan lelah setelah setengah hari kau sibuk kerja. Tak ada peduli jua kumelihatmu, karena memang diriku adalah tipe manusia yang terkesana ketika awal bertemu.

Tapi kah kau tahu, penasaranku mulai beradu, setelah beberapa hari berinteraksi denganmu, ada rasa yang tak biasa, yang membuat semakin terpana, kau begitu beda dengan remaja lainya, yang notabene remaja indentik dengan hura-hura, pacaran dan membuang waktunya dengan sia- sia, tapi kau menghabiskan waktumu untuk ibadah dan kerja, itulah yang membuatmu istimewa.

Dan kau tahu kawan, kekagumanku semakin bertambah kala kutahu segudang prestasimu. Kegigihanmu dalam menggapai asa, ketegaranmu dalam menghadapi kerasnya kehidupan, dan jerih payah ketika kau gayu senjatamu untuk berusaha mengejar segudang impianmu. Semua menjadikanku untuk bercermin dalam menjalani kehidupanku. Ya… semua itu seakan memaksaku untuk bercermin, diriku yang dilahirkan dari keluarga yang mampu, hanya sedikit prestasi yang kutorehkan. Malu dengan diri yang tak bersyukur atas semua anugerah yang Allah berikan, dengan menyia-nyiakan segalanya.

Kawan, kau adalah bak amunisi bagiku, kau adalah ibarat bahan bakar untukku, kau adalah tetesan embun dalam kegersangan jiwaku.tak lebih jika ku mengatakan itu, karena memang setiap ku terpuruk kau berusaha untuk menyokongku, menyemangatiku agar aku bangkit kembali dari keterpurukanku.

Semua masih teringat jelas dalam benaku, dan semua itu akan kurangkum dalam memoriku dan kujadikan amunisiku untuk melesat mengejar segala impianku. Sahabatku lewat doa-doalah ku membalasmu, maafkan jika tak pernah terucap sanjungan yang keluar dari lisan untukmu, karena itu semua hanya akan merusak segala amalmu, tahukah kau ketika salah satu sahabat dipuji, bukan gembira yang ia rasakan melainkan kemarahan hingga ia menaburkan pasir terhadap sahabat yang memujinya, karena ia takut dengan pujian itu. Ku mempunyai cara tersendiri sahabat untuk menyanjungmu, lewat lakuku yang berusaha sepertimu walau tak serupa adanya, tapi ku yakin Allah mengetahui bahwa aku mengagumimu. Sebait do’aku semoga keberkahan selalu mengiringi setiap langkahmu,dan merekatkan tali ukhuwah kita hingga menuju syurgaNya.

Untukmu yang menginspirasi diriku….

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (64 votes, average: 9,16 out of 5)
Loading...
Avatar
Terlahir di sebuah desa terpencil daerah jawa tengah yaitu Pamutih. Berkeinginan menjadi seorang penulis. Dan kini sedang merantau di daerah Depok. Bekerja sambil menimba ilmu.

Lihat Juga

Berbakti Pada Bunda tak Mengenal Waktu

Figure
Organization