Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merindu Baitullah

Merindu Baitullah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Masjidil Haram (Arab News/RoL)

dakwatuna.com – Aku sengaja bertahan meskipun sebagian besar jamaah shalat Idul Adha sudah pulang ke rumah masing-masing. Bahkan sampai semua tikar yang dihamparkan di halaman mushalla sudah selesai dirapikan, aku masih menunggu lelaki itu menyelesaikan shalat dhuhanya. Ada sesuatu yang membuatku penasaran dan ingin segera kudapatkan jawaban darinya.

Lelaki bersarung coklat itu datang kurang lebih tiga puluh menit sebelum shalat Idul Adha dimulai, hanya berselang beberapa menit setelah kedatanganku. Dia mengambil tempat duduk tepat di samping kananku. Sejak kedatangannya, dia lebih banyak menunduk. Suara takbirnya hanya samar-samar kudengar. Beberapa kali aku sempat menangkap gerakan tangannya mengusap mukanya. Lebih tepatnya menghapus air mata yang meleleh di pipinya.

Gerak tangannya yang sebisa mungkin dia sembunyikan dari orang banyak itu semakin sering kulihat ketika sang khatib mulai menyampaikan khutbah Idul Adha pagi itu. Barangkali tidak banyak jamaah yang menyadari, namun dia tak bisa menyembunyikannya dariku, yang secara diam-diam memperhatikan gerak-geriknya sejak awal kedatangannya. Aku tahu persis saat isak tangis tak dapat ditahannya, juga ketika pundaknya terguncang setiap khatib melafalkan kalimat  Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka…

“Maaf, jika karena saya kekhusyukan Mas jadi terganggu “ suaranya masih serak ketika lelaki itu menjawab pertanyaanku mengapa dia menangis saat khatib menyampaikan khutbah tadi. Wajahnya tertunduk, dia terlihat salah tingkah di depanku.

“Oh nda, justru aku yang minta maaf. Mungkin aku yang terlalu ingin tahu persoalan pribadimu“ jawabku agak gugup. Jujur aku jadi malu dan baru sadar, jangan-jangan rasa penasaranku sudah melanggar batas privasinya.

“Betul Mas, tadi saya memang menangis saat mendengar khutbah ustadz Ja’i. Bahkan sejak saya datang di mushalla ini, sebenarnya sudah tak bisa menahan perasaan saya. Saya menangis karena saya rindu Mas, rindu sekali…” suara laki-laki yang terlihat segar dengan baju koko warna hijau muda itu terhenti. Dia tertunduk, entah malu atau masih mencoba menata perasaannya.

“Mas rindu dengan keluarga? Rindu orang tua, anak atau istri ?” cecarku semakin penasaran.

Dia tak langsung menjawab. Kulihat dia menarik nafas cukup panjang. Kupastikan dia sedang menata perasaannya sebelum menjawab pertanyaanku.

“Bukan! Kedua orang tua saya hari ini justru baru datang dari kampung. Pagi tadi mereka sampai di rumah kakak saya di Cibitung. Kalau istri dan anak saya kan ada di sini, kumpul dengan saya setiap hari. Siang nanti kami akan ke sana, berkumpul dengan saudara-saudara yang lainnya. Kebetulan besok kakak saya akan mengadakan resepsi pernikahan salah anaknya.”

Aku terdiam, menunggu penjelasannya lebih lanjut. Tak lama kemudian dia pun melanjutkan ceritanya.

“Saya rindu Baitullah, Mas. Saya ingin sekali bisa ziarah ke Mekah dan Madinah. Saya ingin sujud di depan Ka’bah, bersimpuh di Arafah. Tapi semua itu masihlah mimpi, semuanya karena alasan ekonomi” kali ini lelaki ini menjawab tanpa memandang ke arahku. Diarahkan pandangannya pada atap tempat wudhu yang baru selesai dikerjakan seminggu yang lalu. Nyata sekali dia tak ingin aku melihat matanya yang kembali berkaca-kaca.

Layaknya orang yang sedang jatuh cinta, ketika rindu menyapa maka bukan hanya makan saja yang tak enak, namun tidur pun menjadi tak nyenyak. Barangkali begitulah rasa rindu yang kini menyelimuti hati dan perasaan lelaki beranak satu ini. Bisa jadi malah rasa rindu itu sudah begitu mendendam, hingga hatinya begitu mudah tersentuh hanya dengan mendengar takbir berkumandang.

Beberapa saat kami saling terdiam, menyelami perasaan masing-masing. Timbul perasaan malu dalam hatiku bila mengingat pertanyaanku tadi. Dugaanku ternyata salah, terlalu rendah dan murah mengartikan tangisannya. Dia bukan sekedar merindukan perjumpaan dengan keluarganya, tapi lebih dari itu. Dia merindukan kehadirannya di Baitullah.

Kalau keinginan untuk bisa menunaikan ibadah haji, aku rasa bukan hanya aku atau dia, tapi seluruh muslim di penjuru dunia ini memiliki keinginan yang sama. Jangankan yang belum pernah, rata-rata yang sudah pernah ibadah haji pun ingin mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Saat-saat menyimak khutbah Idul Adha adalah saat yang paling mudah menggugah perasaan haru mereka yang sudah menunaikan ibadah haji. Tak heran bila ada seorang khatib yang suaranya tiba-tiba menjadi terbata ketika menyampaikan khutbahnya. Kenangan indah di Baitullah membuat hatinya menjadi mudah tersentuh.

Tapi lelaki yang kini duduk tepat di depanku dan masih belum mau menghadapkan kembali wajahnya kepadaku sedemikian terharunya hingga tak mampu menahan tangis, padahal setahuku dia belum pernah melaksanakan ibadah haji. Kalau bukan karena manisnya kenangan, pastilah karena kerinduan yang mendalam tentang indahnya menjadi tamu Allah yang selama ini baru mampu ia bayangkan. Aku kembali merasa malu. Satu hal yang tak pernah terjadi pada diriku, meski kupastikan bahwa dalam hatiku pun sebenarnya merindukan ‘panggilan’ itu ditujukan kepadaku.

Sesaat kemudian aku tersadar. Aku yang telah membuat suasana hatinya semakin pilu, maka aku pulalah yang harus menghiburnya.

“Maaf, sekali lagi saya minta maaf jika pertanyaan saya tadi justru membuat hati Mas semakin sedih. Insya Allah keharuan yang Mas rasakan, kerinduan yang Mas tahankan, mudah-mudahan membukakan jalan dan memudahkan segala urusan untuk bisa mewujudkan mimpi menunaikan ibadah haji. Mungkin tahun sekarang belum, tahun depan siapa tahu. Bukankah Allah Maha Kaya. Juga Maha Kuasa. Bukan perkara besar bagi Nya memberikan jalan bagi Mas untuk bisa menunaikan ibadah haji. Jagalah terus niat dan keinginan, gunakan waktu menunggu ini untuk mengumpulkan ilmu. Dan jangan lupa pula untuk terus menabung. Mas sudah mulai menabung kan?” aku mencoba menghiburnya, membangkitkan kembali semangatnya.

Lelaki itu hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Aku membalasnya dengan tersenyum pula. Kujabat erat tangannya, dan kamipun kemudian berpisah. Aku harus segera pulang karena istri dan anakku pasti sudah menunggu di rumah.

***

Saudaraku, dengan dalamnya rindu yang kau rasakan, derasnya air mata yang kau teteskan, semoga Allah memudahkan bagimu jalan untuk bisa mewujudkan impian, harapan dan keinginan menyempurnakan rukun Islam. Bukan hal mustahil jika tahun depan Allah memilihmu menjadi tamuNya, karena Dia Maha Kaya, Maha Kuasa, Maha Berkehendak dan Maha Segalanya. Insya Allah….

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (34 votes, average: 9,15 out of 5)
Loading...

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial

Figure
Organization