
Perkenalanku dengan Ustadz Muhammad Kamaluddin as-Sananiri terjadi pada saat saya tiba pertama kali di Mesir tahun 1949, dan tinggal di komplek Abidin. Ketika itu beliau adalah supervisor dan penanggung jawab seluruh aktivitas mahasiswa utusan. Saya kagum dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan bantuannya untuk Ikhwan. Walau sebagian besar dari mereka berusia jauh lebih muda dan kurang pengalaman darinya.

Ia saudara tercinta, kawan setia, takwa dan wara’, muslim yang jujur dan dai yang mujahid, mukmin yang sabar, lelaki yang teguh pendirian, harta yang sangat berharga, senantiasa beramal dalam diam, puasa di siang hari dan berdiri di malam hari, lisan yang senantiasa berdzikir, teladan memikat dalam keteguhan iman terhadap berbagai perkara, keberanian dan kesabaran kala menghadapi ujian dan cobaan.

Tidak akan cahaya ini tampak di tengah siang seperti nyanyian lembut saat gemuruh ombak laut. Hangatnya unggun sangat terasa saat badai salju mulai menerpa. Lilin dakwah yang mulai dinyalakan Rasul tidak akan terfahami kebutuhannya kecuali jika kegelapan di sekitarnya terasa mencekamnya.

Muadz bin Jabal seorang pemuda Anshar teladan, termasuk golongan Anshar yang pertama masuk Islam dan turut serta dalam baiatul Aqabah dua. Kepandaian dan kepahamannya dalam ilmu agama diakui oleh banyak sahabat, tak terkecuali sang pemimpin Rasulullah SAW yang memberikan testimoni menyejarah : “ sepandai-pandainya umatku dalam masalah halal dan haram adalah Muadz bin Jabal”, bahkan di riwayat yang lain disebutkan Muadz adalah pemimpin para ulama di akhirat nanti.

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Al-Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – keluar dari rumahnya menuju Masjid Nabawi. Beliau mendapati berbagai macam orang yang melakukan qiyam Ramadhan: Ada yang melakukan qiyam sendirian, ada yang melakukannya berduaan, ada yang melakukannya dalam kelompok yang lebih besar dari itu.

Metode dialog yang digunakan ustadz Tilmisani sangat memikat yang menggambarkan karakter Tilmisani secara keseluruhan. Karakter tersebut tidak dibuat-buat, tapi seperti itulah sifat sesungguhnya yang menonjol dalam dirinya saat berbicara, berbuat, berprilaku, bergaul dan berinteraksi dengan individu dan kelompok, atau pemimpin dan masyarakat tanpa membedakan yang besar atau kecil, kaya atau miskin. Dia meyakini prinsip-prinsip Ikhwan yang berlandaskan pada Kitabullah dan Sunnah, serta ijma’ kaum Salaf.

Beliau adalah Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Musthafa Tilmisani. Diangkat sebagai Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin setelah meninggalnya Mursyid ke dua, Ustadz Hasan al-Hudhaibi pada bulan November 1973. Asal-usulnya kembali kepada wilayah Tilmisani di al-Jazaair. Lahir di kota Kairo pada tahun 1322 Hijriah, atau 1904 Masehi, di jalan Hausy Qadim di Al-Ghauriah.