
Hari kiamat, Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas. (QS. Al-Qaari’ah: 1-11)

Perkenalanku dengan Ustadz Muhammad Kamaluddin as-Sananiri terjadi pada saat saya tiba pertama kali di Mesir tahun 1949, dan tinggal di komplek Abidin. Ketika itu beliau adalah supervisor dan penanggung jawab seluruh aktivitas mahasiswa utusan. Saya kagum dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan bantuannya untuk Ikhwan. Walau sebagian besar dari mereka berusia jauh lebih muda dan kurang pengalaman darinya.

Ia saudara tercinta, kawan setia, takwa dan wara’, muslim yang jujur dan dai yang mujahid, mukmin yang sabar, lelaki yang teguh pendirian, harta yang sangat berharga, senantiasa beramal dalam diam, puasa di siang hari dan berdiri di malam hari, lisan yang senantiasa berdzikir, teladan memikat dalam keteguhan iman terhadap berbagai perkara, keberanian dan kesabaran kala menghadapi ujian dan cobaan.

Sering kali kita mendengar kata rabbânî, baik di media massa atau di majelis-majelis ta’lim. Namun, tidak menutup kemungkinan ada di antara mereka yang tidak memahami makna kata tersebut. Olehnya itu, Al-Qur’an sejak dini menggarisbawahi beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi mereka yang ingin menyandang gelar ini, gelar yang derajatnya jauh lebih tinggi dari gelar kesarjanaan yang pernah dianugerahkan kepada seseorang.

“Tanda-tanda orang munafik ada 3. Jika berbicara berbohong, jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim). “Setiap pengkhianatan akan mendapat bendera di hari kiamat, disebutkan ini pengkhianatan si fulan dan ini pengkhianatan si fulan.” (HR. Bukhari Muslim)

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzaab: 72)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisaa’: 58)

Bukan karena di Mekkah dakwah Islam akan berhasil sedang di tempat lain tidak terjamin kesuksesannya seperti analisis beberapa sejarawan. Jika seperti itu, artinya Islam tidak mampu dimulai selain dari Mekkah. Islam hanya cocok untuk Arab. Islam tidak lebih hebat dari Mekkah. Bukan seperti itu. Karena Islam pasti tertancap di bumi ini, di manapun ia bermula dan bergerak. Tanpa limitasi teritori.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al-Anfaal 27). Ayat ini mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa di antara indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu melaksanakan amanah.

Amanah menurut bahasa berasal dari kata-kata aman yaitu kebalikan dari takut. Sedangkan amanah adalah kebalikan dari khianat. Amanah menurut istilah artinya perilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya, tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain.