
Jalan dakwah adalah jalan yang mulia dan berharga, dan dakwah adalah jalan ke surga yang diridhai Allah. Namun, bersama dengan segala keistimewaannya jalan dakwah dipenuhi dengan segala hal yang dibenci dan dimusuhi oleh hawa nafsu. Ia bukanlah sekedar jalan biasa yang indah dan ditaburi bunga-bunga yang wangi.

Banyak sekali peran di dunia ini. Menjadi seorang pelajar, public figure, politikus, wartawan, guru, dsb. Mereka memilih perannya masing-masing. Mereka memiliki tujuan yang berbeda satu sama lain. Jika keadaan terpuruk tak sedikit dari mereka memilih peran yang tidak halal. Tanpa disadari mereka memakan rezeki yang tidak barokah. Sikap pun menjadi tidak bermoral. Naudzubillah.

“Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan. Cinta ini adalah campuran darah dan ruh. Ketika seorang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya! Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata di dasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya.” (Anis Matta)

Banyak opini yang berkembang tentang keberadaan kedokteran Islam, namun kebanyakan opini tersebut menyempit menjadi opini yang menyederhanakan kedokteran Islam menjadi kedokteran nabi (thibbun nabi). Empat hal yang disebut-sebut berkaitan dengan kedokteran Islam (1) kebiasaan sehat Rasulullah seperti puasa sunah, tidak makan sebelum lapar, berhenti sebelum kenyang, dll; (2) mengkonsumsi madu atau habatussaudah (3) bila sampai sakit, terapinya adalah bekam; (4) untuk penyakit karena pengaruh sihir dilakukan ruqyah syar’iyah. [1]

Kita semua memiliki mimpi yang berbeda dan kita juga punya hak atas mimpi-mimpi itu, tinggal bagaimana kita mengemas dan membungkus mimpi-mimpi itu menjadi lebih baik. Sudah menjadi fitrah manusia dikaruniai keinginan terhadap sesuatu. Ingin memiliki jabatan, kedudukan, kekayaan, keturunan, pria, wanita dan lain sebagainya.

Pernahkah terpikirkan akan keberadaan kita hari ini. Akan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Setidaknya hanya sedikit dari kita yang menyadari akan kehadirannya di tengah-tengah komunitas yang jauh berbeda dari masa lalu yang pernah dia miliki. Setidaknya yang sedikit ini lah yang masih tersenyum dan menikmati indahnya hari ini, karena apa yang dirasakannya saat ini adalah wujud dari mimpi yang pernah dia impikan dulu.

Siapa yang tak kenal orang yang selalu berada di barisan terdepan dalam menumpas kemungkaran? Siapa pula yang tak kenal sosoknya yang tinggi besar, tegas dan selalu tampil berani dalam melawan musuh? Dialah Umar bin Khattab, khalifah ke-2 setelah Abu Bakar…

“Akan kami perangi mereka dengan cinta” itulah kalimat yang pernah disampaikan oleh Hasan Al-Banna. Kalimat itu memberikan gambaran bahwa langkah kita dalam menyebarkan kebaikan diikuti dengan penuh kecintaan karena Allah SWT. Hal itu pun menggambarkan bahwa Islam itu lahir dengan kasih agung, cinta dari sang Khaliq untuk umat manusia. Mengayomi dan menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan.

Seorang kawan meminta saya untuk membuat tulisan dengan tema “menjaga hati”. Meskipun menjaga hati cakupannya banyak, tapi bisa saya simpulkan adalah permasalahan hati mengenai cinta. Lagi, berbicara mengenai cinta dan hati adalah dua hal yang saling bertautan. Tidak bisa dipisah. Karena jika bermain dengan hati, maka akan timbul sebuah efek yaitu cinta. Terlepas dari jenis cinta yang baik atau tidak. Maka hati memang harus selalu dijaga.

Tindakan menimbun harta, jasa dan enggan menjual atau memberikan kepada orang lain sedangkan masyarakat membutuhkannya yang mengakibatkan melonjaknya harga barang disebabkan persediaan terbatas, atau barang menghilang di pasaran karena ditimbun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Perbuatan semacam itu sangat dilarang dalam Islam.