Rubrik Kaifa Ihtada
Rubrik ini berisi kejadian, essai, atau artikel yang mengkisahkan bagaimana seseorang mendapatkan petunjuk, mencari pelajaran, memperjuangkan kebenaran, dan menemukan hikmah. "Al-hikmatu dhaallatul mu'min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa" (Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya).
Redaksi menerima kiriman artikel untuk rubrik Kaifa Ihtada. Kirimkan artikel Anda melalui FORM yang kami sediakan.
Kirim Artikel Anda
Pak Husin. Sebutlah panggilannya demikian. Sebagaimana kebanyakan ustadz lainnya, pekerjaannya sehari-hari adalah mengajar, mengajar, dan mengajar. Pergi ke sana ke mari, dari masjid ke masjid, dari majelis ke majelis untuk berbagi ilmu pada masyarakat. Kira-kira begitulah orang mengenalnya sebagai ustadz ‘keliling’, alias ustadz yang pekerjaannya keliling tempat untuk mengajar.

Ciri khas dia adalah jika akan bepergian dia lebih senang dengan menyebut sebelum atau sesudah shalat. Jarang sekali dia mengatakan kita berangkat jam sekian atau jam sekian, kecuali untuk keperluan atau acara yang sifatnya resmi dan tak bisa dirubah waktunya. Selagi hanya acara biasa apalagi tidak melibatkan banyak orang, dia selalu memberikan pilihan kita shalat di sini atau di tempat tujuan.

Ini kisah nyata! Bukan fiksi. Jam menunjukkan angka 4 pagi. Suasana hening. Tak ada yang bergerak kecuali dedaunan pohon yang ditiup oleh angin malam hari. Ujung-ujung dahan merangkul jendela rumahku. Tiba-tiba alarm berbunyi. Khadijah langsung mematikan alarm. Bangun dan bergegas ke kamar mandi. Langkahnya begitu berat karena ia tengah mengandung 8 bulan. Perutnya semakin membesar dan kakinya membengkak. Mudah lelah, nafasnya berat dan wajahnya pucat, matanya membengkak karena banyak menangis.

Sepintas tak ada sesuatu yang begitu istimewa pada penampilannya. Ia mengatakan bahwa ia hanya tamat sekolah dasar dan lebih memilih untuk bekerja sebagai penjual buah. Sebagaimana lazimnya seorang pekerja keras, gurat-gurat kesederhanaan dan kebersahajaan terpahat jelas pada wajah sawo matangnya. Kendati demikian, ia tak pernah datang ke markas ini dengan wajah dan penampilan layaknya seorang pedagang serabutan di pasar.

Saya memulai hari ketika para tetangga yang sebagian besar mahasiswa lokal masih asyik bermain peran dalam mimpi mereka. Calon penerus bangsa Han tersebut masih terbuai nyaman di balik selimut tebal dan beralas kasur empuk. Ternyata angin bulan September cukup berhasil meninabobokan seluruh anak manusia bermata sipit itu hingga pukul 8 pagi. Kadang kala saya juga mengikuti kebiasaan mereka untuk sekedar menghangatkan badan sembari menunggu sang raja siang.

Di saat aku bingung menentukan arah hidupku, tiba-tiba nada dering HP ku berbunyi “Assalamu’alaikum Kusnadi, kamu sekarang dimana? Secepatnya datang ke tambakberas aku tunggu“. “Ya pak Kyai secepatnya aku berangkat” jawabku singkat. Karena tabiat santri yang nurut dan manut terhadap Kyai tanpa pikir panjang aku meluncur ke Tambakberas. 12 jam perjalanan dari Brebes menuju Jombang membuat badanku lelah dan letih.

Bismillaahirrahmaanirrahim, di rumah kami ada seorang anak penghuni surga, demikian sahabatku menuturkan kisahnya, air mata kesedihan bergulir dari kedua belah matanya, sungguh hal itu membuat hatiku terenyuh. Sahabatku berkata, “Aku tidak menerima apa yang dikatakan oleh dokter anak. Sungguh aku menjadi lemas ketika anakku yang cantik divonis menderita kelainan fisik dan keterbelakangan mental.”

Lelaki istimewa itu bernama Didi. Aku biasa memanggilnya Pak Didi. Usianya kini sudah berkepala enam. Aku mengenal beliau sudah sekitar tiga tahun, semenjak aktif menjadi jamaah di mushalla Baiturrohim. Beliau tinggal bersama keluarganya di RT 04 tak jauh dari mushalla, sedang aku tinggal di RT 02. Secara pribadi, aku memang tidak tahu banyak tentang beliau, namun di mataku beliau adalah sosok yang luar biasa. Salah satu ‘keistimewaan’nya telah memberiku semangat sekaligus menyadarkanku akan besarnya nikmat yang telah Allah berikan.

“Boleh cerita tentang suatu hal yang karenanya hidup kamu berubah sama sekali?” “Mm… harus cerita ya, kak?”, tanyanya setengah hati. “Pribadi banget ya? Kalau ngga mau, ga dipaksa kok”, jawabku santai. “Eh, ga apa-apa.. Biar aja..ya?”, Senior di sebelahku malah menantang. “………”, dia diam sebentar saja, lalu kedua matanya mulai berair. Suasana hening. Sepertinya siapa pun dan apapun yang ada di ruangan ini siap menjadi pendengar kisahnya.

Kisah ini diambil dari rangkaian perjalanan sahabat saya yang mempunyai nama lengkap ‘Ibad Rahman’ (bukan nama sebenarnya) biasa disapa dengan Ibad, berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Kita sama-sama menuntut ilmu di Mesir, dan tinggal di dalam satu Asrama Pelajar Azhar yang sama dekat kampus tercinta, hanya saja dia lebih dahulu daripada saya 1 tahun, saya ambil jurusan Ushuluddin, sedangkan Ibad lebih memilih syari’ah Islamiyah.