Indeks Puisi dan Syair


Memoar Mukena Lusuh

Ilustrasi (vivink.blogspot.com)

Sehelai mukena tua terbengkalai di sudut rumah mewah, Putihnya kini berganti coklat lusuh, Mungkin termakan usia renta, Bersama tikus-tikus yang berlomba melahapnya. Dahulu… Bukanlah istana yang megah, Yang menjadi ruang untuk mukena lusuh, Hanya sepetak gubuk reot yang hampir roboh, Penghuni-penghuninya senantiasa sujud, Dengan mukena lusuh itu

email

Di Sana, Di Negeri Para Penguasa

Ilustrasi (toocooldude.com)

Di sana, di negeri para penguasa, Mereka saling bertikai, Menunjuk hidung orang-orang lemah, Yang tak punya uang untuk berkuasa, Membeli sebuah kebenaran semu, Menciduk tanpa bukti, Menahan tanpa kompromi.

Jika Ketika Berkata

Ilustrasi (adlin-life.blogspot.com)

Ketika ku terlelap dalam buaian fana, Ketika ku terselimuti resah dan gundah, Ketika rasa nista telah bertahta, Ketika hati merekam selaksa khilaf. Ketika hati ingin merengkuh cinta, Ketika cinta itu melanglang di nirwana, Ketika ku lelah menyapa cinta, Ketika ku sadar cinta itu semu.

Di Atas Panggung Bus Kota

Ilustrasi (beritajakarta.com)

Di atas panggung bus kota, Banyak wajah berperan dalam seribu cerita, Ketika si miskin bergumul dengan keringat, Menatap si kaya yang terlena dalam mobil mewahYang normal berperan cacat, Demi meraih sekeping rupiah, Yang kuat menengadahkan tangan, Mengancam dengan beribu kata.

Palestine no P(v)alentine

Eko WardayaIlustrasi (inet)

Luapan perasaan diungkapkan, Cinta, kasih, dan sayang. Gembira ria bersama manusia, Gandeng erat tangan teman, Atau pacar katanya. Berbagi hati maupun materi, Ingin meninggalkan kenangan berarti, Tak terlupa sampai mati.

Di Jakarta Kita

Ilustrasi (radhitisme.blogspot.com)

Di Jakarta kita, Tercipta oase tawa, Wajah-wajah bermuram, Mengejar waktu, mengejar rupiah, Terbungkus kenyamanan tiada tara, Rupiah tertawa
Berkuasa. Lelah berjelaga, Tapi nafas harus ada, Untuk esok yang lebih cerah, Semoga, Tak keruh seperti abu, Semoga, Masih ada setitik tawa, Tak melulu jadi mewah, Bukankah itu sedekah??

Elegi Manusia Debu

Ilustrasi (Reuters)

Beranjak bangkit telah terik, Memacu alas di atas aspal, Roda-roda berputar melangkahi waktu, Sekelebat senyum tersangkut di pintu. Darah-darah yang berdesir, Keringat-keringat yang menjadi bulir, Debu-debu yang bergilir, Di manakah kau takdir?

Sebagai Tanda Apakah Semua Bencana?

Ilustrasi (inet)

Sebagai tanda apakah semua bencana??? Kala moral tercabik nafsu durjana, Kala tangis hanya menjadi hiasan tidur di kegelapan, Kala kejujuran menjadi mahal, Kala kebenaran terasingkan, Kala nurani telah mati, Kala sang pemimpin hanya menyajikan santapan dusta, Kala hukum tak ubahnya barang loak di kaki lima, Kala suara Kami terbenam bersama keangkuhan.

Hari Ini Tertegun

Ilustrasi (inet)

Hari ini tertegun, Akan makna kehadiran diri di muka bumi, Akan bagaimana ketika mati, Teringatkah atau terlupakan, Bermanfaatkah atau mengabaikan. Teringat akan satu cerita, Tentang seorang Uwais Al Qarni, Seorang hamba yang tak terkenal dan tak ingin di kenal, Oleh seluruh makhluk bumi, Sungguh namanya harum menjadi perbincangan.

Jantungku Sayang, Jantungku Malang

Ilustrasi (inet)

Polusi menggerogoti udara kota yang jernih, Menyergap pernafasan dengan ribuan zat beracun, Sulit menghela, sulit menghirup, Zat adiktif yang membumbung ke angkasa, Memonopoli hiruk pikuk polusi kota, Karbondioksida pun turut berjejal, Bersama zat-zat beracun mematikan.


Halaman 9 dari 17« Terbaru...7891011...Paling Lama »