Indeks Cerpen


Tergantung Niat

Ilustrasi (inet)

Lembayung senja menemani langkah Fatin. Bergegas ia menuju ke jalan besar untuk menunggu angkutan umum yang akan mengantarnya pulang ke rumah. “Lagi dan lagi, saya sendiri.” Ucap Fatin lirih. Sambil terus berdzikir, ia menatap secara seksama arah datangnya angkutan.

email

Menguap Vs Bersin

Ilustrasi (inet)

“Hoaaaaaaammmm…..”. Rasya menguap lebar. “Aduh, kamu kalo menguap ya di tutup donk dek.” Protes Sabil pada adiknya. “Kenapa sih Kak ? Masalah sepele ajah kok di bikin ribut, aku kan cuma menguap Kak.” Tak mau kalah dengan sang kakak, Rasya pun membela diri. “Ck ck ck… dek, kamu pernah dengar tidak kalau Allah itu tidak suka dengan menguap?” Tanya Sabil. Dengan rasa heran, Rasya menjawab, “Kayaknya aku pernah dengar deh Kak.”

Tak Seindah Pelangi

Anie ReznaIlustrasi (inet)

Kriiiiing…. Sayup-sayup terdengar suara handphone di saku celana berbunyi, di tengah ramainya lalu lintas jalan hari ini, di bawah terik matahari yang setiap hari menemani hari-hariku. Perlahan motorku menepi, di bawah sebuah pohon rindang yang sedikit menghalangi sinar matahari menyentuh kulitku, agak sejuk rasanya…

Ayah, Aku Ingin Bicara

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

Kini aku hanya bisa memandangi puisi itu di dinding kamarku. Aku rindu ayah. Aku rindu senyumnya, candanya, kerut keningnya, semua kurindu. Aku rindu saat ia menelpon. Lucu rasanya. Telepon adalah alat komunikasi yang menggunakan suara. Sedangkan aku, apa yang bisa kuucapkan? Sejak kecil aku tak bisa bicara. Aku bisu. Jadi, lucu rasanya jika ada orang bisu menggunakan telepon. Kira-kira apa yang bisa diucapkannya?

Merencanakan Martabat

Ilustrasi (templates.com)

Selembar surat beramplop putih tergeletak begitu saja di atas meja rias Rini. Surat itu telah membuat Rini tidak nyenyak tidur dan tidak selera makan. Tinggal beberapa hari lagi waktu bagi Rini untuk memberi keputusan, iya atau tidak. Keputusan yang sangat sulit di saat saat sulit.

Karena Utang Harus Dibayar

Abi SabilaIlustrasi (inet)

Putriku mungkin baru masuk kelas ketika kudengar seseorang mengucap salam di depan pintu kontrakanku. “Wa’alaikumsalam….” jawabku, bergegas menuju pintu. Kutinggalkan piring dan gelas kotor bekas sarapan di bak pencucian. Betapa terkejutnya aku demi melihat tamu yang datang pagi itu. Adalah Fulan, rekan kerja sewaktu masih bekerja di perusahaan farmasi dulu. Ia datang beserta istrinya.

Jangan Lagi-Lagi

Abi SabilaIlustrasi (riefighter.multiply.com)

“Kamu pernah membonceng motor dengan duduk menyamping?” tanya Fulan, satu ketika. “Seperti perempuan?” aku memperjelas maksud pertanyaannya. “Ya, seperti perempuan jaman dulu” Fulan mengiyakan sekaligus merevisi jawabanku. Aku menggeleng. “Belum pernah, memangnya kenapa?” “Aku pernah, sekali. Dan aku kapok, tak ingin mengulanginya lagi!” jawab Fulan sambil tersenyum getir.

Sebelum Akad, Semua Hal Adalah Mungkin…

Ilustrasi (desainkawanimut.com)

Setelah ta’aruf di rumah Murabbiyah ku saat itu, aku merasa makin mantap untuk mempercayakan dia menjadi imam bagi rumah tanggaku dan ayah bagi anak-anakku. Aku yakin ia ikhwan yang baik, walaupun usianya satu tahun di bawahku, namun ia terlihat dewasa dan memiliki selera humor yang cukup tinggi. Aku merasa nyaman…

Cinta, Ta’aruf-mu Salah Langkah!

Ilustrasi (inet)

Langit kemerah-merahan yang menyelimuti alam tempat tinggalku mulai merona dengan barisan awan-awannya di medan senja.  Aku yang duduk di bawahnya terusik pada iringan kisah masa laluku yang membuat hatiku sering diserang rasa dag dig dug tidak karuan. Traumatik rasanya. Ya… benar, benar-benar traumatik. Bagaimana tidak, cinta memang perkara fitrah namun kali ini cinta itu dibalut dengan kesalahpahaman manusia dalam mengartikan kata ta’aruf.

Bukan Merayakan,Tapi Memperingati

Abi SabilaIlustrasi (wallpapermixs.blogspot.com)

“Bunda…Bunda! Di depan mushalla aku lihat ada tenda, memangnya ada yang mau hajatan, Bunda?” tanya Ade yang baru pulang dari sekolah. “O… itu bukan tenda untuk hajatan, Sayang! Tapi untuk pengajian nanti malam.” jawab Bunda yang sedang menyiangi tanaman hias di halaman.
“O, iya. Ade lupa! Nanti malam kan kita akan merayakan hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Benar kan, Bunda?”


Halaman 5 dari 11« Terbaru...34567...10...Paling Lama »