
“Ergh…!” Cairan hangat berlinang melewati wajahku, menitik di atas kamera yang sedang kutenteng. Aku meraba keningku tepatnya sebelah kiri di dekat pelipisku, perih menggigit. Aku sempoyongan. Aku butuh pertolongan segera. Percuma aku berdebat dengan mereka sejak tadi dan ternyata ini yang mereka perbuat padaku.

Apa dan bagaimanapun caranya, rasa kehilangan itu sama. Sakit dan menyakitkan. Hanya kesadaran bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya yang membuat kita lebih mudah mempertahankan kesabaran dan juga mengikhlaskan. Aku masih duduk di depan komputer, mengedit naskah yang akan kupublish di blogku yang sederhana dan serba seadanya ketika handphone di samping keyboard bergetar.

Namanya Syifa’. Itu yang aku dengar dari ibu-ibu pengajian yang mengundangku datang ke masjid ini. Pernah sekali aku bertanya kepada seorang ibu mengenai orang tuanya Syifa’. Ibu itu hanya menjawab “dia itu anak haram Neng, karena cacat gitu jadi ibunya nggak pernah ngurus dia lagi dan meninggalkan dia”.

Kutembus hujan di kegelapan sebagai protes atas keputusan Ummi yang berencana menikahkan Mbak Liza dengan Januar. Kupacu kencang sepeda motor peninggalan almarhum Abi menuju masjid terjauh. Kalau saja Abi masih ada, beliau pun tidak akan mengizinkan Mbak Liza menikah dengan Januar. Secara fisik memang tidak ada yang salah dengan guru SD itu. Tapi Januar orang awam, dan ia mengajar di sekolah Nashara.

Ini tentang aku, kamu dan cinta kita. Jujur, aku mencintaimu pada pandangan pertama. Kata orang, “Pandangan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.” Hahaha. Kalimat itu tidak berlaku untukku. Faktanya, aku hanya diam. Ya, aku mencintaimu dalam diam. Kata orang itu bodoh. Tapi biarlah, karena aku punya cara sendiri untuk mencintaimu, yaitu dengan diam.

Satu bulan sudah, Farid berkutat dengan lingkaran kekecewaan, ada yang hampa dalam hidupnya, hilang arah tanpa tujuan, kini ia hanya menjalankan rutinitas kuliahnya saja, tanpa ruh dan semangat dakwah yang tinggi. Dalam jangka waktu itu, ia pun hilang dalam lingkaran ukhuwahnya, tanpa kabar, ia sengaja menutup dirinya, ada perasaan malu, kecewa, marah, bercampur dalam satu warna hatinya. Meski ajakan untuk kembali ngaji terus menerus dilakukan oleh teman-temannya, tetapi ia kerap menolak dengan berbagai alasan.

Siang yang membakar di kamp pengungsian, seorang anak bertanya kepada ibunya “Bu, kenapa kita tidak pernah menang, dan kenapa mereka begitu kejam?” Lagi-lagi jawaban sang ibu sama. “Sabar!” Tiba-tiba terdengar suara ledakan. Para pengungsi tersentak, sesaat kemudian mereka kembali kepada aktivitasnya masing-masing. Sekumpulan pemuda di kejauhan sana berlarian menggotong seonggok jasad yang tak bernyawa. Dari tempat yang sama, seorang pemuda terseok-seok jalannya akibat peluru yang bersarang di kaki kanannya.

Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku. “Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?”

“Sudah Kak! Jangan ngatur-ngatur! Adek sudah gede. Sudah bisa mikir.” Untuk kesekian kalinya aku bingung menghadapi gadis ABG di hadapanku. Entah dua pekan ini aku seringkali perang mulut dengannya. Dan sekarang dia memilih tetap pergi ke acara yang diadakan temannya, Birthday Party katanya.

Ini kisah nyata! Bukan fiksi. Jam menunjukkan angka 4 pagi. Suasana hening. Tak ada yang bergerak kecuali dedaunan pohon yang ditiup oleh angin malam hari. Ujung-ujung dahan merangkul jendela rumahku. Tiba-tiba alarm berbunyi. Khadijah langsung mematikan alarm. Bangun dan bergegas ke kamar mandi. Langkahnya begitu berat karena ia tengah mengandung 8 bulan. Perutnya semakin membesar dan kakinya membengkak. Mudah lelah, nafasnya berat dan wajahnya pucat, matanya membengkak karena banyak menangis.