Arsip Modul Materi Tarbiyah
oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

Hendaklah Manusia Memperhatikan Makanannya (Bagian ke-2, Selesai)

email

Jika kita mengetahui bahwa yang telah menciptakan makanan adalah Ar Razzaq, Al ‘Alim, Al Hakim, Al Khabir, Ar Rahim, Al Karim, Al Hadi, Al Muhyi, dan Al Mushawwir, kita dapat memastikan Dialah Allah SWT. Karena alam semesta atau berhala dengan berbagai jenisnya sama sekali tidak memiliki sifat-sifat dan kemampuan seperti itu.

Hendaklah Manusia Memperhatikan Makanannya (Bagian ke-1)

Mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk memperhatikan makanan kita dalam firman-Nya: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. ‘Abasa (80): 24)? Allah SWT telah memerintahkan kita untuk memikirkan semua makhluk-Nya, dan pada ayat tersebut kita diminta memperhatikan apa yang kita makan, karena makanan termasuk ciptaan-Nya dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada semua makhluk terdapat tanda dan bukti tentang sebagian sifat-sifat Allah SWT.

Tafsir Surat Al-Qaari’ah

Hari kiamat, Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas. (QS. Al-Qaari’ah: 1-11)

Dai dan Mujahid, Muhammad Kamal as-Sananiri (Bagian ke-2, Selesai)

Perkenalanku dengan Ustadz Muhammad Kamaluddin as-Sananiri terjadi pada saat saya tiba pertama kali di Mesir tahun 1949, dan tinggal di komplek Abidin. Ketika itu beliau adalah supervisor dan penanggung jawab seluruh aktivitas mahasiswa utusan. Saya kagum dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan bantuannya untuk Ikhwan. Walau sebagian besar dari mereka berusia jauh lebih muda dan kurang pengalaman darinya.

Da’i dan Mujahid, Muhammad Kamal as-Sananiri (Bagian ke-1)

Ia saudara tercinta, kawan setia, takwa dan wara’, muslim yang jujur dan dai yang mujahid, mukmin yang sabar, lelaki yang teguh pendirian, harta yang sangat berharga, senantiasa beramal dalam diam, puasa di siang hari dan berdiri di malam hari, lisan yang senantiasa berdzikir, teladan memikat dalam keteguhan iman terhadap berbagai perkara, keberanian dan kesabaran kala menghadapi ujian dan cobaan.

Perintah Menunaikan Amanah (Bagian ke-4, Selesai): Peringatan Bagi Orang yang Berkhianat

“Tanda-tanda orang munafik ada 3. Jika berbicara berbohong, jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim). “Setiap pengkhianatan akan mendapat bendera di hari kiamat, disebutkan ini pengkhianatan si fulan dan ini pengkhianatan si fulan.” (HR. Bukhari Muslim)

Perintah Menunaikan Amanah (Bagian ke-3): Ruang Lingkup Amanah

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzaab: 72)

Perintah Menunaikan Amanah (Bagian ke-2): Keutamaan Amanah

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisaa’: 58)

Perintah Menunaikan Amanah (Bagian ke-1): Definisi dan Dalil

Amanah menurut bahasa berasal dari kata-kata aman yaitu kebalikan dari takut. Sedangkan amanah adalah kebalikan dari khianat. Amanah menurut istilah artinya perilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya, tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain.

Fiqih Haji (Bagian ke-11, Selesai): Al Udh-hiyah / Hewan Qurban

Al Udh-hiyah adalah semua jenis hewan ternak yang disembelih dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Waktunya pada hari nahr – tanggal sepuluh Dzulhijjah – setelah shalat Id sehingga terbenam matahari hari tasyriq terakhir. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang shalat seperti shalatku ini, menyembelih seperti sembelihanku ini, maka benar sembelihannya, dan barang siapa yang menyembelih sebelum shalat maka itu adalah kambing untuk daging (lauk biasa)”. (HR Al Bukhari)


Halaman 3 dari 1912345...10...Paling Lama »

Komentar Terakhir ke Tulisan Tim Kajian Manhaj Tarbiyah:

02/02 16:13 - Zull Fikar:
izin copas yahh... ...
02/02 14:35 - Sri_wahyuni:
subhanallah... tidak ada yang Mustahil bagi Allah SWT ...
02/02 14:17 - ummu fawwaaz:
Assalammualaikum wrwb ustadz,,saya mau tanya, apakah memegang mushaf ini boleh d ...
02/02 11:57 - Bunda Adit01:
subhanallah....ALLAH MAHA BESAR...... ...
01/02 16:07 - Aini Maulida:
Subhanallah...... ...
01/02 08:40 - Feri Andiprasetyo:
SubhanAlloh... ...
01/02 07:10 - Ibnu Jadid:
Subhanallah, Wala haula wala quwata illa billah. ...