Home / Berita / Analisa / Menerka Arah Kebijakan Trump Terhadap Timur Tengah

Menerka Arah Kebijakan Trump Terhadap Timur Tengah

Bendera Amerika Serikat. (aa.com.tr)

dakwatuna.com – Washington. Media-media Amerika Serikat (AS) pada Jumat (19/05/2017) kemarin ramai mewartakan tentang kunjungan luar negeri pertama Presiden AS, Donald Trump, yang digelar ke Timur Tengah itu. Mereka menyebutkan kunjungan pertama Trump sebagai Presiden AS itu “Akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam menentukan kebijakan masa depan Washington terhadap negara-negara Timut Tengah.

Situs Berita “CNN” menyebutkan, setidaknya ada empat pemandangan utama yang dapat menjadi dasar untuk mengetahui arah kebijakan AS terhadap Timur Tengah di masa depan.

1. Tidak ada istilah “Teroris Islam” dalam pidato Trump.

Surat kabar “Politico” melaporkan, Trump tidak akan menggunakan istilah “terorisme Islam” dalam pidatonya di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Ahad besok.

Sebagaimana disebutkan, penasihat kemanan nasional AS, McMaster mengingatkan kepada Trump bahwa istilah yang sering ia sebutkan dalam kampanyenya itu, merupakan bentuk penghinaan terhadap kaum muslimin.

“Pidato Presiden Trump di hadapan para pemimpin Dunia Islam, akan penuh penghormatan.” Kata McMaster, sebagaimana dilansir dari Politico.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa Stephen Miller adalah sosok dibalik penyusun pidato Presiden Trump. Stephen dikenal sebagai sosok yang sangat memusuhi Islam. Bahkan ia juga merupakan penasihat Trump dalam mengeluarkan perintah eksekutif tentang larangan masuk bagi enam negara mayoritas Muslim.

2. Sosok yang tidak komitmen dengan teks.

Masih menurut laporan dari “Politico”, disebutkan bahwa Asisten Senior Dewan Keamanan Nasional Urusan Eropa pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama, Charles Kopchin mengatakan, “Trump bukan tipe pemimpin yang terpaku pada teks.”

Kopchin menambahkan, Trump bisa saja mengubah pembicaraan sewaktu-waktu. “Ketika Donald Trump bertemu dengan para pemimpin asing, maka kita tidak tahu apa yang akan dia bicarakan, katanya”

“Kemungkinan perubahan konteks pembicaraannya (Trump) akan membesar dalam sebuah pertemuan multilateral,” kata Kopchin lagi.

3. Keberhasilan Pangeran Muhammad bin Salman.

Sementara itu, situs CNBC menilai, sebab utama kenapa Presiden Trump memilih Arab Saudi sebagai negara pertama yang dikunjunginya. “Itu tidak lain adalah karena keberhasilan Pangeran Muhammad bin Salman, Wakil Putra Mahkota Kerajaan Arab,” sebut situs CNBC.

Seorang akademisi dari Princeton University, Bernard Haykel, sebagaimana dikutip oleh CNBC mengatakan, “Pangeran Muhammad bin Salman lah yang telah mengatur, menyusun, dan menyepakati ini semua (kunjungan Trump ke Arab Saudi lengkap dengan seluruh agendanya).

“Kerajaan Saudi, dengan segala persiapan efektifnya, akan berupaya menarik perhatian Presiden Trump, dan memperkuat posisinya sebagai pemain utama di panggung dunia,” tambah Bernard.

Sebagai pengingat, Pangeran Muhammad bin Salman telah bertemu dengan Presiden Trump pada bulan Maret lalu, dan menjadikannya Pangeran Saudi pertama yang bertemu presiden As itu.

4. Mediator Perdamaian

Menurut jadwal, negara kedua yang akan disambangi Presiden Trump adalah Israel. Media AS menilai hal itu sebagai “Cermin perbedaan antara pemerintahan Trump dengan pendahulunya, Barack Obama, yang menjadikan Tel Aviv sebagai wilayah Timur Tengah pertama yang dikunjunginya pada 2009 lalu.”

Menurut laman Politico, fokus kunjungan Trump ke Israel adalah “Peranan yang dimainkannya untuk menyelesaikkan konflik antara Palestina dan Israel.”

Presiden Trump sendiri mengungkapkan keinginannya, “Untuk dapat mencapai kesepakatan bersejarah antara kedua belah pihak”.

Dari sini, sangat jelas upaya yang dilakukan Trump dalam menjalankan peran sebagai mediator guna menghadirkan perdamaian antara Palestina dan Israel. Begitu pula dengan perhatiannya untuk bersekutu dengan pihak Palestina yang diwakili oleh Mahmoud Abbas.

Namun, media-media AS masih mempertanyakan tingkat kemungkinan dari tekad Trump yang akan mempertemukan PM Israel dengan Presiden Otoritas Palestina, dalam pertemuan trilateral. Jika terjadi, hal itu akan menjadi pembicaraan damai pertama sejak tiga tahun lalu yang menemui kebuntuan.

Pada Jumat (19/05) kemarin, Presiden AS, Donald Trump bertolak dari Washington menuju Arab Saudi. Sesuai jadwal, Presiden Trump akan bertemu dengan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, para pemimpin dunia Islam, dan pemimpin negara-negara teluk.

Dengan kunjungan tersebut, Trump menjadi presiden AS pertama yang memulai kunjungan luar negari pertamanya ke nagara Arab atau Islam. (whc/dakwatuna)

Sumber: Anadolu Ajansı

Advertisements

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
William Ciputra
Alumni Mahad Aly An-Nuaimy Jakarta

Lihat Juga

Raja Salman dan Trump Sepakati Perjanjian Pertahanan Senilai 460 Miliar Dolar

Organization