Home / Berita / Opini / Hasyim Muzadi Dan Nasihat Kematian

Hasyim Muzadi Dan Nasihat Kematian

 

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi – (tribunnews.com)

dakwatuna.com – Kematian bagaikan anak panah yang tak pernah keliru * dia yang selamat dari anak panah hari ini, esok lusa tak akan melesat lagi – Ali bin Abi Thalib.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. K.H. Hasyim Muzadi meninggal dunia pada hari Kamis, 16 Maret 2016. Tanpa menyebutkan asesoris atau embel-embel duniawi apapun, orang akan ingat ketokohannya. Hidupnya adalah pengabdian untuk umat, dan perannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) sangat besar dalam membingkai keharmonisan kehidupan bangsa Indonesia. Maka, ketika berita kematiannya berhembus, berduyun-duyun orang datang melayat.

Pepatah Arab mengatakan, “mautul ‘alim mautul alam” (kematian seorang yang berilmu adalah kematian alam semesta), K.H. Hasyim Muzadi membuktikan itu. Sosok yang tegar, bersahaja dan penuh wibawa menjadi ciri khas almarhum. Kita kehilangan panutan dalam berbangsa dan bernegara.

Kematian adalah pintu yang pasti kita lewati. Prof. Mahfud MD, sahabat almarhum dan tokoh Nahdhatul Ulama mengenang beliau dalam twit-nya, “K.H. Hasyim Muzadi kalau berceramah kocak tapi tak sembarang melucu. Melucunya penuh makna substantif. Agama dihayatinya dengan damai dan toleran”.

Kematian memang menjadi pintu yang wajib kita lewati. Demikianlah Rasulullah SAW mengingatkan setiap umatnya. Ketika Abu Bakar As-Shiddiq radiallahu anhu menghadapi hari-hari kematiannya, dia sering membaca, “dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya” (QS: Qaaf 19). Dia berpesan kepada Aisyah, putrinya, “Lihatlah kedua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafankan aku dengannya. Sesungguhnya mereka yang hidup lebih utama menggunakan baju baru dari pada yang sudah jadi mayit”.

Ketika Umar bin Khattab ditusuk oleh seseorang, Abdullah bin Abbas datang menjenguknya, dia berkata: “Engkau telah masuk Islam saat orang-orang (lain) masih kafir. Dan engkau selalu berjihad bersama Rasulullah SAW saat orang-orang (lain) malas. Saat Rasulullah SAW wafat dia sudah ridha denganmu”. Umar kemudian berkata, “Ulangi ucapanmu!” Maka diulang kepadanya. Dia kemudian berkata, “celakalah orang yang tertipu dengan ucapan-ucapanmu itu.”

Abdullah bin Umar, putranya, berkata: waktu itu kepala ayahku di pangkuanku, saat sakit menjelang kematian. Ayah berkata, “letakan kepalaku di atas tanah!” Aku menjawab, “Bagaimana ayah, apakah tidak sebaiknya di atas pangkuanku saja.” “Celaka kamu, letakan di atas tanah.” Ayah setengah membentak. Kemudian, Abdullah bin Umar meletakannya di atas tanah. Umar berkata, “Celaka aku, celaka juga ibuku, jika Tuhanku tidak menyayangi aku.”

Dikisahkan, ketika Utsman ibn Affan menjadi khalifah, dia seringkali menangis bila melihat iring-iringan membawa jenazah. Bahkan Utsman pernah pingsan dan harus digotong ke rumahnya. Saat siuman dia ditanya, “Ada apa dengan-mu, wahai Amirul Mukminin?” Utsman menjawab, aku mendengar Rasulullah SAW berkata, “Kubur adalah terminal pertama seorang hamba, apabila sukses di sana, niscaya dia akan hidup senang dan bahagia. Jika tidak, niscaya dia akan terus merugi selamanya”.

Setelah ditusuk oleh orang-orang yang memberontak, hingga darah mengalir ke janggutnya, Ustman berkata, “Tidak ada Tuhan selain Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim. Ya Allah, aku memohon perlindungan-Mu, dan pertolongan-Mu atas segala persoalanku, dan aku memohon pada-Mu diberikan kesabaran atas ujian ini.”

Setelah ditusuk, Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu berkata: Apa yang sudah dilakukan terhadap orang yang menusukku? Mereka menjawab, “kami telah menangkapnya”. Ali berkata, “Beri makan dan minum dia dengan makanan dan minumanku. Jika aku hidup, aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika aku mati, maka pukulah dia sekali pukul saja, jangan kalian tambahkan sedikitpun.”

Kemudian Ali berpesan kepada Hasan, puteranya, agar memandikannya. Ali berkata, “Jangan berlebih-lebihan dalam mengkafaniku, sesungguhnya aku mendengar Rasulallah SAW bersabda, janganlah bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras.”

Kemudian Ali berpesan lagi, “Bawalah aku di antara rakyat. Jangan terlalu cepat, juga terlalu lambat. Jika aku memiliki kebaikan, niscaya (dengan membawa aku ke hadapan mereka) kalian telah menyegarakan aku menuju kebaikan itu. Jika aku memiliki keburukan, kalian telah mengantarkan aku untuk bertemu dengannya sebelum aku dihisab.”

Pesantren al-Hikam di Depok menjadi warisan ilmu K.H. Hasyim Muzadi. Saya teringat pesan Abdullah bin Mas’ud saat menjelang kematiannya. Saat itu, dia memanggil puteranya: “Ya Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, aku ingin berpesan padamu tentang lima hal. Jagalah demi menjalankan pesanku ini. Pertama: Hilangkanlah rasa putus asa dari hadapan orang banyak, sebab demikianlah kaya yang sesungguhnya. Kedua: Tinggalkan mengemis (untuk kebutuhan hidupmu) dari orang lain, sebab yang demikian itu adalah kemiskinan yang kau datangkan sendiri. Ketiga: Tinggalkan hal-hal yang kau anggap tak berguna. Jangan sekali-kali sengaja kau mendekatinya. Keempat: Jika kau mampu, janganlah sampai terjadi padamu satu hari di mana hari itu lebih tidak lebih baik dari kemarin. Usahakanlah. Kelima: Jika engkau shalat, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Resapi dan renungkan seakan engkau tak akan shalat lagi setelah itu.

Semoga pesantren al-Hikam menjadi amal ibadah yang terus mengalir untuk almarhum. Dan, semoga Allah SWT menempatkan almarhum di surga-Nya yang abadi. Amin. (sb/dakwatuna.com)

Advertisements

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Nasihat Lukman Kepada Putranya yang Patut Diteladani

Organization