Home / Berita / Nasional / Saksi Ahli Forensik Sidang Penistaan Agama Nyatakan Bukti Video Asli

Saksi Ahli Forensik Sidang Penistaan Agama Nyatakan Bukti Video Asli

Ajun Komisaris Besar Muhammad Nuh, Saksi Ahli Forensik dalam kasus penistaan agama, Selasa (7/2/2017). (solopos.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Lanjutan sidang kasus penistaan agama kembali digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa, (7/2/2017) dengan agenda mendengarkan saksi-saksi.

Salah seorang saksi ahli dari yang dihadirkan adalah Anggota Subdirektorat Komputer Forensik Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Ajun Komisaris Besar Muhammad Nuh.

Dalam kesaksiannya, Nuh menyatakan bahwa setelah dilakukan penelitian, video pidato Ahok saat melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu tidak ada frame yang dibuang.

Menurut dia, gerakan Ahok mulai dari mengambil mikrofon hingga meletakkan mikrofon ke atas meja, tidak ada pembuangan frame.

“Kami tidak temukan penyisipan frame, tidak ditemukan pengurangan atau penambahan frame artinya video tersebut memang benar adanya,” kata Nuh di Auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa, (7/2/2017), dikutip dari tempo.co

Bahkan dari empat video yang dijadikan barang bukti, semua video tersebut tak mengandung ada penyisipan dalam rentang pada frame tertentu. “Seluruh momen sesuai dengan histogram. Tidak ditemukan penyisipan frame pada rentang pada frame tertentu. Jika ada penyisipan, maka histrogram akan bereaksi,” ujarnya.

Setidaknya ada empat video yang dijadikan barang bukti kepada penyidik kepolisian. Video pertama berasal dari Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik DKI Jakarta dengan durasi 1 jam 45 menit. Video kedua didapat dari saksi pelapor Novel Chaidir Hasan dengan durasi 29 detik

Video ketiga berasal dari saksi pelapor bernama Muhammad Burhanuddin dengan durasi 1 jam 48 menit, dan video terakhir berasal dari saksi pelapor bernama Muchsin Alatas dengan durasi 1 jam 48 menit.

Selain bukti rekaman video, pelapor menyerahkan buku elektronik yang pernah ditulis Ahok beberapa tahun lalu. Pelapor juga menyerahkan rekaman video saat Ahok berada di kantor Partai NasDem dan rekaman video Ahok saat diwawancarai di Balai Kota. “Rekaman video itu dilakukan pemeriksaan dengan metodologi analisa yang sama. Kalau ada penyisipan akan bisa kami deteksi,” kata Nuh.

Dikutip dari sindonews.com, persidangan ke Sembilan ini menghadirkan empat orang saksi. Saksi pertama yang memberikan kesaksiannya ialah Jaenudin nelayan dari Kepulauan Seribu yang dilanjutkan dengan saksi kedua yang juga merupakan nelayan Kepulauan Seribu, Sahbudin. Selanjutnaya  Anggota Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) Hamdan Rasyid memberikan kesaksiannya.

Selain tiga saksi tersebut, masih ada saksi keempat yang juga akan dihadirkan JPU dipersidangan. Humas PN Jakarta Utara Hasoloan

Sianturi mengatakan, adapun saksi tambahan yang dihadirkan itu merupakan ahli laboratorium digital forensik Prof Muh Nuh, dan sudah mengonfirmasi kehadiran pada sidang ini.

“Satu saksi ahli lagi dihadirkan di sidang kali ini, dia ahli digital forensik,” ujarnya di Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (7/2/2017). (SaBah/dakwatuna)

Advertisements

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Kyai Cholil Ridwan: Pesantren Harus Lebih Peduli dalam Masalah Kepemimpinan

Organization