Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Perubahan Karakteristik Remaja

Perubahan Karakteristik Remaja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (persisalamin.com)

dakwatuna.comMasa remaja merupakan masa paling indah dalam diri seseorang, masa itu merupakan puncak semangat yang menggelora dari setiap individu, tetapi pada masa itulah juga seseorang mengalami yang namanya pencarian identitas diri serta memiliki rasa yang keingintahuan yang sangat besar terhadap sesuatu. Hal ini pada umumnya merupakan sifat alamiah yang deberikan sang Pencipta kepada manusia. Ada beberapa karakteristik yang bermunculan dan mengakibatkan “masalah” bagi para penderitanya dalam menentukan masa depan mereka, hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi dan diarahkan agar terciptanya generasi emas yang berkualitas.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.

Berikut Ini merupakan beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

  1. Ketidakstabilan emosi.

Emosi yang kurang stabil, cenderung berubah-ubah merupakan ciri yang paling utama terlihat pada anak-anak yang akan memasuki masa remaja mereka. Pada umumnya remaja laki-laki memiliki perubahan emosi yang lebih stabil dari pada perempuan dan hanya berpengaruh terhadap ego dan temperamen nya. Berbeda dengan perempuan yang sangat mengedepankan perasaan mereka.  Dalam hal ini, orang tua sangat berperan penting untuk menjaga emosi anak mereka. Orang tua yakni berperan sebagai pengawas sekaligus sahabat, yang bisa mengarahkan dan menenangkan emosi yang memuncak serta tidak stabil tadi.

  1. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.

Perombakan perasaan merupakan batu loncatan untuk berubah dari kehidupan sebelumnya, dari yang tadinya hanyalah anak-anak yang selalu diatur dan diurus orang tuanya lama kelamaan memiliki keinginan tersendiri. Dalam hal ini remaja akan mengosongkan diri dari didikan orang tuanya dan justru terbuka dengan pengaruh-pengaruh lain, baik pengaruh baik maupun buruk yang dapat mereka pilih sesuatu kehendak emosi mereka. Mereka akan berusaha menunjukkan ketidaktergantungan nya kepada orang tua maupun orang dewasa lainnya.

Kita tahu pasti di jaman sekarang ini banyak para remaja yang mengikuti mode terkini, fashion, baik itu dari luar maupun dalam negeri. Meskipun banyak dari mereka terkesan hanya ikut-ikutan ataupun meniru gaya idola mereka, agar terlihat “kekinian” ataupun hanya untuk mendapatkan status sosial dalam pergaulan. Seperti cermin yang mengikuti apapun yang ada di depannya, baik ataupun buruk.

  1. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.

Remaja umumnya mengalami karakter yang suka beragrumen. Mereka berani protes terhadap hal yang tidak disukainya atau tidak sependapat dengannya, termasuk nasihat orang tua. Sikap ini merupakan bentuk perubahan hormonal dan psikologi yang terjadi pada saat memasuki usia remaja dan mempengaruhi pola pikir mereka. Contohnya, seperti bertanya sebab dan akibat, dan alasan kenapa ia harus berbuat demikian, serta logika-logika yang masuk akal.

  1. Kegelisahan

Kegelisahan, keadaan tidak tenang menguasai diri remaja, banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya. Banyak cita-cita dan angan-angan yang ingin dicapai setinggi langit. Baik itu rasional maupun irasional, keinginan yang tidak tercapai tersebut akan meninggalkan perasaan gelisah bagi diri remaja. Contoh yang paling umum pada saait ini adalah membludaknya permintaan barang sekunder dan tersier, seperti HP, Tas, Motor dll

Peran orang tua dalam hal ini ialah membatasi terkabulnya permintaan anak-anak mereka, hanya memberikan sesuai kebutuhan, dan memberikan penjelasan yang logis. Agar remaja tidak merasa tertekan atau merasa bahwa mereka tidak dianggap oleh oran tuanya

  1. Senang bereksperimentasi dan eksplorasi

Eksplorasi dapat didefinisikan sebagai ketertarikan individu dalam mencari jati diri mengenai nilai, kepercayaan, tujuan dan proses eksplorasi menunjukkan percobaan dengan perbedaan aturan sosial, rencana dan ideologi. Setiap orang pasti suka mencoba hal-hal baru, tidak terkecuali para remaja. Mereka condong akan melakukan hal-hal yang baru, kekinian, trendi, atau sekedar keluar dari jalur untuk mencapai kepuasan.

Dalam hal yang positif contohnya adalah keinginan untuk menjelajahi lingkungan yang disalurkan melalui penjelajahan gunung atau sekedar ke tempat wisata. Atau yang negatif berupa pergaulan yang tidak sehat, mulai mencoba rokok, narkoba atau barang haram lainnya. Peran agama sangat penting disini, untuk mencegah terjadinya penyimpangan baik berupa materil ataupun moril. Agama dapat menjadi pengekang yang baik karena bukan hanya mengajarkan Ibadah, teta[I juga mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan dengan baik

  1. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.

Siapa yang tidak pernah berkhayal, memiliki angan-angan, ataupun sekedar bualan belaka? Berangan angan bahwa dirinya seseorang yang hebat misalnya, ataupun membayangkan dirinya sebagai karakter seperti serial kartun. Memiliki khayalan bahwa akan mendapat uang dari langit ataupun bualan lainnya. Remaja sangat suka berfantasi dalam pikiran mereka, membayangkan kehidupan apa yang mereka dapat selanjutnya ataupun memikirkan hal lain. Hal ini masih dapat ditolerir jika hanya sebatas wajar. dan tidak mempengaruhi kejiwaan.

  1. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Pasti diantara kalian pernah membuat suatu geng di sekolah, maupun di kampusnya. Kebersamaan serta kebanggaan yang besar menjadi ciri tersendiri pada setiap kelompok yang dibuat remaja pada umumnya. Tidak jarang kebersamaan yang berlebihan serta  kebanggaan tersebut menjadi penyebab munculnya perilaku negatif para remaja. Tawuran misalnya, hanya karena saling olok yang tidak jelas bisa menyebabkan bentrokan berbahaya antar kelompok remaja. Perilaku contek mencontek demi menjaga “kesolidan” yang dibangun. Tetapi jika hal ini dapat diarahkan dengan baik maka akan menciptakan dorongan moril pada sesama remaja. Remaja dapat memperoleh kekuatan dari keadaan bersama karena seperti pepatah yang mengatakan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Daftar pustaka: Psikologi perkembangan anak dan Remaja

(dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa di Kampus STEI SEBI

Lihat Juga

Giant dan Tone

Organization