Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Sekedar Lafazh Lillahi Ta’ala

Bukan Sekedar Lafazh Lillahi Ta’ala

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (iluvislam.com)
Ilustrasi (iluvislam.com)

dakwatuna.comKetika seseorang terbentur dengan sesuatu yang terpelik dalam hidupnya, maka ia akan mempertanyakan untuk apa dan siapakah semuanya? Untuk apa dan siapa hidupnya?

Manusia akan menjumpai satu titik di mana jiwanya terasa sesak terhimpit seolah tak ada oksigen yang berikannya ruang untuk bernafas. Dan titik itulah yang membuat banyak jiwa melayang, karena tak sanggup dengan kepenatan hidup. Namun hal itu tak dijumpai pada orang yang masih mempunyai iman dalam hatinya. Setidaknya mereka masih mempunyai nafas untuk menghidupi jiwanya, walau sangat sedikit. Ia masih mempunyai jiwa, namun dalam keadaan kering dan tandus.

Banyak manusia yang tak memahami untuk apa dan siapa hidupnya. Padahal Allah bukan dengan tidak sengaja menghidupkan semuanya dengan percuma, Pasti mempunyai maksud. Ruh yang telah bersarang dalam jasad kita bukanlah hadiah cuma-cuma. Tak sepatutnya kita seperti orang kafir yang memperlakukan hidup ini layaknya senda gurau dan permainan.

 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka itulah alasan Allah menghidupkan kita, Untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah adalah suatu nama untuk segala sesuatu yang mengharapkan ridha-Nya (Segala sesuatu yang dilakukan karna-Nya).

“Untuk beribadah kepada-Nya..”

“Karena-Nya…”

Dua Lafazh yang sering kita dengar dan di dengungkan di mana-mana, di ceramah-ceramah, di lagu-lagu, bahkan tak jarang Lafazh ini di gunakan untuk merayu seseorang yang jelas bukan mahramnya. “Aku mencintaimu karena Allah…”

Padahal maknanya teramat sangat dalam… tak segamblang yang diucapkan mulut dan di dengar telinga…

Coba kita simak Sabda Rasulullah yang artinya:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Kamu berperang agar namamu disebut-sebut sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” “Selanjutnya adalah orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran. Ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkannya pada berbagai nikmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, dan ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Alquran karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu belajar agar kamu disebut-sebut sebagai orang alim dan kamu membaca Alquran agar kamu disebut-sebut sebagai seorang qari’, dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

“Kemudian seorang yang diberi keleluasaan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dikaruniai beragam harta benda, lantas ia dihadapkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya. Ia pun mengakuinya. Lantas Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau buka melainkan pasti saya berinfak padanya karena-Mu.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang dermawan. Dan kenyataan kamu telah disebut-sebut demikian.’ Kemudian orang tersebut diperintahkan agar diseret pada wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (Ensiklopedi Islam Kaffah, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri, hal; 261)

Dari cerita tersebut dapat kita cermati sebagai berikut:

  1. Mereka bukanlah orang kafir yang tak tahu apa tujuan hidupnya.
  2. Bahkan mereka adalah orang alim selama didunia
  3. Dan kemungkinan besar mereka sangat memahami untuk apa ia dihidupkan di dunia, tergambar ari Lafazh yang diucapkan: ” Saya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Engkau berikan, saya lakukan semuanya karena-Mu”

Masih masuk neraka…?

Maka “LILLAHI TA’ALA” tidak segamblang yang terucap di bibir. Ketiga orang tersebut memahami untuk apa hidupnya. Tapi Allah lebih mengetahui apa yang tampak dan yang tersembunyi.

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Bahkan niat yang salah dapat fatal akibatnya, dan termasuk menyekutukan Allah. Adalah hal yang sangat penting bahwa kita harus memahami untuk apa Allah ciptakan kita. Setelah memahaminya maka fokus dan melatih diri untuk Ikhlaslah yang lebih utama, karena faktanya tidak semudah Lafazhnya.

Maka, saat jiwa manusia terasa sesak dan terhimpit, mungkin hal itu terjadi karena ia terlalu lelah dan penat dengan aktivitas dunia yang menyesakkan. Jiwanya telah sempit karna aktivitas duniawi dan tak ada ruang untuk Tuhan. Maka ia menjadi tandus. Dan iman dalam keadaan yang paling lemah. Maka perlulah kita untuk selalu menghidupkan dan menyuburkan iman ini.

FITRAH setiap manusia = IMAN.

 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QS. At-Taubah: 172)

Maka saat fitrah itu tumbuh, jangan tumbangkan ia. Karna nafsu syahwat yang akan ambil alih untuk mengendalikan diri.

Selamat menikmati indahnya Islam dan manisnya iman…

“Semanis apa iman yang telah kita rasakan? Semanis apakah iman para sahabat?? Samakah dengan kita? Dapatkah kita rasakan manis yang sama?

Sesungguhnya kadar kemanisan iman seseorang itu tergantung pada amalan2 yang ia persembahkan untuk-Nya. Semakin banyak amalnya maka semakin manis Imannya.

Jiwa yang kering dan tandus terjadi karena seseorang hanya mengamalkan amalan wajib dan menjauhi yang haram. Maka amalan sunnahlah yang menjadi pupuk keimanan seseorang.

Allah menghidupkan manusia dengan bekal atau potensi yang sama.

“Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui suatu apapun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Kita dapat rasakan manisnya iman yang mereka rasa, asalkan semua potensi yang Allah berikan telah kita gunakan dengan maksimal.

Maka haruslah kita pahami Bahwa kita hidup, karena Allah yang telah menghidupkan kita. Seolah-olah Allah meminjamkan Lafazh hidup untuk kita. Karena hakikatnya kita didunia ini bukanlah hidup yang hakiki.

ALAM RUH – DUNIA – MATI = hidup abadi. Hanya Allahlah yang memiliki makna hakikatnya secara utuh.

“Kita hidup untuk mati = kita hidup untuk hidup abadi”

Dan hati adalah jembatan untuk menuju kehidupan abadi, maka jika jembatan tersebut rusak, maka mustahil kita bisa sampai ke sana dengan selamat. Manusia bisa hidup tanpa jasad yang lengkap, tapi tak akan mampu hidup tanpa hati yang penuh iman. (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shofa Khadeeja
Mahasiswi, STEI SEBI Depok

Lihat Juga

Ketika Ada Fitrah Dalam Organisasi Dakwah