Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kesesatan yang Kadang Memikat

Kesesatan yang Kadang Memikat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

dakwatuna.com Aku ingin mengajakmu kembali ke jaman 1400-an tahun yang lalu. Ketika iblis, hanya karena ingin menghalangi orang beriman berdoa, dia berlaku sangat manis.

Masih ingatkah kita pada sosok laki-laki buta, yang karena keinginannya beriman dan berislam, Allah menurunkan ayat ‘Abasa wa tawalla….’ sebagai teguran kepada Rasul SAW yang kurang perhatian padanya? Dia adalah Abdullah bin Umi Maktum.

Dan benar, ketika iman dan Islam telah menancap di dadanya, dia adalah contoh kegigihan dalam beribadah. Tak pernah sekalipun panggilan adzan diabaikannya.

Hingga ketika dalam usia tuanya, ketika beliau meminta keringanan untuk tidak mendatangi shalat jamaah dan Rasul SAW memenuhinya, lalu ketika ditanyakan padanya “Apakah kamu mendengar adzan?” dan dijawab “Ya aku mendengar” maka keringanan itu dibatalkan Rasul dengan sabdanya “Maka penuhilah panggilan itu”, Ibnu Umi Maktum mentaatinya.

Lalu karena ketaatannya tersebut, hingga suatu ketika, dalam gelap malam untuk memenuhi panggilan adzan, dia pernah terjatuh dan wajahnya terantuk batu hingga berdarah.

Hingga kemudian, keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya ada ‘seseorang’ yang ‘berbaik hati bermanis muka’ selalu menuntun dan mengantarkannya ke masjid.

Rasa terima kasihnya, mendorongnya untuk mengetahui siapa gerangan ‘orang baik’ itu, dia bermaksud ingin mendoakannya.

Dan apa yang terjadi? ‘Orang baik’ itu tidak mau menyebutkan namanya bahkan tidak mau didoakan. Yang mengejutkan, ‘orang baik’ itu mengaku IBLIS.

Apa sesungguhnya yang ‘memotivasi’ iblis untuk menuntun dan mengantar Ibnu Umi Maktum? Tidak lain dan tidak bukan, hanya karena “Agar Ibnu Umi Maktum tidak terjatuh dalam perjalanan, hingga dia tidak berdoa memohon ampunan”

Mengapa iblis melakukan itu? Karena ketika pertama kali Ibnu Umi Maktum terjatuh dalam perjalanan ke masjid, dia berdoa dan malaikat menyampaikan bahwa separuh dosanya telah diampuni.

Itu kisah 1400-an tahun yang lalu.

Pelajaran apa kiranya yang bisa kita petik dari kisah ini?

Ingin aku katakan padamu bahwa di jaman ‘akhir jaman’ ini acapkali kesesatan ‘bermuka manis’ memukau agar umat terlena dan abai atas kebenaran. Mereka tak segan membaur dan berpura-pura toleran, agar umat tak mempermasalahkan kesesatannya bahkan membelanya ketika ada sebagian umat yang lain berusaha meluruskannya dan menghalangi agar umat tak terpengaruh kesesatannya.

Bukan hanya ‘bermuka manis’, orang-orang sesat itu juga ‘bermulut manis’ hingga -seperti Ibnu Umi Maktum- umat Islam menganggapnya sebagai orang yang baik. Padahal di balik itu -seperti iblis yang bermuka manis pada Ibnu Umi Maktum- ada maksud buruk yang tersembunyi.

Maka berhati-hatilah…! Pegang Quran dan Hadits kuat-kuat agar selamat dunia dan akhirat.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Wahid Irsyadi A
Suami dari satu istri~Bapak dari lima anak~Hamba Allah yang ingin menjadi bagian kebaikan untuk Indonesia Allah Ghayatuna, Ar-Rasul Qudwatuna, Al-Qur'an Dusturuna, Al-Jihad Sabiluna, Al-Mautu Fi Sabilillah, Asma Amanina

Lihat Juga

Seribu Warga Depok Hadiri Tabligh Akbar Ungkap Kesesatan Syiah dan Bahaya ISIS

Organization