Home / Narasi Islam / Sosial / Kesetaraan Gender Ide Menyesatkan

Kesetaraan Gender Ide Menyesatkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Orang bilang sekarang eranya emansipasi. Waktunya wanita unjuk kekuatan dan mendapatkan kedudukan yang sama dengan pria. Emansipasi, feminisme, dan kesetaraaan gender sejatinya adalah istilah-istilah asing yang masuk ke negeri ini bersamaan dengan globalisasi. Di mana globalisasi itu sendiri bermakna westernisasi. Jadi gerakan gender itu berasal dari Barat dan bertujuan menjadikan perempuan di negeri ini meniru lifestyle dan peradaban perempuan barat.

Akibat dari westernisasi ini perempuan Indonesia pun jadi ikut berlomba memperjuangkan kesetaraan gender. Salah satu hasilnya adalah tak sedikit perempuan yang menduduki pekerjaan laki-laki. Semisal, perempuan sebagai petugas pom bensin, kondektur bis, pemain sepak bola hingga menjadi presiden.

Pekerjaan yang sudah sejajar dengan pria, nyatanya masih belum cukup bagi kalangan genderis. Masih ada tuntutan lain. Seperti Artis dari Amerika yakni Arquette yang mengajak para wanita Amerika untuk berjuang mendapatkan persamaan pendapatan dengan laki-laki. (www.voa-indonesia.com, 23/2/2015). Apa yang didegungkan Arquette sejatinya menunjukkan kepada dunia bahwa sistem kapitalisme demokrasi mengeksploitasi perempuan dan tidak memuliakan harkat dan martabat perempuan.

Perjuangan kalangan genderis yang berkisar pada urusan dunia untuk memenuhi nafsu tanpa dipandu oleh tuntunan ilahi menghasilkan perjuangan yang absurd dari kebahagiaan dunia akhirat. Akhirnya yang terjadi hukum agamapun tidak lepas dari incaran mereka. Semisal gugatan mereka atas tugas wanita sebagai umm warabatul bait, hak waris, kewajiban menutup aurat, hak talak termasuk juga imam shalat.

Pertanyaanya, apakah dengan kesejajaran dalam segala hal antara laki-laki dan perempuan menjadikan perempuan sejahtera lahir batin? Dan benarkah kesajajaran dalam segala hal itu adalah sebuah keadilan?

Hakikat kebahagiaan dan kesejahteraan tidaklah dipengaruhi oleh jabatan yang dimiliki laki-laki dan perempuan. Demikian pula tidak karena kesamaan gaji yang diperoleh laki-laki dan perempuan. Setinggi apapun jabatan seorang wanita dan sebesar apapun gaji yang diterimanya maka tidak akan memberikan ketenangan batin apabila qonaah dalam diri seseorang tidak ada. Sedangkan qonaah itu hadir dalam diri seseorang ketika ada iman dalam hati. Iman dalam hati akan tumbuh subur ketika seseorang menaati Allah swt dan Rasul-Nya dalam setiap perkara yang dilakukannya.

Dengan demikian apa yang diperjuangkan oleh kaum genderis yang menuntut kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam segala halnya akan menghasilkan kesengsaraan pada kalangan wanita itu sendiri. Dan kesengsaraan itu akan meluas pada ketidakseimbangan dalam menjalankan peran masing-masingnya dalam kehidupan. Kekacauan dan kekerasan akan makin marak terjadi. Karena apa yang diperjuangkan kaum genderis ini melawan apa yang Allah tetapkan.

Oleh karena itu mari bersama-sama menolak gerakan feminisme dengan segala apa yang mereka perjuangkan. Mari berjuang menegakkan syariah Islam, syariah Allah yang akan memuliakan wanita dan memberikan kepada wanita lahan untuk mengaktualisasikan potensinya tetap dalam bingkai ketaatan kepada Allah Swt. Wallahua’lam..

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 7,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis adalah pribadi yang menyukai dunia pendidikan. Bentuk kecintaannya dengan pendidikan diwujudkannya dengan menjadi tenaga pengajar di lembaga formal maupun non formal. Selain di dunia pendidikan penulis juga menyukai kegiatan keislaman. Artinya bergerak bersama dengan lainnya untuk membangun dan memuliakan agama dan umat ini. Virus cinta Islam harus disebarkan sehingga umat ini menjadi umat terbaik. Inilah statemen yang menjadi pemicu untuk berbagi kebaikan lewat tulisan.

Lihat Juga

Kesesatan yang Kadang Memikat

Organization