Home / Pemuda / Pengetahuan / Studi Ilmiah Sederhana Fenomena Pohon yang Menangis di Blitar

Studi Ilmiah Sederhana Fenomena Pohon yang Menangis di Blitar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
"Pohon menangis" di Blitar. (detikcom)
“Pohon menangis” di Blitar. (detikcom)

dakwatuna.com Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh berita adanya pohon yang menangis (meneteskan air pada malam hari) di Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Bahkan masyarakat dari berbagai wilayah mulai berdatangan, mulai dari hanya penasaran hingga menganggap pohon tersebut membawa kebaikan. Menjadi sangat mengkhawatirkan apabila fenomena alam yang dapat dijelaskan secara ilmiah justru dianggap sesuatu yang mistis oleh masyarakat.

Sangat menarik apabila dipelajari bagaimana air dari akar sebuah pohon dapat naik hingga puluhan bahkan ratusan meter. Air mencapai puncak pohon dengan cara transpirasi, yaitu menguap melalui pori-pori di permukaan daun. Transpirasi membawa air ke dalam tumbuhan lewat akar dan naik ke puncak melalui sel-sel penyalur air dari jaringan xylem. Gerakan air ini mengalami hambatan yaitu gaya gravitasi bumi, sehingga diperlukan mekanisme untuk melawan gravitasi tersebut.

Di dalam batang tumbuhan atau pohon terdapat saluran halus yang disebut kapiler. Di dalam pipa-pipa halus tersebut terdapat gejala kapilaritas yaitu peristiwa naik atau turunnya permukaan zat cair pada pipa kapiler. Permukaan zat cair yang membasahi dinding kapiler, akan naik sesuai dengan persamaan matematis:

[pmath size=20]h = (2gamma cos theta)/({rho}gr)[/pmath]

Keterangan:

h = Kenaikan atau penurunan zat cair dalam pipa kapiler (meter)

γ = tegangan permukaan (Newton/meter)

g = percepatan gravitasi bumi (meter/detik2)

r = jari-jari pipa kapiler (meter)

berdasarkan persamaan matematis di atas apabila kita asumsikan nilai γ, θ, g konstan maka tinggi kenaikan zat cair hanya bergantung pada jari-jari pipa kapiler,

[pmath size=20]h {cdots} {infty} 1/r[/pmath]

Artinya semakin tinggi kenaikan zat cair pada pipa kapiler yang ingin di capai, maka semakin kecil pula seharusnya ukuran jari-jari pipa kapiler. Sehingga apabila kita ingin menaikkan air setinggi 100 meter dibutuhkan jari-jari kapiler dengan orde 10-6 meter.

Menurut artikel ilmiah yang berjudul “How do large trees, such as redwoods, get water from their roots to the leaves?” yang dimuat dalam www.scientificamerican.com/article/how-do-large-trees-such-a/. Panjang jari-jari kapiler pohon tertinggi (112,7 meter) yaitu kayu merah (Sequia sempervirens) adalah antara 20 sampai 200 mikron. Andai saja kita mengambil nilai terkecil yaitu 20 mikron atau 2 ×10-5 meter, maka kita hanya akan menaikkan air setinggi 2,5 meter.

Hal ini berarti selain gejala kapilaritas terdapat penyebab lain naiknya air dari akar ke puncak pohon. Penyebab lain yang pertama adalah tekanan akar (root pressure), tekanan ini hanya mampu menaikkan air maksimal 21 meter. Sehingga masih dibutuhkan tekanan tambahan untuk menaikkan air hingga 100 meter. Tekanan itu didapatkan dari penguapan air melalui daun (evapotranpiration) yang memiliki Kontribusi paling besar dalam menaikkan air hingga mencapai ratusan meter. Air yang menguap ke udara luar membuat air yang masih berada di dalam pembuluh batang (xylem) tertarik karena adanya gaya kohesi, yaitu tarik menarik antar molekul air. Berdasarkan eksperimen pada artikel tersebut diperoleh tekanan yang dihasilkan gaya kohesi antara 25 hingga 30 atm.

Fenomena pohon menangis yang ada di Blitar memiliki tinggi sekitar 15 meter, maka sangat mungkin apabila air naik dari akar menuju daun yang paling tinggi pada pohon tersebut. Pohon tersebut mengeluarkan air hanya pada saat malam hari. Pada malam hari kelembaban udara di luar meningkat sehingga proses penguapan pada permukaan daun menurun akibatnya terjadilah fenomena gutasi yaitu proses pelepasan air dalam bentuk cair dari jaringan daun. Karena sifat akar yang terus menyerap air dan mineral sehingga air yang masuk ke jaringan lebih banyak daripada yang dilepaskan melalui transpirasi. Proses gutasi juga terjadi apabila kondisi tanah sesuai dengan kondisi di mana gutasi bisa terjadi. Maka kemungkinan besar, apabila kondisi tanah sudah berubah seperti pada kondisi sebelum terjadi fenomena pohon menangis, proses gutasi akan berhenti dan pohon tersebut kembali seperti semula. Hendaknya kita menjaga diri dari tindakan yang dapat tergolong menyekutukan Allah SWT, apalagi hanya karena melihat fenomena yang seakan-akan ajaib, namun sejatinya itu fenomena ilmiah yang dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.

Wallahua’lam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,44 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hari Anggit Cahyo W
Mahasiswa Magister Pengajaran Fisika ITB, Aktif di KAMIL Pascasarjana ITB,

Lihat Juga

Mari Sadari dan Luruskan Persepsi, Skizofrenia Itu Penyakit Medis, Bukan Mistis