Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Surat: “Jangan Takut Miskin!”

Surat: “Jangan Takut Miskin!”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

dakwatuna.com  Di bawah deru kipas angin reyot ia duduk bersimpuh. Redup cahaya lampu jua menemani lantunan-lantunan doa. Sesekali isak tangis sayup-sayup, menyayat hati setiap telinga yang mendengar suaranya.

Ayah tiada pernah terdengar rengek keluh kesahmu. Nampak tegap dan gagah bahu itu memikul beban hidup keempat anak gadisnya. Ialah Surat, lelaki paruh baya yang beruntung karena dikaruniai empat orang gadis cantik titisan istri tercinta.

Kayuhan sepeda ontel biru menjadi saksi bisu perjuangan Surat dan Istri untuk mencari rejeki halal. Berkunjung ke tiap-tiap sekolah dan warung sekitar Jakarta Pusat demi menitip-jualkan es susu mambo buatan mereka. Semua itu dilakukan berdua, walau lelah namun tetap Lillah (karena dan untuk Allah Ta’ala).

Setiap hari tangan-tangan penuh kulit kapalan mengaduk beberapa baskom besar berisi adonan es susu. Kelihaian membungkus bakal es susu ke dalam plastik tidak dapat diragukan lagi. Pun tiada jemu lidah mereka mencicipi rasa manis susu yang hendak dijual kepada anak-anak sekolah.

Lidah perasa cita rasa manis itulah yang selalu melisankan nasihat-nasihat penuh manfaat kepada keturunannya. Lidah yang selalu teguh menanamkan prinsip-prinsip berlian untuk putri-putri tercinta. Salah satu prinsip mereka yang mulia yaitu: “..tak masalah walau untung kecil asal tetap manis dan sehat.”

Manis dan sehat pun prinsip hidup mereka. Kehidupan terhimpit ekonomi yang sulit tak pernah mengurangi kemanisan hidup keluarga Surat. Senantiasa menjaga keharmonisan tanpa banyak keluh kesah. Kekurangan yang dialami menjadi kunci manisnya hidup mereka.

Tak jarang sebuah hadits diriwayatkan oleh Tarmidzi melipur lara dikala pelik mendera. “Akan masuk surga orang-orang fakir dari kaum Muslimin lebih dahulu sebelum orang-orang kaya dari mereka setengah hari dan lamanya lima ratus tahun.” Merekalah kaum-kaum yang dijanjikan oleh-Nya. Mereka kaum yang dianugerahi ketabahan dan keuletan luar biasa.

Tatkala kebutuhan pangan mengapit Surat dan keluarga, tiada hal lain yang dilakukan selain berserah diri dan menjalankan ibadah puasa. Mereka tak pernah segan untuk mengajak si bungsu turut puasa disaat usianya baru mengijak 5 tahun. “Biar kecil tapi aku bisa puasa dong..” pamer gadis mungil itu.

Ayah Surat menjadi panutan bagi keluarganya. Karenanya, istri dan anak-anak tak pernah rewel ­menuntut bermacam hal yang ditawarkan dunia dan seisinya. Istiqomah dan qona’ah serta zuhud menjadi pegangan yang tergenggam dalam kepalan tangan. Bagi mereka dunia dan segala keindahannya cukup letakkan di tangan. Hanya Allah dan Rasul yang mereka simpan di dalam hati.

Tiada henti perjuangan Ayah Surat dan Istri, hingga satu waktu ia harus merelakan untuk berjuang sendiri. Istri tercinta telah habis masa waktunya di dunia dan bergegas untuk melanjutkan kehidupan yang hakiki. Terpukul hingga sedih berkepanjangan tak luput merundung langit perjuangan yang biasa dijalani berdua.

Lantas demikian, kekagumanku semakin bertambah seiring makin beratnya perjuangan Ayah empat anak itu. Berjuang untuk menghidupi pundi-pundi rupiah dan mendidik keempat bidadari-bidadari hidupnya.

Benaknya merintih dalam sembah sujud, berdoa sekuat tenaga agar sampai kepada Sang Maha Pemberi. “Jangan sampai Engkau biarkan hamba menipis iman, menipis kantong, iman tak terselamatkan, akhirnya aqidah tergadaikan pula.” Doanya terdengar penuh kekhawatiran.

Anak-anak memang dititipkan sebagai pelipur lara. Namun, tak jarang permintaan kecil tak dapat terpenuhi dan menimbulkan kekesalan dalam hati mereka. Pada titik inilah naluri kebapakan Surat diuji. Tiada daya yang dapat dilakukan kecuali nasihat demi nasihat sebagai penyegar dahaga yang kian mengering.

“Jangan takut Miskin, Nak.” Begitu ia menghimbau putri-putrinya. “Tidak boleh hasad (iri dalam bentuk menginginkan) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan kepadanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Alquran dan Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah sebab kita tetap harus patuh dan cintai ayah setelah Ibu.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratun A'la
Seorang perempuan biasa yang memiliki kehidupan yang luar biasa. Bukan seseorang yang gemar tampil di depan orang banyak, namun gemar menebar kebermanfaatan yang kasat mata bagi orang banyak.

Lihat Juga

Perumahan warga di bantaran sungai ciliwung. (okezone.com)

Data BPS Menunjukkan Kemiskinan di Indonesia Semakin Parah

Organization