Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Belajar dari Anak-anak Palestina

Belajar dari Anak-anak Palestina

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)

dakwatuna.com – Kesempatan tinggal di Indonesia sudah seharusnya patut kita syukuri. Terlepas dari segala macam permasalahan bangsa yang sedang dihadapi. Bukan apa-apa, jika kita melihatnya di luar konteks permasalahan tersebut, maka masyarakat Indonesia hidup dengan aman dan tenteram dalam rumahnya masing-masing, tanpa harus khawatir tentang kemungkinan terjadinya konflik antar wilayah yang mungkin terjadi. Hal ini karena Indonesia adalah sebuah negara yang boleh dibilang dengan predikat “aman” di dunia internasional, khususnya dalam bidang perpolitikan dan sengketa internasional. Berbeda halnya dengan yang terjadi di Palestina, masyarakatnya hidup dalam kebisingan dan suara-suara mengerikan yang hampir datang setiap saat. Bahkan mereka, untuk melangkahkan kaki keluar rumah pun perlu untuk berpikir berulang kali. Suara-suara bom dan rudal yang dijatuhkan oleh tentara Israel adalah makanan mereka sehari-hari. Hal itu tidak membuat mereka takut seiring bertambahnya intensitas serangan tentara Israel, tapi malah membuat masyarakat Palestina semakin kuat, berani dan teguh pendirian pada ketentuan Allah.

Sebagai warga negara internasional yang tinggal di negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak ini, kita seharusnya membantu mereka. Paling tidak, memikirkan dan mendoakan mereka itu sudah cukup sebagai sekecil-kecilnya hal yang bisa kita upayakan, jika ikut berperang dengan mereka tidak bisa kita lakukan. Membiarkan mereka dalam kesengsaraan dan ketidakberdayaan adalah sebuah dosa besar bagi muslim lainnya yang mengetahui peristiwa tersebut, akan tetapi mereka tidak peduli bahkan menutup mata dan hati mereka. Sungguh permasalahan yang terjadi di Palestina sana bukan hanya milik muslim Palestina saja, tapi milik seluruh muslim dunia. Keberadaan Masjidil Aqsha sebagai bangunan yang menjadi saksi dalam kisah perjalanan Rasulallah-lah yang patut kita perjuangkan. Bagaimana mungkin kita hanya berdiam diri ketika menyaksikan kehancuran terjadi di negeri Palestina. Sungguh, walaupun dipisahkan dengan samudera yang luas dan daratan yang jauh, kita tetaplah saudara yang disatukan dengan keimanan pada Allah dalam ukhuwah islamiyah.

Persoalan yang terjadi di Palestina adalah persoalan bangsa Indonesia. Ukhuwah yang terjalin antara Indonesia dan Palestina sudah terjalin semenjak masa kemerdakaan 69 tahun silam, Palestina lah yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto. Oleh karena itu, masalah konflik di Palestina sudah seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia. Khususnya muslim Indonesia. Tidak hanya, berdoa dan membantu materi semampu kita, sebagai muslim yang cerdas, kita juga harus belajar dari cerita panjang di balik perjuangan muslim Palestina untuk bertahan dan berperang fii sabilillah untuk mempertahankan wilayah yang dianugerahkan Allah tersebut.

Terinspirasi dari seorang anak Palestina yang datang ke Masjid Nurul Ashri di daerah Deresan Yogyakarta pada Senin (03/11/2014) lalu, mereka berkata bahwa sesungguhnya peperangan yang terjadi di sana tidak hanya perang fisik, tapi juga perang masa depan. Kaum zionis dari Israel ingin memberangus investasi umat Islam di sana. Sebelum perang dimulai, yang mereka (Israel) lakukan adalah menghancurkan rumah-rumah rakyat di Gaza dengan melemparkan bom, padahal Gaza hanyalah wilayah kecil. Hal ini bisa dipahami, kekhawatiran pihak Zionis terhadap isu kejayaan Islam yang akan kembali suatu saat nanti, telah membuat mereka khawatir dan grusa-grusu agar peristiwa besar itu tidak terjadi, hal itu dibuktikan dengan pemboman tempat-tempat ibadah untuk mengurangi jumlah muslim di sana. Sudah sejak 60 tahun yang lalu, orang tua di Palestina mendidik anak-anak mereka untuk menghafal Alquran, masjid yang dijadikan sebagai tempat untuk menghafal Quran menjadi sasaran empuk untuk diluluhlantahkan oleh Israel. Juga tempat-tempat lainnya yang mayoritas dipenuhi oleh umat Islam, seperti rumah penghafal Alquran, rumah sakit, dan lembaga sosial yang mengajarkan kebaikan. Allah telah berfirman dalam Quran Surat Al-Ankabut ayat 1 – 3 yang artinya:

“Alif laam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. Al-Ankabut: 1-3)

Seperti firman Allah di atas, maka konflik yang terjadi di Palestina adalah sebuah ujian dari Allah untuk menguji keimanan muslim di sana dan juga sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap mereka. Anak-anak itu meyakini bahwa ketika Israel menyerang Palestina, mereka tidak akan pernah sukses mewujudkan impian besar mereka. Yang Israel inginkan adalah ketika anak-anak Palestina yang ada di majelis ilmu keluar dari masjid-masjid dan keluar ke jalan raya, ikut bermain dan menikmati permainan perang yang mereka ciptakan. “Sekali-kali tidak demikian!!” kata mereka, yang membuat mereka tetap dan akan terus semangat ketika menghadapi serangan Israel adalah Alquran, Subhanallah Ketika Alquran dijadikan sebagai wasit, pedoman, dan panutan maka pertolongan Allah akan selalu ada. Mereka (orang-orang Palestina) meyakini itu. Lantunan ayat suci Alquran tidak pernah absen terdengar dari sudut-sudut kota Gaza, mereka membacanya, kemudian mereka memahaminya dan menghafalnya sebagai penyambung firman Allah kepada umat lainnya.

Oleh karena itu, sebagai muslim yang tinggal di negara yang jauh dari konflik persenjataan sudah seharusnya kita bersyukur, sudah seharusnya tingkat keimanan kita lebih baik dari mereka yang tinggal di wilayah persengketaan semacam itu, karena kita di sini (Indonesia) diberikan kesempatan lebih oleh Allah untuk terus belajar dengan Alquran, dikaruniai negeri yang aman dan damai, sehingga seharusnya ibadah yang kita lakukan lebih baik dan kondusif. Selain itu, sebagai saudara seiman yang terjalin dalam ukhuwah Islamiyah kita perlu mewujudkan cita-cita mulia mereka dengan menjaga anak-anak kita menjadi penghafal Alquran, memikirkan masa depan dengan Allah dan tidak tersesat dengan permainan ilusi yang menyesatkan dan menjerumuskan menuju kemasiatan. Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rahmah Husna
Mahasiswi Biologi Universitas Gadjah Mada. Peserta PPSDMS Nurul Fikri Regional 3 Yogyakarta Angkatan 7. A part of Biogama2012.

Lihat Juga

Usai Atasi Kebakaran, Parlemen Israel Bersiap Voting UU Larang Azan