Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Mercusuar Manimbaya Aku Berdiri

Di Mercusuar Manimbaya Aku Berdiri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ikhtiarui.wordpress.com)
Ilustrasi. (ikhtiarui.wordpress.com)

dakwatuna.com Di sana aku pernah berdiri, mendaki anak-anak tangga yang seluruhnya terbuat dari besi. Sebelum mendaki anak-anak tangga menuju lantai tertinggi mercusuar tersebut, rupa-rupanya banyak yang mau dan sudah mencoba tetapi belum sampai ke lantai tertingginya. Sepertinya, memang harus mengumpulkan banyak keberanian, karena kalau cuma berani saja tidak akan mampu untuk sampai di puncak mercusuar. Sepertinya, bukan hanya persoalan nyali saja, tetapi juga harus paham caranya. Bagaimana mungkin bisa mendaki anak tangga yang panjangnya kurang dari semeter dan lebar tidak lebih dari telapak kaki dengan tidak menggunakan teknik dan tidak tahu caranya? Matahari tampak sangat cerah, tak ada satupun awan yang menghalangi pancaran sinarnya. Terasa sangat panas, namun semangat berpetualang meniadakan rasa panas menyengat tersebut. Bisa jadi panas menyengat tersebut tak terasa karena hembusan angin sejuk di Tanjung Manimbaya Sulawesi Tengah. Hembusan angin tanjung yang merupakan kombinasi angin darat dan angin laut, terlihat dari dua gelombang besar yang bertemu di bagian utara Tanjung Manimbaya.

Perjalanan ini dimulai dari Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah. Sebelum menuju ke Tanjung Manimbaya di Pantai Barat, begitu kami menyebutnya, tujuan pertama adalah Pulau Pasoso yang jaraknya sekitar tiga jam perjalanan kapal laut dari Desa Malei, sebelah utara sisi luar Tanjung Manimbaya. Sesampainya di desa Malei Kabupaten Donggala kami istirahat sejenak mempersiapkan diri sebelum menaiki kapal laut keesokan harinya di pagi hari. Tetapi istirahatnya tak berlangsung lama, karena sore harinya kami bermain bola bersama penduduk lokal. Pertandingan sepak bola yang berlangsung cukup sengit, hampir semua kalangan umur bertanding di halaman belakang rumah tempat kami menginap, halamannya cukup luas dan masih merupakan halaman sekolah dasar di desa Malei. Karena yang bermain sepak bola hampir dari semua kalangan umur, dari anak kecil, menjelang dewasa, dewasa, orang tua, terkadang gelak tawa muncul di tengah-tengah permainan. Bagi kami, tak peduli kalah ataupun menang, yang terpenting semua orang menikmati permainan tersebut. Seandainya Tim Nasional Sepak Bola Indonesia juga memiliki pemikiran seperti itu, pasti akan tercipta permainan sepak bola yang solid dan indah karena menikmati sepak bola dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga.

Karena sebagian besar rombongan perjalanan ini sudah lama ter-Tarbiyah, dan sebagian besarnya adalah Aktifis Dakwah Kampus, setiap selesai melaksanakan Shalat Fardhu kami berlomba-lomba untuk Tilawah Alquran, target minimal satu juz, karena ruh Quran juga merupakan sumber energi kami, kepada siapa lagi meminta energi ruhiyah kalau bukan kepada Allah SWT. Kalau persoalan makanan jasmani itu bisa diusahakan dan diupayakan, bukankah makanan untuk Ruhiyah juga perlu diperhatikan? Di malam hari, kami berkumpul membahas persiapan menuju Pulau Pasoso di pagi hari. Pulau yang katanya berada di bagian luar Tanjung Manimbaya. Pulau yang katanya merupakan tempat budi daya hewan laut bernama penyu. Pulau yang kata orang-orang tak kalah indah dengan obyek wisata yang lain, namun belum terekspos secara masif di media, masih sebatas pembicaraan dari mulut ke mulut dan obrolan di sosial media.

Perjalanan menuju Pulau Pasoso pun dimulai di pagi hari, segala yang perlu dipersiapkan sudah dikemas di dalam ransel semi-carrier-ku. Kawan-kawan yang lain pun sudah bersiap, tak lupa kupakai syal Palestina andalanku. Syal yang merupakan produk dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP). Kudapatkan dari seorang Ibu yang sangat kusegani dan kuhormati, pada saat itu beliau masih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu dan juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Palu. Syal Palestina ini panjangnya tak sampai satu meter, kombinasi warna hitam dan putih membuatnya tampak indah, ditambah lagi dengan Bendera Palestina dan Bendera Indonesia yang menandakan eratnya persahabatan kedua negara ini. Bagaimana tidak, salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia selain Mesir adalah Palestina. Wajar saja jika tragedi kemanusiaan di Palestina juga seharusnya menjadi duka kita rakyat Indonesia, duka dengan rasa kemanusiaan yang begitu tinggi, terkhusus duka sebagai saudara sesama Muslim. Karena setiap Muslim adalah saudara, kapan saudaranya disakiti maka ia pun merasakannya.

Perjalanan menuju Pulau Pasoso pun dimulai, dengan menaiki kapal laut yang tidak terlalu besar. Membawa perbekalan secukupnya, kapal pun melaju memapas gelombang-gelombang kecil ombak dilautan. Sepanjang perjalanan, sembari mengobrol, muncul sebuah kesadaran dalam benak pikiranku. Kesadaran tentang betapa kecilnya kita di tengah-tengah lautan yang begitu besar dan lautan tersebut kapan saja atas kehendak Allah siap menghantam dan meluluhlantahkan daratan. Lautan yang merupakan ciptaan Allah yang senantiasa bertasbih memuji Allah SWT, yang cara beribadah dan bersujudnya lautan kepada Allah tak akan pernah kita tahu bagaimana caranya dan seperti apa, tetapi keyakinan bahwa segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Allah senantiasa ada. Cukup lama perjalanan ini, menyusuri pantai bagian barat Balaesang Tanjung. Sampai berada di ujung tanjung, terlihat mercusuar yang begitu sederhana. Ya, setelah dari Pulau Pasoso, besoknya kami akan segera kesana.

Pulau Pasoso mulai terlihat dari kapal kecil yang kami naiki, kecepatannya pun mulai distabilkan karena gelombang semakin besar. Kapal kecil sempat oleng beberapa saat, tetapi sang juru kemudi yang sudah punya segudang pengalaman melaut segera sigap mengatasinya, yang paling penting penumpang jangan sampai panik. Ombak yang menggulung dan tinggi mulai mereda, digantikan dengan semilir angin laut lepas dan gelombang yang tidak terlalu tinggi. Terkejut beberapa dari kami menyaksikkan kemunculan hewan laut yang akrab dengan manusia, ya, lumba-lumba mengiringi kapal kecil kami menuju Pulau Pasoso. Melompat dengan gaya khas mereka, bersama sekelompok teman-temannya. Bagiku, ini pertama kalinya melihat lumba-lumba di laut lepas, sungguh pemandangan yang benar-benar natural. Selama ini aku hanya menyaksikkan lumba-lumba di kolam pertunjukkan saja, di Taman Ria Kota Palu dan Ocean Dream Ancol Jakarta, hanya saja mereka adalah lumba-lumba yang telah terlatih dengan berbagai atraksi. Kali ini, lumba-lumba di laut lepas begitu indah disaksikkan dan menyejukkan hati. Betapa tidak, lumba-lumba yang selama ini disaksikkan dalam keadaan tertekan, kalau tidak melakukan hal-hal yang atraktif diancam tidak akan diberikan makanan bahkan akan mendapat punishment dari petugas kebun binatang. Ya, inilah realitas yang terjadi dibeberapa kebun binatang ternama dan wahana pertunjukkan hewan di Indonesia.

Semakin dekat di Pulau Pasoso, pemandangannya semakin eksotik saja. Seperti tak percaya akhirnya ini dapat disaksikan langsung oleh mata kepala sendiri, warna laut dan pasir yang betul-betul alami, mirip-mirip pemandangan pantai di Wallpaper Windows Seven. Semakin mendekat ke dermaga, terlihat satu dua ekor penyu sedang berenang dengan tenangnya, dan sekali lagi ini pengalaman pertama kali aku menyaksikkan hewan langka ini. Seperti biasa, kalau melihat objek baru pasti akan segera mengambil gambar, sesaat setelah kapal kecil kami berlabuh mulai beberapa teman-teman mencari tempat strategis untuk berfoto ria di Pulau yang masih begitu alami ini, Pulau Pasoso. Cukup banyak aktivitas yang kami lakukan di pulau ini, sampai mendapat surprise tak terduga dari komunitas mancing mania yang juga sedang berada di pulau itu, kami mendapat beberapa ekor ikan yang cukup besar hasil dari Silaturrahim. Selesai melepas lelah dan beraktifitas di Pulau Pasoso kami kembali ke Desa Malei menjelang sore. Dalam perjalanan, perenungan atas ciptaan Allah bernama laut ini terus kulakukan, bahwa ternyata betapa kecilnya kita di tengah-tengah samudera yang begitu luas ini. Menjelang berlabuh di Desa Malei, ternyata kemudi kapal kecil ini patah di tengah perjalanan tadi, hanya saja juru kemudi tak memberitahukan kami agar tak ada penumpang kapal yang panik. Sungguh sebuah kejadian dan pengalaman berharga yang seharusnya membuat kami semakin banyak bersyukur, bukannya mengeluh dan meratap.

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Manimbaya, yang sempat kami saksikan ketika dalam perjalanan menuju Pulau Pasoso sehari sebelumnya. Ternyata jalan menuju kesana lumayan jauh dan belum begitu baik, butuh ketangkasan dan kelincahan yang mumpuni dalam berkendara. Akhirnya kami tiba di Mercusuar Tanjung Manimbaya. Sebelumnya kami diingatkan oleh penduduk setempat yang berdomisili di Kompleks Mercusuar tersebut agar hati-hati dalam berkata dan tidak mengeluarkan kata-kata kotor. Menurutku ini terlalu berlebihan, tapi demi menghargai etika dan kebudayaan setempat kami memilih untuk mematuhinya. Dalam pikirku, mengapa tidak sekalian saja setiap hari dan setiap waktu bagi kita umat manusia untuk senantiasa menjaga perkataan dan tidak mengeluarkan kata-kata kotor? Bukankah itu lebih baik? Bukankah ciri perilaku manusia dapat dilihat dari kata-kata yang dikeluarkannya? Bukankah bertutur kata yang baik juga mencerminkan akhlak yang baik? Setiap waktu, setiap saat, bukan hanya di kompleks Mercusuar Tanjung Manimbaya saja hendaknya menjaga perkataan dan bertutur kata yang baik.

Aku mengambil langkah dan memberanikan diri untuk menjadi yang pertama sampai di puncak Mercusuar Manimbaya. Meskipun pada awalnya sedikit nervous dan gemetaran karena semakin ke atas, semakin tinggi, semakin kencang saja angin berhembus. Seakan-akan besi mercusuar yang kokoh tersebut bergema dan bersuara karena terpaan angin, deru suara besi yang diterpa angin seakan-akan mercusuar akan roboh. Padahal itu hanya sekadar sangkaan saja. Ini pengalaman yang amat berharga bagiku, perenungan-perenungan yang mendalam bahwa betapa tak ada apa-apanya kita di alam yang luas ini, betapa kecilnya diri kita ini. Namun sebagian besar dari kita begitu berdiri di gedung pencakar langit, berdiri di daratan perkotaan, berdiri di belantara beton perkotaan, merasa sombong dengan segala apa yang kita miliki padahal semuanya itu hanya bersifat sementara. Bukankah segala yang kekal itu ada di negeri Akhirat? Mengapa masih begitu tergila-gila mengejar kefanaan dunia? Dunialah yang menjadi tempat mengumpulkan bekal untuk menuju akhirat, inilah yang harus senantiasa terpatri dalam jiwa, pikiran, perasaan, dan hati kita.

Sesekali jelajahilah alam sekitar agar engkau juga mengetahui kompleksitas penciptaan alam beserta sistem ekologinya yang senantiasa dijaga oleh Sang Pencipta. Sesekali teroboslah jenggala-jenggala pepohonan dan rerumputan agar angkau juga menyadari bahwa betapa luar biasanya detail penciptaan setiap makhluk yang tidak akan sanggup dihitung dan diukur dengan akal kita sehebat bagaimanapun ilmu kita. Sesekali arungilah samudera yang luas agar engkau tersadar betapa kecilnya dirimu, tak pantas untuk merasa sombong dan angkuh dengan segala kemewahan yang sifatnya sementara.

Di Mercusuar Manimbaya aku mencoba berdiri setinggi-tingginya di puncaknya, berdiri dengan kapasitas ketinggian seorang hamba yang tak akan sanggup melebihi ketinggian Sang Pencipta. Di Mercusuar Manimbaya aku berdiri menatap denyut nadi alam dari pemandangan sebuah tanjung dan takjub dengan segala apa yang ada di sekitarnya. Di Mercusuar Manimbaya aku menyadari, lalu mencoba menentang zaman yang semakin cenderung pada nilai-nilai sekulerisme dan materialisme, menentang zaman dengan idealisme dan keimanan yang kokoh, dengan penuh keoptimisan mencoba bergerak dengan tetap mengikuti rambu-rambu Rabbani, seperti dinamisnya gerak Sang Penjelajah Arus, seperti besarnya kapasitas pemakai baju zirah yang terbiasa memikul amanah, seperti tingginya keyakinan para penuntas mimpi.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (hazhzhy.wordpress.com)

Karsim Bilang: Pamer Diri itu Penting