Home / Berita / Nasional / Makna Hari Pahlawan Menurut Anis Matta

Makna Hari Pahlawan Menurut Anis Matta

Presiden PKS Anis Matta saat orasi di GBK, Ahad (16/3). (dakwatuna.com)
Presiden PKS Anis Matta saat orasi di GBK, Ahad (16/3). (dakwatuna.com)

dakwatuna.com – Jakarta. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menilai bahwa hari Pahlawan yang biasa diperingati setiap tanggal 10 November, bukan semata mengingatkan cerita tentang perjuangan pahlawan, tapi juga ‘konfirmasi’ sebuah niat dan tekad mendirikan sebuah negara.

“Sejak 17-08-’45 kita sudah berniat dan bertekad mendirikan sebuah negara tempat bangsa Indonesia, bangsa yang baru lahir, bernaung. Karena itu, ketika ada pihak yang ingin mengusik terwujudnya niatan itu, para pendiri bangsa tak segan-segan mengorbankan nyawa untuk membela,” tulis Anis dalam akun Twitter @anismatta, Senin (10/11) malam.

Dia menambahkan, mendirikan negara merdeka adalah usaha untuk keluar dari penderitaan penjajahan, sedangkan merampas kemerdekaan sama dengan mengembalikan kita (rakyat Indonesia, red) ke dalam kemelaratan.

“Hari Pahlawan adalah fase krusial dalam proses menjadi Indonesia, gelombang pertama dalam perjalanan sejarah Indonesia,” ujarnya.

Hal ini, lanjut Anis, merupakan “ujian fisik” atas sebuah niat mendirikan negara bangsa sebagai jalan menuju kesejahteraan. Ini juga merupakan eksperimen sejarah, bahkan para pendiri bangsa juga belum tahu bagaimana ujungnya.

“Sama dengan ketika mereka merumuskan lahirnya sebuah “spesies baru” bernama bangsa Indonesia di laboratorium sejarah,” imbuhnya.

Lebih lanjut Anis mengatakan, kini Indonesia berada di gelombang ketiga. Menurutnya, dua gelombang sejarah sudah lalui. “Kita sudah menjadi Indonesia di gelombang pertama, dan berusaha mewujudkan negara-bangsa moderen di gelombang kedua,” ungkapn mantan Wakil Ketua DPR RI itu.

Saat ini, bangsa Indonesia belajar tentang kebulatan tekad di gelombang pertama, belajar teknokrasi di gelombang kedua.

“Kita melihat pentingnya gagasan filosfofis, pengembaraan intelektual dan imajinasi di gelombang pertama. Kita belajar tetang manajemen, organisasi, perncanaan dan teknokrasi di gelombang kedua. Kita juga belajar tentang apa yang kurang dan tidak cocok pada masing-masing episode perjalanan sejarah kita,” papar pria kelahiran Bone itu.

Menurutnya, memang hari Pahlawan sering diperingati dalam nuansa heroisme dan patriotisme. Bagi Anis, hal itu tidaklah salah. “Ada benarnya. Tapi kita juga perlu mengangkatnya ke level gagasan, mempertahankan negara merdeka adalah perwujudan sebuah gagasan,” jelasnya.

Mengutip ungkapan para cendekia, Anis mengatakan, “Ide itu berkaki” dan perjuangan fisik adalah salah satu kaki dari ide kemerdekaan. Selain itu, Anis juga menyampaikan pesan dari Almarhum WS Rendra, yang pernah mengatakan, “dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

“Semua orang bisa jadi pahlawan, ketika berjuang untuk melaksanakan kata-katanya. Mari kita sampaikan Al Fatihah bagi para Pahlawan kita,” pungkas Anis. (abr/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abdul Rohim
Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Rintihan Pahlawanku

Organization