Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Manusia dan Ilmu

Manusia dan Ilmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (halidayanti.blogspot.com)
Ilustrasi. (halidayanti.blogspot.com)

dakwatuna.com “Ilmu itu adalah cahaya dan kebodohan itu adalah kegelapan”. (Hikmah)

Pendahuluan

Manusia dan Ilmu ibarat tanah dengan air atau seperti ikan di dalam air. Tanah akan tandus, kering dan gersang bila tidak mendapatkan air. Dan hampir bisa dipastikan juga, tidak akan ada tumbuhan (tanaman) yang dapat hidup, tumbuh dan berkembang pada media (tanah) yang tidak mengandung air. Demikian halnya dengan ikan yang berada pada tempat (wadah) yang kosong tanpa air. Ia akan kekurangan hydrogen dan oksigen, lalu kemudian secara perlahan tapi pasti akan mati dan membusuk. Maka secara substantif dengan demikian dapat disimpulkan bahwa air memiliki sifat dan karakter fungsional alamiah yaitu menumbuhkan (menghidupkan).

Eksistensi

Oleh karena itu, ibarat air, Ilmu pun memiliki peran dan fungsi yang kurang lebih sama untuk manusia, yakni menumbuhkan (menghidupkan). Hal ini berarti bahwa dengan perantaraan Ilmu diharapkan akan menjadikan kehidupan manusia terasa lebih bermakna dan bernilai guna. Serta melalui Ilmu, sangat dimungkinkan akan semakin banyak kita menemukan sarana dan prasarana hidup pilihan yang menawarkan berbagai ragam kemudahan, estetika dan aneka solusi mendasar dalam memenuhi hajat manusia di kehidupan dunia yang sangat terbatas ini.

Substansi

Sehingga jika manusia tidak mengenal dan bersahabat akrab dengan Ilmu, dikhawatirkan, pada akhirnya slow but sure (lambat-laun) akan mengalami kematian (sebelum kematian yang hakiki). Setidaknya, tanpa Ilmu manusia akan cepat mengalami mati asa, mati rasa, mati gaya, mati akal, mati hati serta kebodohan (keterbelakangan) yang berkepanjangan dan mendalam. Mengapa? karena secara hakikat, pada konten semua Ilmu, sesungguhnya tersimpan intisari bekalan mendasar (ibarat makanan dan gizi) bagi potensi dasar yang secara sunnatullah inheren melekat pada diri pribadi setiap manusia. Potensi sejati yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt atas semua makhluk bernama manusia, yaitu berupa : jasad, akal dan hati.

Dengan Ilmu, sesungguhnya manusia sedang menyiapkan cahaya benderang yang akan senantiasa menyinari jalan kehidupannya selama di dunia fana menuju negeri akhirat yang pasti dan kekal. Namun sebaliknya, tanpa Ilmu, sama artinya bahwa jalan kehidupan manusia selamanya akan berada dalam dekapan kabut duniawi yang gelap pekat menuju keabadian akhirat yang telah menyiapkan berbagai bentuk pembalasan (ganjaran) atas seluruh amalan umat manusia selama di dunia.

Penutup

Pada akhirnya, kita mesti memahami dengan segenap kesadaran mendalam, mengapa menuntut Ilmu menjadi suatu kewajiban bagi setiap pribadi (Muslim) tanpa terkecuali? Karena, jawabannya sebagaimana Sabda Rasulullah Saw bahwa Ilmu merupakan ”kunci sukses” untuk menggapai kebahagiaan kehidupan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ketua Forstudi Faperta Unand Padang (1995-1996).

Lihat Juga

Konvoi bantuan kemanusiaan menembus Aleppo. (islamtoday.net)

Alhamdulillah, Bantuan Kemanusiaan Akhirnya Dapat Masuk Aleppo