Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Syukur dan Sabar

Syukur dan Sabar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (www.douniamag.com)
ilustrasi (www.douniamag.com)

dakwatuna.com Kalau kita ingin mengetahui betapa nikmat “sehat” merupakan nikmat yang tiada tara, maka rasanya kita perlu sesekali berkunjung atau menjenguk pasien-pasien di rumah sakit, di sanalah terlihat jelas betapa kesehatan merupakan nikmat tiada tara, saat menyaksikan saudara kita yang sedang diambil sebagian nikmat kesehatannya (sedang sakit), terlihat dari wajah mereka yang lemah dan pucat, terdengar rintihan kesakitan yang memelas, bahkan kadang kita melihat betapa beratnya mereka melawan penyakit yang sedang dideritanya, kita baru sadar bahwa nikmat sehat yang selama ini kita rasakan adalah sesuatu yang luar biasa, namun ironisnya kita sering lupa akan nikmat sehat dan kurang mensyukuri nikmat sehat ini.

Padahal Allah sudah mengingatkan kita dalam Alquran

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” QS.An-Naml:73

Sebagai contohnya kita yang bisa berjalan melangkahkan kaki menuju ke mana kita suka mungkin bagi kita sesuatu yang biasa dan tidak istimewa, tetapi mari kita lihat saudara kita yang sedang terbujur lemah karena sakit stroke, jangankan berjalan, menggerakkan kaki atau tangan saja tidak berdaya, karena memang ada beberapa sel saraf yang rusak akibat serangan strokenya. Padahal mereka ingin sekali berjalan atau beraktivitas seperti kita.

Atau kita yang bisa bernafas dengan normal, menghirup oksigen ke dalam paru-paru, lalu menghembuskan karbondioksida keluar paru melalui hidung secara teratur 18-20 kali setiap menitnya seolah merupakan hal yang biasa dan bukan suatu kenikmatan, padahal saudara kita yang sedang dirawat di ICU untuk melakukan hal yang sama dengan kita (bernafas) harus dibantu dengan alat bantu pernafasan (ventilator) dengan biaya tinggi dan dengan risiko kematian tinggi akibat gagal nafasnya.

Begitu juga ketika kita bisa buang air kecil (BAK) setiap hari dengan lancar dan teratur sering itu kita anggap bukan suatu kenikmatan, padahal pasien-pasien yang tidak bisa BAK karena gagal ginjal harus dilakukan cuci darah secara berkala 2-3 kali seminggu sepanjang hidupnya karena mereka tidak bisa mengeluarkan zat toksin (berupa kencing), tentunya proses cuci darah (hemodialisis) merupakan tindakan yang mahal dan banyak risiko yang bisa terjadi saat dilakukan prosedur itu, tetapi kita seringkali lupa bahwa nikmat buang air kecil merupakan kenikmatan yang tiada tara.

Hal yang sama saat kita yang bebas nyeri karena badan kita sehat sering tidak bersyukur, sementara beberapa pasien yang berhari-hari atau bebulan-bulan tersiksa nyeri yang berkepanjangan akibat penyakit kronis; kanker misalnya, begitu berat rasa nyeri yang diderita sampai mereka tidak bisa tidur nyenyak dan sering dihantui putus asa dan tersiksa sepanjang hidupnya.

Pendek kata seringkali nikmat sehat tidak kita rasakan sebagai kenikmatan dan akhirnya kita lupa untuk mensyukurinya, parahnya kita baru merasakan nikmat sehat manakala kita diberi sakit.

Padahal Allah berfirman dalam surat Luqman: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu:“Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.31:12)

Saudaraku, bilamana kenyataan sakit dan harus dirawat di rumah sakit begitu berat, begitu lelah dan memakan waktu serta biaya yang sangat tinggi, pertanyaan yang harus kita jawab sudahkah kita selalu bersyukur atas nikmat yang tiada tara seperti ini? Begitu besar nikmat sehat ini maka agama Islam menempatkan nikmat sehat ini merupakan nikmat terbesar setelah nikmat iman dan I slam

Pertanyaannya bagi kita, sudahkah kita mensyukuri nikmat sehat ini?

Bila Allah memberi kesempurnaan penglihatan (mata) kita, sudahkah mata ini kita gunakan sesuai dengan kehendak Allah, atau jangan-jangan mata ini sering melihat hal hal yang diharamkan baik melihat langsung atau melihat lewat media canggih seperti Hp, laptop, ipad. Tidakkah kita sadar bilamana mata ini dicabut kenikmatan berupa tidak bisa melihat (buta) segala daya dan upaya kita lakukan untuk mengembalikan penglihatan kita,karena buta merupakan kelainan yang sangat menyiksa, gelap pekat tanpa cahaya, itulah yang dirasakan penderita dengan kebutaan, maka dari itu mari kita gunakan mata sehat ini untuk melihat kebesaran Allah melalui penciptaan-Nya, berbahagialah seseorang manakala mempunyai mata yang sering digunakan untuk membaca Alquran, menuntut ilmu, menatap kasih sayang kepada keluarga kita atau mata yang sering berlinang airmata karena takut siksa tuhan dan selalu menangis memohon ampunan-Nya.

Bila kita diberi kesehatan berupa pendengaran, pertanyaannya sudahkah kita gunakan telinga kita untuk kebaikan, telinga yang senang mendengarkan ilmu Allah, pengajian, nasehat bukan telinga yang digunakan untuk mendegar gunjingan selebritis yang tiada manfaat sama sekali bahkan menambah dosa akibat ghibah.

Kalau kita bisa berbicara dengan lancar, sudahkah kita gunakan dengan baik, apakah ucapan kita tidak menyakitkan orang lain, apakah kita masih sering berdusta, apakah kita sering mengeluh? Berbahagialah bila kita bisa mensyukuri lidah kita dengan banyak berucap yang baik atau kalau tidak bisa berucap baik justru kita lebih baik diam, indahnya manusia yang mempuyai lidah yang selalu basah dengan menyebut asma Allah dalam setiap dzikirnya, lidah yang menenangkan pasien dan keluarganya, bukan lidah yang menyakitkan dan membuat susah hati orang lain (baca pasien dan keluarganya).

Kalau kita bisa buang air kecil dengan normal sudahkah kita bersyukur dengan cara selalu berdoa saat masuk dan keluar kamar mandi, kencing dalam posisi berjongkok dan bukan berdiri seperti yang dicontohkan nabi? Rasanya bersyukur tersebut sangat kecil dibandingkan bilamana nikmat kencing dicabut dan kita harus dilakukan cuci darah (naudzubillah), namun sudahkah kita melakukannya?

Kalau kita diberi kemampuan untuk berjalan, sudahkah kaki kita melangkah ke tempat mulia? Saat adzan berkumandang apakah kaki ini melangkah ke masjid untuk shalat berjamaah seperti yang diharapkan oleh Allah, atau justru kaki kita melangkah ke tempat maksiat dan sia-sia?

Padahal Nabi bersabda: Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kalau kita diberi kesehatan berupa nafas yang normal, sudahkah setiap hembusan nafas kita sertai dengan ucapan syukur, kita tidak harus dipasang alat bantu nafas (ventilator) seperti saudara kita yang dirawat di ICU, maka mari kita gunakan setiap hembusan nafas untuk melakukan kegiatan yang bernilai ibadah. Karena hembusan nafas adalah nikmat yang tiada taranya, 5 menit kita kita bisa bernafas maka maut bisa menjemput kita.

Sabar saat sakit

Bagi saudaraku yang sedang sakit atau menunggu keluarga yang sakit, maka sabar merupakan obat yang paling mujarab, Ingatlah, penyakit yang datang ke kita atau keluarga kita, baik penyakit ringan sampai berat bahkan penyakit HIV-AIDS sekalipun, semuanya atas kehendak Allah, maka terimalah sebagai suatu kenyataan dengan lapang dada, karena menerima dengan lapang dada akan memberi dampak kesehatan yang luar biasa dibanding bila tidak menerima keadaan dengan lapang dada. Ilmu kedokteran yang mengupas tentang psikoneuroimmunologi banyak memberikan bukti akan terbentuk zat ketahanan tubuh (immun baru) manakala otak dan tubuh seseorang bisa tenang dan pasrah, begitu juga sebaliknya imunitas seseorang akan gampang menurun saat seseorang cemas dan depresi.

Langkah berikutnya adalah berikhtiar melalui pengobatan secara syar’i untuk mencari kesembuhan, ingatlah Allah maha melihat dan maha mengetahui, setiap biaya yang harus dikeluarkan akan dicatat oleh Allah sebagai infak manakala kita ikhlas dan sabar menghadapi cobaan ini, waktu yang digunakan untuk berobat atau menunggu saudara yang dirawat inap bukan waktu yang terbuang percuma, tetapi waktu itu bernilai ibadah jikalau kita bisa bersabar dan ikhlas menerima cobaan sakit ini.

Langkah terakhir adalah berdoa dan bertawakkal kepada-Nya, sesungguhnya kita tidak mempuyai daya dan upaya apa-apa, yang punya daya dan kekuatan hanya Allah, termasuk yang menurunkan penyakit dan obatnya adalah Allah, sudah sepatutnyalah kita serahkan semuanya kepada-Nya, kita berdoa minta kesembuhan kepadanya dengan rasa rendah diri dan bermunajat serta berikhtiar, selanjutnya kita serahkan kepada-Nya. Dan marilah kita selalu berbaik sangka kepada Allah, dengan berbaik sangka maka maka Allah akan memberi kebaikan kepada kita, begitu juga sebaliknya bila kita berburuk sangka maka Allah akan memberi sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

Menurut beberapa ulama pada saat seseorang sakit, lalu dia bersabar dengan penyakitnya dan terus berikhtiar maka ada beberapa fadhilah yang diberikan antara lain

  1. Dosa-dosanya akan diampuni, sehingga kalaulah dia sembuh maka dia seperti bayi baru lahir yang tiada berdosa, dan kalaulah maut datang menjemput maka dia sudah terbebas dari dosa-dosanya.
  2. Doanya terkabulkan, maka berdoalah sebanyak banyak saat kita sakit, doa untuk kita, keluarga kita bahkan bangsa dan negara kita.
  3. Pahala yang melimpah, setiap rasa sakit di situ sumber pahala

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang Dicukupkan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Sungguh mulia urusan orang mukmin, saat dia diberi kenikmatan maka dia beryukur dan sungguh syukur itu baik baginya, dan manakala diberi kesusahan berupa rasa sakit maka dia bersabar, dan sabar itu juga baik baginya, maka tugas kita semua adalah selalu bersyukur dan bersabar dalam setiap episode kehidupan, karena memang episode hidup selalu diisi dengan bergantian, antara senang-susah, sehat-sakit, sempit-longgar, muda-tua, dan seterusnya sampai maut menjemput kita dan kita termasuk hamba Allah yang senantiasa bersyukur dan bersabar… Amin……

 

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
dr. Badrul Munir, Sp.S
Dokter spesialis saraf RSUD Saiful Anwar Malang. Dosen ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Univ Brawijaya Malang. Penulis buku "Puasa dan Otak Manusia" penerbit UB media Malang 2014.

Lihat Juga

Istri Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Erica Zainul Majdi. dan putrinya Azzadina Johara Majdi, berdonasi untuk Palestina Rp 20 juta melalui KNRP NTB, Jum'at (15/1/2016). (ist)

Syukuran Milad Anaknya, Istri Gubernur NTB Donasi Rp 20 Juta untuk Palestina