Home / Berita / Opini / Islam dan PKS Adalah “Jati Diri” Saya

Islam dan PKS Adalah “Jati Diri” Saya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: wallpaperstock.net, pksnews.com; Modifikasi: dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (Foto: wallpaperstock.net, pksnews.com; Modifikasi: dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com Saat saya berada di manapun dan hendak melakukan aktivitas apapun, insya Allah ada 2 hal (jati diri) yang saya selalu saya ingatkan kepada diri saya. Yang pertama adalah bahwa saya merupakan seorang muslimah dan yang kedua adalah bahwa saya merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kedua hal ini menjadi “harga mati” bagi diri saya secara pribadi. Tak ada tawar-menawar di dalamnya.

Untuk jati diri yang pertama, rasanya saya tak perlu repot-repot memperkenalkan diri saya sebagai seorang muslimah. Sebab tampilan lahiriyah saya sudah menunjukkan hal tersebut. Dengan kata lain jilbab yang saya kenakan sudah cukup menunjukkan siapa saya, yaitu identitas agama saya (Islam), yang mana insya Allah saya selalu berusaha untuk konsisten menjalankan ajarannya. Semoga bisa istiqamah, aamin…

Sedangkan untuk jati diri yang kedua, harus ada usaha yang saya lakukan guna menunjukkan hal tersebut kepada orang-orang di sekitar saya atau kepada siapa saja yang berinteraksi dengan saya. Oleh sebab itu sejak saya bergabung dalam barisan ini, baik ketika belum maupun sesudah menjadi partai, saya sudah berkomitmen untuk selalu membawa “PKS” ke dalam diri saya, baik melalui kata maupun perbuatan. Mengapa hal ini saya lakukan?

Yang pertama, karena saya sangat mencintai jamaah ini. Mencintai semua yang berada di dalamnya, baik manusia (kader) maupun nilai-nilai kebaikan yang selalu dibawa oleh jamaah ini. Kedua, karena saya memang ingin selalu mensosialisasikan jamaah (partai) ini, baik ketika ada ataupun tidak ada Pemilu. Bagi saya tak ada kata berhenti untuk sebuah perjuangan. Yakni menyebarkan kebaikan PKS kepada semua orang, yang saya maupun kader PKS lainnya sangat meyakini bahwa ini insya Allah akan bernilai ibadah.

Untuk itu pula, apa saja yang harus saya lakukan? Tahapan pertama yang seringkali saya terapkan adalah saya akan memperkenalkan diri saya sebagai bagian dari PKS. Ketika saya berbicara atau berkomunikasi dengan seseorang atau sekelompok orang, saya tidak segan-segan mengatakan kepada mereka bahwa saya adalah kader PKS. Sama sekali saya tidak pernah menutupinya. Apalagi jika obrolan di antara kami ada kaitannya dengan masalah politik, maka dengan mudah dan tegas saya akui siapa diri saya sebenarnya. Dengan cara ini saya berharap orang akan mengenal saya tidak hanya saja secara personal, namun juga secara organisasi di mana tempat saya bernaung dan menyalurkan aspirasi politik saya.

Dari cara yang pertama ini, memang ada banyak reaksi yang saya dapatkan. Mulai dari yang simpati, biasa-biasa saja sampai kepada yang sinis serta antipati. Semua ini saya sikapi serta hadapi semampu saya. Terhadap yang simpati dan biasa-biasa saja, saya akan selalu menjaga hubungan baik dengan mereka. Dari hubungan yang baik ini, ada yang menunjukkan respon positif dengan memberikan apresiasinya terhadap sepak terjang PKS. Tak jarang pula ada yang ikut mendukung PKS, walaupun cuma dalam bentuk sumbangan suara pada saat Pemilu. Namun ada pula yang kemudian bergabung dan menjadi kader dari jamaah ini. Terutama pada masa-masa awalan jamaah ini berkembang. Tentu saja “balasan” ini sangat membahagiakan hati saya. Alhamdulillah…

Berkenaan dengan ini saya mempunyai sebuah pengalaman. Pernah suatu ketika saya berjumpa dengan seorang bapak-bapak dalam barisan antrian membeli tiket masuk untuk sebuah pameran di JHCC. Kebetulan saat itu bapak tersebut persis berdiri di dekat saya. Karena panjangnya antrian, untuk membuang kejenuhan iseng bapak itu menegur saya ramah yang saya jawab dengan ramah pula. Dari pembicaraan yang awalnya ringan-ringan saja sampai akhirnya terjadi dialog (diskusi) masalah politik yang sedang ramai pada saat itu, yakni tentang PIlpres yang baru saja berlangsung. Dan secara kebetulan pula, di depan kami ada Bapak Effendi Simbolon beserta keluarganya yang juga sedang mengantri untuk membeli tiket. Melihat Bapak Effendi Simbolon tersebut, bapak yang berdiskusi dengan saya ini lantas bercerita bahwa salah satu abangnya juga menjadi politikus PDIP. Mendengar ceritanya membuat saya juga punya satu keyakinan bahwa beliau juga pasti orang PDIP, walaupun beliau tidak menyebutkan identitasnya secara politis. Tiba-tiba tanpa berpikir panjang, saya pun mengenalkan diri saya sebagai “kader” PKS!

Begitu beliau tahu saya adalah orang PKS, pada mulanya beliau cukup terkejut juga. Mungkin tak menyangka bila saya akan mengakui jati diri saya secara lugas dan tegas. Dan jujur memang, pada saat saya mengucapkan bahwa saya adalah “kader PKS”, ada setumpuk rasa bangga dalam hati saya yang berkelebat detik itu tanpa bisa saya cegah. Akan tetapi sungguh, tak ada sedikitpun saya bermaksud untuk riya’ (sombong). Saya cuma ingin bapak itu sekadar tahu saja siapa diri saya.  Setelah mendengar pengakuan saya, bapak itupun tersenyum dan berkata, “PKS itu bagus. Walaupun semua partai juga bagus. Karena tak ada satupun partai yang ingin menghancurkan negara ini. Masing-masing orang punya cara yang terbaik untuk Indonesia. Seperti ibu dan kawan-kawan yang ada di PKS. Saya tahu itu…” Saya pun tersenyum dan mengangguk. Alhamdulillah, ternyata respon bapak ini sangat positif terhadap PKS. Yang mana pada saat yang sama begitu banyak orang (apalagi berbeda etnis dan partai) tidak mau mengakui keberadaan serta kebaikan PKS secara blak-blakan. Inilah salah satu hikmah dari keberanian saya mengungkapkan jati diri saya sebagai kader PKS.

Ada yang simpati dan biasa-biasa saja, tentu ada pula yang antisipati dan sinis terhadap PKS. Wajar. Sikap saya terhadap yang sinis atau antipati (haters) ini adalah, jika saya anggap masih kondusif maka saya akan tetap “melayani” mereka. Berharap dari hubungan baik melalui komunikasi serta diskusi yang intens, para pembenci PKS ini mau berubah pikiran dan penilaian. Namun jika saya anggap sudah tidak kondusif lagi, lantaran mulai terasa mengganggu serta menimbulkan ketidaknyamanan dalam hubungan antara saya dengan mereka, seperti contoh mereka sengaja menyebarkan fitnah tentang PKS, maka saya akan mengambil langkah tegas yaitu memutuskan hubunagn serta komunikasi dengan mereka. Hal ini saya lakukan karena saya tidak mau terlibat dalam debat kusir yang cuma menghabiskan waktu dan energi saja. Ataupun terlibat hubungan yang kerjanya cuma menimbulkan kebencian serta permusuhan. Sungguh, tak ada toleransi saya untuk orang-orang seperti ini.

Terkait dengan haters ini termasuk juga para pembully PKS, baik di dunia nyata maupun di dunia maya melalui sosial media (sosmed). Adalah hak dan kewajiban saya sebagai kader PKS untuk meng-counter setiap berita, informasi serta isu yang tidak benar. Hak dan kewajiban saya pula untuk membela jamaah (partai) saya ini dari serangan atau bully-an orang-orang yang datang kepada saya, baik secara langsung maupun tak langsung. Karena bagi saya, membela jamaah atau partai merupakan  tanggung jawab moral yang harus dipikul oleh setiap kader, dari kelompok atau golongan manapun dia. Dan itulah yang disebut dengan “militansi” kader. Akan tetapi dalam pembelaan ini bukanlah pembelaan yang membabi-buta, yang tidak mau melihat benar atau salahnya. Bentuk pembelaannya terarah sertas  selalu berpegang teguh kepada nilai-nilai religi (agama) yang melekat dalam kehidupan kita. Dan yang tak kalah pentingnya adalah dalam setiap pembelaan atau adu argumentasi harus selalu menyertakan sumber atau data yang akurat, valid dan terpecaya. Sehingga pembelaan ini memiliki nilai positif dan ilmiah. Tidak serampangan dan asal bela.

Demikianlah, dari tulisan yang sederhana ini ada pesan yang ingin saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman. Yakni jangan pernah takut untuk menunjukkan “jati diri” kita kepada siapa pun juga. Jangan merasa khawatir orang-orang akan mem-bully kita setelah mereka mengetahui tentang identitas kita. Baik atau buruk sikap yang mereka berikan, itu adalah sebuah kewajaran. Bahwa memang tidak semua orang akan sama dan sependapat dengan kita, seiring-sejalan dengan langkah-langkah kita. Sebab berbeda itu merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Kita takkan mungkin bisa menghindarinya…

Berjalanlah terus di atas keyakinan yang benar. Dan saya juga akan berjalan di atas keyakinan saya bersama Partai Kesayangan Saya (PKS). Selama PKS tetap mengusung nilai-nilai kebaikan yang berlandaskan pada aturan Allah SWT, selama itu pula saya akan berada dalam barisan ini. Selama itu pula saya akan membela jamaah ini, hingga akhir hayat saya. Insya Allah…

Jayalah, PKS-ku…tetaplah istiqamah dan bersabar dalam menegakkan panji-panji Allah di muka bumi. Semoga keberkahan dan ridha Allah senantiasa tercurah bagimu, bagi semangat kader-kadermu yang tak pernah lelah dan lekang dimakan waktu. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir… Allahu Akbar…!!

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia

Organization