Home / Berita / Nasional / Peringati 10 November, YI-Lead: Keberanian Yang Kesatria

Peringati 10 November, YI-Lead: Keberanian Yang Kesatria

Agastya Sekjen YI-Lead dalam kelas Islamic Leadership Academy memperingati hari pahlawan. (aliansipemuda.org)
Agastya Sekjen YI-Lead dalam kelas Islamic Leadership Academy memperingati hari pahlawan. (aliansipemuda.org)

dakwatuna.com – Jakarta.  Tepat pada tanggal 10 November 69 tahun yang lalu, pertempuran terbesar pertama setelah berdirinya negara Indonesia terjadi. Tak kurang dari 30.000 pasukan sekutu Inggris, USA, Belanda dan sekutu lainnya menggempur habis dari darat, udara dan laut.

Persenjataan mereka jauh lebih modern mengisyaratkan kekuatan dan kemenangan secara hitungan matematis. Namun, Tuhan berkata lain. Perlawanan rakyat Indonesia yang sebagian besar adalah para santri dan pemuda dari seluruh pelosok tanah air tersebut membuahkan kemenangan.

Peristiwa heroik tersebut terjadi karena semangat yang menggelora dari seluruh pemuda dan rakyat Indonesia  Motivasi mereka tak lain adalah karena telah direstui oleh para Ulama besar di jawa-Madura yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari bahwa melawan penjajah tanah air adalah jihad fiisabilillaah.

Pidato Bung Tomo yang menggelora pun semakin membuat pantang menyerah para pejuang. Walau persenjataan ketika itu tidak berimbang, tapi pekik Allahu Akbar yang membahana telah cukup menjadi senjata paling kuat.

“Kita harus mewarisi, memiliki dan menularkan mental juang seperti para pahlawan. Mewarisi sikap berani yang ksatria!! “, ujar Agastya Sekjen YI-Lead dalam kelas Islamic Leadership Academy memperingati hari pahlawan.

Agastya juga menyitir bahwa instrumen terbesar kebangkitan suatu bangsa adalah pemuda. “Merekalah yang memiliki kekuatan, motivasi yang agung berjuang demi kehormatan baik bangsa maupun agama!”

“Kita harus membangun mental leader, bukan inlander. Bangga menjadi muslim, bangga dan siap berjuang berperan menjadi instrumen kebangkitan bangsa Indonesia”, tugas Agastya yang juga hadir bersama Aliansi Pemuda Islam Indonesia ini.

Pemuda yang sedang menyelesaikan pasca sarjananya di UIKA ini juga menjelaskan syarat kebangkitan suatu bangsa yakni Ilmu yang bijaksana, penguasa yang adil, keberanian (pemuda-pemudanya) yang kesatria, orang-orang kaya yang dermawan yang siap berjihad harta. Serta doa orang-orang shalih.

“Karena tidak ada yang mampu mengubah takdir kecuali doa”, kutip Agastya menerangkan hadits shahih riwayat Tirmidzi tersebut.

Dalam seminar tersebut hadir pula Akmal Sjafril, salah satu inisiator gerakan Indonesia Tanpa JIL yang juga mengisi sesi kelas tentang Ghazwul Fikr mengenali musuh-musuh Islam. Juga hadir Ustadz Abu Hanif, yang menerangkan tentang pentingnya partisipasi seluruh elemen pemuda Islam melawan setiap musuh yang menggerogoti keutuhan Indonesia.

Islamic Leadership Academy adalah program kepemimpinan berjenjang selama satu tahun yang diikuti oleh 100 pemuda-pemudi berkualitas yang disiapkan untuk calon pemimpin-pemimpin Indonesia di masa depan. (Nashir/APII/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Tarhib Ramadhan UI: “Self Leadership to Discover Love This Ramadhan”