Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memaknai Sebuah Ujian

Memaknai Sebuah Ujian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (alriyadh)
Ilustrasi (alriyadh)

dakwatuna.com “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Al Quran Surat Al Baqarah 286. Cukup dengan sepenggal ayat itu, kita bisa mempercayai Allah terhadap ujian yang dilimpahkan kepada kita sebagai hambanya.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki derajat tertinggi di antara ciptaan yang lainnya. Oleh karena itu, menjadi manusia yang sesuai dengan kedudukannya sangatlah sulit. Menjalani kehidupan di dunia dengan berbagai ujian agar memiliki keteguhan hati adalah kewajiban manusia. Sebagai mahkluk yang di gadang-gadang menjadi pusat peradaban di seluruh semesta, manusia dituntut untuk kuat dalam menghadapi segala macam lika-liku kehidupan.

Allah Subhannahu wa ta’ala bertutur dalam Alquran Surah Al-Ankabut ayat 2-3 yang artinya berbunyi:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Saya, Anda, Kita adalah manusia yang diciptakan tidak hanya semata-mata untuk menikmati berbagai keindahan dan keberlimpahan alam. Melainkan untuk melaksakan tugas yang wajib yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala. Selain beribadah, untuk menguatkan keimanan manusia, Allah menciptakan suatu mekanisme pengujian dalam berbagai macam bentuk dan fungsi. Ujian yang diberikan Allah kepada manusia tidak seperti ujian yang diterapkan dalam pemerintahan di negeri kita tercinta ini.

Ujian yang dimaksud itu adalah ujian berupa musibah atau rezeki yang diberikan-Nya untuk hambanya. Musibah dan rezeki merupakan suatu perwujudan upaya Allah dalam memantau seberapa keimanan hamba-Nya. Perspektif ujian yang diberikan Allah sangat luas. Ujian tersebut datang di kala manusia yang mulai melupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Dengan segala kekuasaannya Allah memberikan manusia ujian yang sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan mereka sendiri.

Allah maha mengetahui kondisi hambanya. Mulai dari sehat wal afiat hingga sakit. Jika manusia memiliki kesanggupan dalam menghadapi ujian yang diberikan, Allah akan dengan senang hati memberikan apa yang mereka butuhkan.

Apabila manusia sendiri menganggap ujian yang diberikan Allah terlalu berat untuknya dan memilih bergantung pada keputusasaan, Allah menyamai mereka dengan kaum kafir yang sudah tertulis namanya di dalam neraka. Maka dari itu, dalam menghadapi ujian tersebut manusia dituntut untuk tetap terus bertawakkal dan menjauhi keputusasaan. Keputusasaan tersebut timbul dari rasa di dalam hati yang dimanfaatkan oleh setan untuk menggoda manusia untuk menyerah akan keadaan. Dampak dari rasa keputusasaan tersebut adalah frustasi.

Sesuai dengan arti dalam bahasa latin frustatio , frustasi merupakan bentuk rasa kekecewaan individu yang diakibatkan oleh terhalangnya dalam pencapaian tujuan tertentu. Yang harus selalu diingat bahwa Allah memberikan ujian sesuai dengan kesanggupan hambanya dalam menghadapinya. Untuk menghindari keputusasaan yang berujung frustasi, mulai sekarang kita harus belajar untuk kuat. Kuat dalam artian mental.

Membuat diri sendiri senantiasa bersyukur akan setiap pemberian Allah baik itu musibah atau rezeki merupakan hal yang diyakini dapat menguatkan keimanan seorang manusia. Manusia yang sudah terbiasa untuk bersyukur akan pemberian Allah biasanya akan lebih menerima segala sesuatu yang terjadi pada dirinya sendiri. Mereka senantiasa lebih tenang dalam bertindak.

Bisa kita bandingkan betapa tingkat kesulitan yang Allah berikan dalam berbagai ujian kepada masing-masing hambanya. Untuk orang yang bergelimpangan harta, Allah memberikan ujian berupa harta yang dilimpahkan kepadanya. Bagaimana cara dia untuk mensyukurinya dan meningkatkan ibadah untuk-NYA dan tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang hamba. Sebagian lainnya Allah memberikan ujian berupa kemiskinan. Apakah dengan kondisinya itu dia akan tetap mengingat Allah dalam setiap kehidupannya atau tidak ?

Ujian tersebut dimaksudkan Allah bukan semata-mata menyulitkan hambanya. Allah ingin melihat seberapa kuat kita sebagai hambanya untuk terus beristiqamah berada di jalan-Nya. Tidak hanya itu, ujian tersebut menjadi sebuah tiket untuk kita terus berbuat baik sesuai perintah Allah.

Apakah bisa dibandingkan tingkat kesulitan ujian yang diberikan Allah dengan ujian yang manusia terapkan demi mendapatkan nilai? Tidak sama sekali, ujian Allah tidak bisa dibandingkan dengan ujian yang diberikan manusia tersebut. Alasannya, keduanya memiliki perbedaan kesulitan yang sangat terlihat. Allah membuat ujian tersebut untuk membuat hambanya menguatkan imannya, sedangkan ujian yang manusia terapkan tersebut esensinya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan berupa nilai.

Kembali kepada esensi ujian yang diberikannya. Allah tidak semata-mata ingin membuat hamba-hambanya menderita dengan ujian yang dia berikan. Analoginya, Allah hanya ingin men-testing kadar keimanan manusia, agar dia bisa membedakan yang mana hamba yang benar-benar bertawakkal kepadanya dan mana yang bermodal kedustaan belaka.

Sekarang prioritas utama kita sebagai seorang manusia yang melakukan peghambaan kepada tuhan semesta alam Allah Subhannahu wa ta’ala adalah bersyukur akan segala yang Dia berikan kepada kita. Ujian tersebut seakan menjadi latihan untuk kita untuk menaiki peringkat yang lebih tinggi dalam kehidupan.

Adapun Allah telah memberitahukan seluruh manusia apabila kesulitan dalam menghadapi ujian yaitu pada Alquran Surah Al-Baqarah ayat 45: mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah semata”.

Sekali lagi, untuk memaknai ujian yang diberikan Allah itu memang perlu. Setiap ujian yang diberikan Allah kepada hambanya adalah mutlak untuk melihat seberapa kadar keimanan hambanya. Cara untuk menghadapi ujian tersebut adalah dengan meminta pertolongan-Nya dengan bersabar dan taat dalam beribadah. Semoga kita selalu menjadi hambanya yang selalu bersyukur atas ujian yang Dia berikan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fajar Winarso
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta, Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Masih aktif sebagai salah satu reporter di majalah kampus GEMA. Seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk menulis dan selalu bersyukur terhadap segala nikmat.

Lihat Juga

Ilustrasi. (tammymasterkey.wordpress.com)

Kisah dari Penderita Penyakit Lupus: Menemukan Kasih Sayang-Nya Lewat Ujian

Organization