Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Surat Kontrak Azzam dengan Allah

Surat Kontrak Azzam dengan Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Terkadang kita memang harus kejam. Bukan, bukan dengan orang lain, melainkan pada diri sendiri. Ketika mungkin pelatihan untuk jasmani bisa melalui kegiatan olahraga yang menarik dan menantang, maka untuk rohani, kita butuh cambukan kata yang memacu diri kita. Karena kata bukanlah sekadar huruf yang terjejer tanpa syarat akan makna, melainkan kata adalah perantara akan beribu makna yang tersampaikan dalam jejeran huruf yang terangkai. Oleh karena itu, ketika volume semangat menjadi yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain melemah, ada kata yang mencambuk nurani kita untuk selalu merasa harus bangkit dan semakin bangkit untuk mendobrak pintu kemalasan itu sendiri. Karena percaya atau tidak percaya, ketika kita cuek pada kemalasan, maka kemalasan itu akan menciut dengan sendirinya. Oleh karena itu, setiap masing-masing dari diri kita harus ada surat kontrak pribadi antara kita dengan Allah. Ya, berupa lembar hitam di atas putih yang tepatri akan azzam dalam hati. Jikalau surat pada umumnya mampu dirobek dan dibuang ketika ada yang salah, maka begitupun surat kontrak azzam kita dengan Allah dalam hati. Bukan, bukan maksudnya untuk meremehkan surat kontrak azzam itu, melainkan bermaksud ketika ada hal-hal yang melemahkan, mampu kita buang kata yang melemahkan dalam surat kontrak azzam dengan Allah itu secepatnya.

“Karena menunggu akan suatu perubahan adalah sebuah kemustahilan tanpa adanya tindakan”

Ingin menjadi lebih baik? Maka bertindaklah. Bukan menjadi pemeran tunggu yang hanya menunggu dan terus menunggu tanpa melakukan sesuatu. Menunggu memang indah, namun jadikan waktu tunggu untuk rancangan tahapan menuju bahagia. Lakukan perubahan, dobrak pintu kemalasan. Karena ada hak orang lain pada dirimu. Ketika engkau melemah walau sesaat, maka waktu itu pulalah yang akan menghanyutkan sebagian mimpimu, percepatan pencapaian kebahagiaanmu.

“Setiap tindakan, maka ujian kan selalu membayangi. Namun ujian, takkan pernah bisa melumpuhkan tekad orang-orang yang berazzam yang kuat”.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi Fakultas Syari'ah jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum angkatan 2012 di UIN Raden Fatah Palembang.

Lihat Juga

Ilustrasi. (telltalecreations.com)

Surat “Cinta” untuk Saudaraku, Buni Yani: Innallaha Ma’ana