Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Khasnya Pemuda Era Milenium, Tak Pernah Mati Gaya

Khasnya Pemuda Era Milenium, Tak Pernah Mati Gaya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Selalu menarik ketika berbicara mengenai pemuda. Pasalnya, Negara yang ingin besar selalu membutuhkan peran pemuda dalam mempercepat pembangunannya. Umur yang tergolong produktif, kemampuan mengeksplorasi yang baik, fisik yang kuat dan semangat berinovasi membuatnya diperhatikan secara khusus di mata pemerintah. Negara pun sibuk mengembangkan potensi pemuda dan moralitasnya.

Bicara pemuda, berarti bicara seputar rentetan perubahan-perubahan besar yang terjadi. Bahkan kemerdekaan Indonesia pun tak lepas dari sumbangsih peran pemuda. Hingga keberhasilan mereformasi pemerintahan Indonesia tahun 1998, dikawal dari kesatuan pemuda. Sebabnya, banyak orang menyinggung pemuda sebagai pilar perubahan. Sehingga tak berlebih ungkapan Bung Karno yang berbunyi,”Berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.”

Pergerakan pemuda memang selalu menggariskan kekhasan tersendiri. Jika di masa lalu para pemuda lebih terfokus untuk mereformasi zaman, maka cita-cita itu telah terwujud dan akan selalu diperjuangkan untuk perubahan yang lebih baik. Di masa kini, dengan pengaruh globalisasi dan keterbukaan informasi, pergerakan pemuda menjadi semakin menarik. Simpulnya datang dari daya kreativitas dan kecerdasan mengolah informasi yang sangat baik.

Berkutat dengan gerakan mendunia sosial media, cukup ampuh membuat pemuda era Milenium berkreasi. Mereka cukup paham memanfaatkannya untuk menggulirkan opini-opini sehat dan melawan tanpa serangan fisik. Tak ayal, bermunculan akun publik maupun pribadi yang dikelola pemuda dengan gencar. Keberadaan media tersebut di awal mungkin hanya untuk berkontribusi dalam menyampaikan informasi sehat ke masyarakat. Hingga berlanjut pada ‘perang opini’ yang cukup menghidupkan suasana.

Tidak hanya itu, banyaknya karya yang dimunculkan pemuda melalui minat dan bakat, membuktikan nuansa pergerakan pemuda yang tak kaku dan dinamis. Artinya, dengan potensi apapun yang dimilikinya, di masa kini ia dapat menemukan maupun menciptakan wadah sendiri. Wadah tersebut sering kita temui sebagai bentuk komunitas. Berbagai komunitas tersebut merupakan contoh pergerakan modern yang unik dan cukup diminati. Semisal, komunitas menulis, videografi, fotografi dan politik.

Pemuda saat ini pun berjuang dengan banyak prestasi untuk mencitrakan Indonesia. Keterlibatan pemuda dalam bidang seni, budaya, sains, musik dan lainnya seringkali membuat harum nama Indonesia di kancah dunia. Gayatri, gadis yang dijuluki bocah ajaib, mampu memperkenalkan Indonesia di mata dunia dengan penguasaan 14 bahasa asing. Penemu mobil listrik, Ricky Elson, yang menarik hati Negara Jepang karena keterampilannya.

Hingga hari ini, saya masih memandang pergerakan pemuda dengan kacamata positif. Keikutsertaan mereka dalam membangun bangsa terbukti dapat diwujudkan dengan berbagai cara. Sehingga, pemuda bukanlah menjadi ‘sampah’ yang mengotori. Justru kesatuan pemudalah yang menentukan semakin kuatnya barisan tersebut. Sehingga justifikasi negatif terhadap kreativitas segolongan pemuda, saya anggap bukanlah sikap yang bijak.

Tentu semua sepakat bahwa pemuda dan politik adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Karena, kita tak memaknai politik dalam makna sempit, bukan? Setiap kita selalu melakukan aktivitas politik dalam lingkup kecil, hanya kita tak menyadarinya. Maka, antipati dengan hal-hal yang berbau politik kenegaraan adalah tidak benar. Sebab, politik adalah kunci merubah bangsa.

Pendidikan politik dewasa ini, dihantar oleh golongan mahasiswa. Saya kerap mendapati banyak aksi kreatif yang dilakukan mereka untuk dapat mendapat perhatian publik. Misalnya, mimbar bebas, petisi online, panggung pemuda dan lainnya. Intinya, pergerakan selalu ada, hanya menyesuaikan dengan zaman dan cita rasanya.

Kecerdasan yang dimiliki pemuda justru menuntutnya untuk dapat berperan menyelesaikan permasalahan bangsa. Uniknya, pemuda era Milenium pandai berkreasi dengan banyak media untuk dapat mengkritisi kebijakan pemerintah. Bahkan banyak karya maupun prestasi yang menandakan bahwa kekuatan mereka hidup dan membersamai Indonesia.

Sehingga sudah saatnya mengeksplorasi kemampuan diri sebagai pemuda. Karena, pemuda hari ini tak pernah mati gaya untuk tetap mengawal laju pemerintahan Indonesia. Meski diakui, nuansa pergerakannya cenderung kreatif dan tak kaku. Tetapi, sensitivitas kepemudaan itu tak pernah hilang.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi jenjang studi S1 FKIP Matematika Universitas Mulawarman - Tahun Angkatan 2010 - Sedang menyelesaikan tugas akhir dan mengemban amanah staff Humas KAMMI Kaltim

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Tadabbur Al-Quran Surat Al-Qiyamah Ayat 37-40: Kebangkitan Setelah Kematian