Home / Pemuda / Cerpen / Hangat Dekapan Cinta Ibu

Hangat Dekapan Cinta Ibu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (islamicartdb.com)
Ilustrasi. (islamicartdb.com)

dakwatuna.com  Kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak hanya sepanjang galah. Begitulah pribahasa yang menggambarkan betapa besarnya kasih seorang Ibu kepada anaknya. Kasihnya bagaikan matahari yang menyinari bumi, hanya memberi tak harap kembali. Sesungguhnya kau merawat serta menjagaku dengan segala ketulusanmu tanpa pernah bisa aku membalas semua yang kau berikan untukku.

Ibu adalah segalanya untukku, wanita yang paling sempurna di mataku. Pengorbanannya tidak ada tandingnya di dunia ini. Bagaimana tidak, sejak ia mengandungku selama sembilan bulan, betapa beban yang ia rasakan, belum lagi saat ia melahirkan, ia harus mempertaruhkan nyawanya hanya demi anaknya bisa menikmati indahnya dunia. Sudah lahir, ibu harus menyusui, menyuapi, hingga aku besar. Tidak mudah bagi ia untuk membesarkanku, agar menjadi insan yang sempurna.

Seluruh ruang hati seorang Ibu dipenuhi rasa bahagia dan syukur saat diberi kepercayaan kepada Allah SWT dengan dikaruniai anak kepadanya. Ibu tak pernah mengeluh saat usia kandungannya semakin besar, saat itu betapa beban yang ia rasakan. Ia mulai merasa kesulitan untuk berdiri, duduk, tidur maupun berjalan. Selama itu pula tak pernah lupa ia memanjatkan doa untukku, agar kelak menjadi anak yang dapat dibanggakan.

Sebelumku dikandung, Ibu menginginkanku ada. Sebelumku dilahirkan, ibu telah mengasihiku, sebelumku keluar dari kandungan, ibu pun rela mati untukku. Tak heran jika nyawa dipertaruhkan ibu saat melahirkanku, rasa sakit yang ia rasakan tak dapat diungkapkan. Namun, tangisanku mengalahkan rasa sakit yang ia rasakan. Kini rasa sakit yang ia rasakan berubah menjadi kebahagiaan yang tak terhingga. Inilah keajaiban kasih sayang Ibu.

Bukan hal yang mudah untuk Ibu membesarkanku. Ia harus mampu memahami tangisku, ia harus mengajariku berjalan, sampai berbicara. Ibu adalah sekolah pertama bagiku. Terima kasih Ibu sudah memberi arti ketulusan yang sebenarnya. Sesungguhnya tidaklah mudah menjadi seorang ibu, bila jadi ibu itu mudah, mungkin ayah akan melakukannya.

Seringkali aku dibuat kesal olehnya karena sikapnya yang menurutku terlalu membatasiku sangat berlebihan. Aku sudah cukup dewasa untuk melakukan hal yang membuatku ingin tahu, aku pun sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah untukku. Tetapi aku masih saja diperlakukan seperti anak kecil yang belum mengerti apa-apa, sikapnya ini lah yang membuatku marah dan tidak terima diperlakukan seperti ini. Tapi aku tahu seorang Ibu tak pernah sadar jika anaknya bukan lagi kanak-kanak. Aku pun mengerti ibu khawatir seperti ini karena darah, daging, air susu Ibu, semuanya menyatu dalam tubuhku. Maka wajar jika ia khawatirkanku, itu karena ia peduli.

Tak jarang pula aku membuatnya kecewa,sedih dan tanpa sengaja selalu menyakiti perasaanmu karena ulahku. Tak hanya sekali aku membuatmu menangis, tanpa meminta maaf setelahnya. Aku tak tahu, bagaimana perasaan ibu kala itu. Mungkin sakitnya melebihi saat melahirkanku. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu.

Menyesal! aku menyesal Ibu, telah menyakitimu seperti ini. Tak pernah berniat sedikitpun untukku melakukan ini kepadamu. Maafkan anakmu ini bu, tidak dapat memberikan yang terbaik untukmu, seperti yang kudapatkan darimu ketika kecil. Maafkan atas semua sifatku yang tak sengaja menyakitimu. Maafkan aku atas setiap tetes air mata yang membasahi wajah cantikmu hanya karena sikapku yang mengecewakanmu.

Malaikat di duniaku adalah Ibu, malaikat pelindung yang siap 24 jam menjagaku. Perempuan tulus yang tak pernah lupa caranya menyayangiku dan memperhatikan setiap aktivitasku setiap hari, jam, menit, bahkan detik. Ia selalu ada untukku saat suka maupun duka. Ia pula yang selalu memahami setiap inginku dan yang selalu memberiku semangat tiada hentinya di saat asaku mulai sayup. Ia pula yang memberiku banyak pelajaran serta pengalaman yang sangat berarti tentang kehidupan. Sungguh mulia sosok Ibu, tidaklah salah bila surga-Nya berada di telapak kaki Ibu.

Ibu di mataku sosok yang tak kenal lelah, ia rela bekerja dari sebelum terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Ibu selalu tersenyum, meskipun aku tahu di balik senyumnya terpancar rasa yang teramat lelah. Inilah pengorbanan seorang Ibu, karena Ibu akan melakukan apa saja yang terbaik untuk anaknya.

Ibu bagaikan lentera kehidupan yang tidak akan pernah padam, Ibu bagaikan rembulan yang bersinar terang dan membebaskan diri dari kegelapan, kasih sayangmu bagaikan mentari yang memberikan kehangatan sepanjang hari, kaulah anugerah yang terindah yang aku miliki melebihi dunia dan seisinya.

Ibu terima kasih atas ketulusanmu merawat dan menjagaku, sesungguhnya aku takkan pernah bisa membalas semua yang pernah kau berikan untukku. Aku rela melakukan apa saja untukmu walaupun nyawaku taruhannya, meskipun aku sadar itupun belum dapat membayar semua jasamu.

Ibu, terima kasih untuk semua tetes darah, ASI, dan keringatmu untukku, Bu. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan Jannah-Nya. Nama yang tak pernah lelah ku sebut dalam setiap doa, namamu Ibu. Dan tanpa dirimu aku tidak terlahir di dunia ini. Aku bangga menjadi anakmu. Aku sayang Ibu.

*dari gadis kecilmu

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dewi PS
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta. Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan. Program Studi Penerbitan (Jurnalistik).

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang