Home / Narasi Islam / Sosial / Keburukan Mengalahkan Kebaikan

Keburukan Mengalahkan Kebaikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Adakah keburukan yang mengalahkan kebaikan? Mungkin sebagian dari pembaca berpikir semua keburukan akan terkalahkan oleh kebaikan. Pernyataan itu memang benar adanya tapi kali ini kita akan lihat dari sudut pandang yang berbeda.

Ada berapakah jumlah keburukan atau sifat-sifat buruk yang ada di dunia ini? Ada berapa pula jumlah kebaikan atau sifat baik yang ada di dunia ini? Silahkan hitung dan sebutkan sesuai pemahaman kita masing-masing.

Jika dilist satu-satu maka akan terlihat. Jumlah sifat-sifat baik akan lebih banyak daripada jumlah sifat-sifat buruk. Tapi, mengapa selama ini kita berpikir bahwa sifat buruk itu lebih banyak daripada sifat baik?

Realita di kehidupanlah yang membuktikan jawabannya. Manusia lebih senang melakukan keburukan daripada kebaikan sebab keburukan itu berjalan berdampingan dengan hawa nafsu. Sedangkan kebaikan saling berjauhan dengan hawa nafsu sehingga orang-orang banyak yang melakukan keburukan dikarenakan mengikuti hawa nafsunya.

Hawa nafsu memang identik dengan kesenangan dunia. Sebagaian dari manusia banyak yang mengikuti hawa nafsunya karena ingin mendapatkan kesenangan di dunia. Padahal, kesenangan dunia hanya bersifat sementara. Buktinya tak ada kesenangan dunia yang mampu bertahan lama.

Dari banyaknya orang-orang mengikuti hawa nafsu agar merasakan kesenangan dunia sehingga banyak pula keburukan-keburukan yang bertebaran di dunia yang menyebabkan terlihat begitu banyak keburukan-keburukan yang dikerjakan.

Keburukan itu sedikit. Namun, dikerjakan oleh orang banyak sehingga sedikitnya keburukan menjadi banyak. Sedangkan, kebaikan itu banyak tapi dikerjakan oleh sedikit orang sehingga banyaknya kebaikan menjadi sedikit.

Awal pertama kali melakukan keburukan, hati kecil manusia akan gelisah dan memberontak. Tapi, lama-kelamaan akibat sang pelaku menjalaninya sebagai rutinitas dan merasa senang. Kegelisahan dan pemberontakan hati kecil itu pun perlahan-lahan sayup. Diri manusia akibat tak adanya pemberontakan dan kegelisahan hati kecil itu semakin merajalela melakukan keburukan-keburukan dan berbagai sifat keburukan pun menempel di dalam dirinya.

Awal pertama kali melakukan kebaikan, hati kecil manusia akan tenang tapi nafsunya yang gelisah dan memberontak sehingga jika sang pelaku kebaikan tak mampu mengendalikan hawa nafsunya maka kebaikan yang dilakukan akan terhenti.

Kebaikan jika dilakukan akan berdampak kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sedangkan, keburukan jika dilakukan akan berdampak kebahagiaan sesaat dan gelisahan tak kunjung henti akan dirasakan bagi di dunia maupun di akhirat.

Ribuan kebaikan akan menjadi satu kebaikan jika hanya dilakukan satu orang. Satu keburukan akan menjadi seribu keburukan jika dilakukan oleh seribu orang. Inilah manusia kebaikan dan keburukan hanya dilihat dari jumlah pelakunya sehingga nilai-nilai kebaikan atau keburukan terhiraukan.

Keburukan akan mengalahkan kebaikan, jika dilakukan oleh banyak orang, dilihat dari jumlah pelakunya sehingga orang-orang akan mengikuti jumlah yang terbanyak sebab dia merasa itulah adalah yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain.

Satu keburukan telah mendarah daging di dalam diri manusia kemudian ia tularkan kepada orang-orang di sekitarnya untuk melakukan keburukan tersebut sehingga menjadi dosa jariyah yang akan terus mengalir walaupun ia telah tiada.

Satu kebaikan akan menjadi ratusan dan ribuan kebaikan jika disebarkan kemana-mana kepada semua orang. Orang-orang yang terkena virus kebaikan itulah yang akan mengantarkan menjadi pahala jariyah yang tak akan berhenti hingga sang penyebar kebaikan telah tiada di bumi.

Keburukan mengalahkan kebaikan, terlalu banyak orang-orang yang melakukan keburukan. Mengapa diri ini tidak mau melakukan yang berbeda dari orang lain? Jika orang lain melakukan keburukan berarti diri ini harus melakukan kebaikan agar mengurangi jumlah orang-orang yang melakukan keburukan.

Apa artinya jika kita mengikuti sekelompok orang yang hendak menuju jurang? Apakah kita akan selamat dari jurang tersebut? Kemungkinan, selamat sangat kecil, kecuali di tepi jurang diri ini sadar bahwa sedang berada di tepi jurang kemudian berlari sekuat tenaga agar tak terjerumus ke dalamnya. Tapi, apabila diri ini tak menyadari maka diri ini pun akan ikut terjun ke dalam jurang yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya.

Berontaklah hawa nafsu yang hendak melakukan keburukan sebab kehidupan nan indah akan jelas tampak bagi orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Jumlah keburukan akan berkurang jika diri kita sendiri yang ikut berpartisipasi mengurangi keburukan-keburukan yang selama ini dikerjakan. Sambut kebaikan yang di awal mungkin terasa berat untuk dikerjakan tapi berat itu adalah pertanda ganjaran berat pun menanti sang insan dengan pahala-pahala yang berlimpah.

Jika setiap insan tetap mempertahankan keburukan-keburukan yang ada di dalam dirinya maka keburukan itu akan semakin bertambah dan bertambah jumlahnya sehingga keburukan mengalahkan kebaikan. Padahal, itu hanya gambaran di dunia sesaat.

Jumlah keburukan yang diperbuat akan berbanding lurus dengan jumlah dosa yang dikumpulkan oleh manusia. jika jumlah keburukan yang diperbuat banyak maka banyak pula dosa yang dia simpan.

Begitu pula dengan jumlah kebaikan yang dilakukan berbanding lurus dengan pahala yang akan menjadi deposit di dunia dan di akhirat kelak.

Apakah kita akan membiarkan keburukan mengalahkan kebaikan? Ataukah kita berusaha agar keburukan sedikit demi sedikit berkurang. Pada akhirnya, keburukan akan terkalahkan oleh kebaikan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Aulia Rahim
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan. Disela-sela menuntut ilmu sebagai mahasiswa diberikan amanah oleh dekanat menjadi reporter Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan.

Lihat Juga

Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa