Home / Narasi Islam / Ekonomi / Dua Jalan: Sebuah Kritik Ekonomi Konvensional

Dua Jalan: Sebuah Kritik Ekonomi Konvensional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ekonomi Syariah (Ilustrasi) - (skalanews.com)
Ekonomi Syariah (Ilustrasi) – (skalanews.com)

dakwatuna.comTampaknya realitas kekinian umat membuat sebagian besar orang menjadi pesimis. Tetapi tidak pada sebagian kecil orang-orang yang menisbatkan dirinya di jalan dakwah. Mereka justru memandang dengan penuh optimis sekalipun kondisi umat sungguh memilukan hati. Mungkin karena sudah jelas tentang keberadaan dua jalan yang senantiasa membersamai hidup umat manusia. Jalan kebaikan dan jalan selain kebaikan, yaitu jalan keburukan. Tampaknya kedua jalan ini akan membuat semua orang hanya akan memilih dua warna, putih atau hitam. Sepertinya hanya akan ada dua golongan, yang bekerja atau yang membebani. Tetapi pada dasarnya bukanlah kedua hal yang saling bertolak belakang. Karena realitas keumatan memberikan kita semua gambaran bahwa tak ada yang benar-benar putih, dan tak ada yang benar-benar hitam. Tak mutlak membebani terus menerus, suatu saat akan ada saatnya untuk bekerja. Yang bekerja juga tak boleh merasa tinggi hati karena terkadang keberadaan para pekerja juga membebani.

Sekarang jalan kebaikan dan keburukan itu mewujud nyata sebagai manfaat dan akibat. Manfaatnya adalah keberkahan pada harta dan jiwa kita, bagaimana tidak, yang dipilih adalah jalan kebaikan, jalan yang penuh dengan keberkahan. Sedangkat akibat dari memilih jalan keburukan sangat banyak, selain tidak mendapatkan keberkahan juga harus rela dilaknat oleh Allah SWT. Jalan yang telah Allah ridhai banyak yang tidak memilihnya, mungkin saja karena para penyeru jalan ini jumlahnya masih amat sangat sedikit. Meskipun jumlah para penyeru jalan kebaikan masih sangat sedikit, mereka senantiasa dilimpahi keberkahan dan Allah menentramkan hati mereka. Beda sekali kondisinya dengan mereka yang memilih jalan keburukan. Keberadaan mereka di dunia ini tak mereka pahami, darimana asal mereka, serta ke mana mereka akan menuju nantinya sampai sekarang mereka tak pahami. Bahkan banyak orang yang tak menyadari kedua jalan ini telah masuk ke ranah ekonomi mereka. Ya, ini tentang ekonomi konvensional yang telah banyak digunakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, dan ekonomi syariah yang baru sebagian orang menyadari tentang mulianya sistem ini.

Menurut DR.Euis Amalia, M.Ag., ada sebuah problem besar yang sangat mendasar dalam ilmu ekonomi konvensional yang mendominasi kajian bidang ilmu ekonomi kontemporer, yaitu ketidakmampuan ilmu tersebut memecahkan persoalan kebutuhan ekonomi manusia. Teori-teori ekonomi yang telah ada, misalnya terbukti tidak mampu mewujudkan ekonomi global yang berkeadilan dan berkeadaban. Yang terjadi justru dikotomi antara kepentingan individu, masyarakat, dan negara, dan hubungan antarnegara. Selain itu teori ekonomi yang ada saat ini tidak mampu menyelesaikan masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Juga tidak mampu menyelaraskan hubungan antar regional di suatu negara, antara negara-negara didunia, terutama antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang dan negara-negara terbelakang. Menurut Murasa Sarkaniputra, bahkan lebih parah lagi, yaitu terabaikannya pelestarian sumber daya alam (non-renewable resources).

Sri-Edi Swasono menyatakan bahwa asumsi yang selama ini dijadikan acuan dalam pengembangan ekonomi konvensional adalah paradigma lama yang bersumber dari mitos Kapitalisme Smithian, yaitu (1) kebutuhan manusia yang tidak terbatas; (2) sumber-sumber ekonomi yang relatif terbatas berupa memaksimalisasi kepuasan pribadi (utility maximization of self interest); (3) kompetisi sempurna (perfect competition); dan (4) informasi sempurna (perfect information). Pandangan ini kontradiktif dengan realitas yang menunjukkan informasi tidak sempurna (imperfect information), kompetisi tidak sempurna (imperfect competition) dan tidak pernah terwujud. Asumsi dasar yang terlalu sederhana adalah bahwa manusia rasional adalah manusia yang dengan dasar inisiatifnya sendiri mengejar utilitas ekonomi optimal, yaitu mencari keuntungan maksimal (maximum gain) dengan pengorbanan yang minimal (minimum sacrifice), ia bersaing di pasar bebas (free market) dan menjadi pelaku yang bebas dengan berpedoman pada laissez-faire laissez-passer yang meneguhkan doktrin individual freedom of action. Manusia menjadi semakin rasional dan melupakan nilai-nilai etika yang seharusnya juga menjadi pedoman dalam melakukan aktifitas ekonomi. Penulis sendiri pun yang sempat mendapatkan pengajaran ilmu ekonomi mainstream, menyadari bahwa selama ini pengajaran ilmu ekonomi tersebut bertitik tolak dari paradigma ilmu ekonomi klasikal parsial dan tidak terlepas dari asumsi-asumsi dasar yang disebut sebagai mitos-mitos Kapitalisme Smithian.

Menurut M.B.Hendri Anto, pemikiran lama yang berakar pada neoklasikal Smithian tidak berpedoman pada sistem nilai (value based) atau sekuler. Sekularisme berusaha untuk memisahkan ilmu pengetahuan dari agama dan bahkan mengabaikan dimensi normatif atau moral sehingga berdampak kepada hilangnya kesakralan kolektif (yang diperankan oleh agama) yang dapat digunakan untuk menjamin penerimaan keputusan ekonomi sosial. Sedangkan paham materialisme cenderung mendorong orang untuk memiliki pemahaman yang parsial tentang kehidupan dengan menganggap materi baginya adalah segalanya.

Tampaknya teori ekonomi yang berakar dari neoklasikal Smithian ini sudah menjadi konsumsi sehari-sehari para mahasiswa fakultas ekonomi di Indonesia. Bisa jadi teori ekonomi konvensional yang menjadi platform pengajaran ekonomi di negara inilah yang menyebabkan sekularisme dan materialisme merajalela dialam pikiran dan pemahaman para mahasiswa ekonomi yang kelak akan mengisi setiap sektor pemerintahan dan kemasyarakatan. Kelak, akan seperti apa negara ini bila pemahaman ini mendominasi pemikiran para ekonomnya? Kelak akan seperti apa kegiatan jual beli, kondisi pasar, dan kondisi ekonomi masyarakat bila nilai-nilai sekulerisme dan materialisme terus menjadi dasar teori-teori ekonomi? Sepertinya dampak dari hal ini semakin tampak dengan melihat kondisi rakyat Indonesia saat ini. Kemiskinan yang sampai sekarang belum teratasi dengan tuntas, namun ditengah kesemrawutan problematika keumatan ini masih ada sekelompok orang yang memprakarsai beberapa gerakan fenomenal, menawarkan solusi dengan kepercayaan yang begitu mendalam terhadap ekonomi syariah. Suatu teori dan sistem ekonomi yang begitu gemilang dimasa kejayaan Islam.

Meskipun jumlah mereka tidak begitu banyak, tetapi mereka percaya bahwa suatu saat ekonomi Islam akan mampu menjawab berbagai permasalahan ekonomi. Kepercayaan mereka ini muncul dari Iman yang begitu mendalam, Iman yang telah menghujam nurani mereka, dan ingin Iman tersebut tampak nyata dalam perilaku mereka, khususnya mewujud nyata sebagai perilaku ekonomi. Mereka mempercayai bahwa suatu saat pemahaman konservatif dari teori ekonomi konvensional mampu berubah sedikit demi sedikit, dan masyarakat, para pakar ekonomi, pelaku ekonomi, birokrat, teknokrat, dan seluruh unsur dapat memandang dengan penuh optimisme solusi yang mereka tawarkan, ekonomi yang bersumber dari syariat Islam dan berpedoman kepada Alquran dan Assunnah.

Memang terihat begitu ideal solusi yang mereka tawarkan ini, Ekonomi Rabbani mereka menyebutnya. Sangat-sangat ideal tanpa memandang realitas. Tetapi tahukah kita? Bahwa rasa optimis untuk menjadi pejuang Ekonomi Rabbani ini sesungguhnya muncul setelah melihat realitas yang ada. Tampaknya muluk-muluk, tetapi berangkat dari keyakinan inilah mereka yakin dengan sebenar-benarnya keyakinan akan jalan yang mereka pilih ini. Mereka beranggapan bahwa sudah semakin nyata terlihat jalan yang tampak di hadapan mereka, tepatnya dua pilihan yang memang salah satunya harus menjadi pilihan, Ekonomi konvensional atau Ekonomi Islam. Kedua jalan yang jelas arah dan tujuannya, kedua jalan yang perlu pembelajaran yang mendalam dalam penerapannya di masa kini. Tetapi bukankah kedua jalan ini telah dibuktikan oleh sejarah? Sejarah menjadi saksi kegemilangan umat dengan keadilan dan kemakmuran. Di masa lalu bukan hanya orang-orang Islam saja yang merasakan betapa komprehensifnya sistem ini, non-muslim pun merasakan keadilan dan naungan ekonomi Islam.

Mungkin kita hanya perlu membuka kembali lembaran sejarah agar semakin yakin. Bukankah pemahaman itu lahir dari membaca? Membaca dengan frekuensi yang tidak sedikit? Membaca dengan perenungan yang mendalam? Semakin banyak kita membaca tentunya akan terbentuk pemahaman yang komprehensif. Penulis mengajak para pembaca (khususnya penulis pribadi) untuk tidak pernah berhenti menjadi pembelajar. Mungkin saja hati ini sampai sekarang belum meyakini karena pemahaman yang belum mendalam. Mungkin juga keyakinan ini butuh pembuktian, maka buktikan dengan belajar kembali sejarah kegemilangan ekonomi Islam. Atau mungkin juga pemamahan ini belum tajam karena kondisi Iman yang tengah goncang, maka kuatkanlah Imanmu, perkokoh ketakwaanmu, dan yakini dengan sebenar-benarnya bahwa sekarang hanya ada dua jalan dan kita berhak untuk memilih salah satunya dengan kemantapan hati. Dua jalan itu adalah ekonomi konvensional dan Ekonomi Islam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Ilustrasi (montlakeschool.org)

Kritik Kajian Sejarah Faraq Fouda Dalam Buku Al-Haqaiq Al-Ghaibah (Bag ke-3): Seputar Khilafah Utsman bin Affan