Home / Berita / Opini / Skenario Penghancuran Indonesia, Dimulai dari Pemilu dan Parlemen (Refleksi Keprihatinan)

Skenario Penghancuran Indonesia, Dimulai dari Pemilu dan Parlemen (Refleksi Keprihatinan)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Terjadi kericuhan dalam Sidang Paripurna DPR dengan agenda lanjutan penetapan komisi dan alat kelengkapan dewan (AKD).  (tempo.co)
Terjadi kericuhan dalam Sidang Paripurna DPR dengan agenda lanjutan penetapan komisi dan alat kelengkapan dewan (AKD). (tempo.co)

dakwatuna.comProses penghancuran Indonesia sudah dimulai dengan penghancuran politik melalui proses demokrasi di negeri ini, yang didesain dan dilakukan selama puluhan tahun. Di mana pemilu merupakan  pintu awal masuknya proses penghancuran itu. Namun selalu gagal karena rakyat yàng diwakili oleh pemerintah Indonesia sangat menyadari adanya ancaman desintegrasi NKRI tersebut. Sehingga alhamdulillah sampai saat ini Indonesia masih tetap berdiri tegak sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Akan tetapi upaya pembumihangusan Nusantara ini tidak pernah berhenti. Orang-orang yàng memang sengaja di-plot untuk misi besar ini tidak pernah tinggal diam. Mereka terus memutar otak untuk mencari cara guna memuluskan “this mission impossible”. Dan ini akan terus dikerjakan sampai cita-cita mereka tercapai, yaitu hilangnya Indonesia dari tataran politik dunia. Jika mampu, mereka pun akan melenyapkan bangsa ini dari permukaan bumi. Mungkinkah?

Tak ada yang tak mungkin. Sebab ini merupakan grand design yang sengaja dibuat, agar Indonesia tidak eksis & menjadi negara hebat. Ada sekelompok orang yang merasa sangat khawatir dengan keberadaan & kebesaran Indonesia. Mengapa? Sebab Indonesia merupakan negara yang kaya-raya, sehingga banyak pihak berebut ingin menguasainya. Baik secara politik, ekonomi, hukum, budaya dan lain sebagainya.

Apa saja kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia? Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terpadat, di mana umat Islamnya terbesar di dunia. Apabila mampu dikelola dengan baik, maka akan mampu melahirkan SDM-SDM yang handal dan disegani. Kedua, letak geografis Indonesia sangat strategis dengan gugusan pulau-pulau yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Ketiga, Indonesia memiliki sumber daya alam yang tak terbilang banyaknya. Sumber daya alam (SDA) ini tersebar di seluruh wilayah Nusantara, mulai dari darat, laut maupun udara.

Oleh karenanya, dengan segala kelebihan yang dimilikinya, maka sangat mungkin akan mengantarkan Indonesia menjadi sebuah negara Adi Daya, yang akan menguasai peradaban dunia. Potensi yang luar biasa inilah yang membuat banyak pihak merasa terancam, sehingga berbagai carapun mereka tempuh untuk melumpuhkan dan mematikan Indonesia.

Adapun salah satu strategi mereka yaitu memanfaatkan jalur politik. Semua tahu bahwa Indonesia menganut sistem demokrasi dengan Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai sarananya. Lewat jalur Pemilu inilah langkah mereka dimulai. Pertama-tama adalah dengan menciptakan Pemilu yang kacau dan un-ligitimated. Akan tetapi sayangnya usaha ini tidak begitu membuahkan hasil, walaupun ada beberapa kali Pemilu di Indonesia mengalami masalah. Namun tidak sampai mengancam keberlangsungan berbangsa & bernegara bagi Indonesia. Negara ini masih bisa terus berjalan dengan aman dan damai.

Rupanya gagal berkali-kali tidak membuat mereka kehilangan akal, mereka terus berupaya mencari celah untuk menghancurkan Indonesia. Dan tampaknya usaha mereka mulai menemukan titik terang, yaitu melalui Pemilu 2014 yang berlangsung belum lama ini. Di Pemilu inilah mereka melihat peluang bagus untuk melancarkan aksi & misi mereka.

Dimulai dengan menciptakan keruwetan dan kacau-balaunya proses Pemilihan anggota Legislatif (Pileg) serta Pemilihan Presiden (Pilpres) yang masih menyisakan banyak persoalan. Dilanjutkan dengan carut-marutnya wajah parlemen Indonesia sampai hari ini, di mana kita semua bisa sama-sama menyaksikan bagaimana kisruh dan ramainya gedung wakil rakyat itu dalam setiap persidangannya. Interupsi yang diekspresikan dalam bentuk teriakan berisi caci-maki, sumpah-serapah serta saling tunjuk muka sudah menjadi pemandangan biasa dalam gedung milik rakyat itu.

Bahkan baru-baru ini salah seorang anggota dewan dengan arogannya membalikkan dan membanting dua meja sekaligus ketika Sidang Paripurna berlangsung. Begitu pula dengan adanya gerakan “mosi tidak percaya” kepada pimpinan dewan yang konstitusional, yang berujung pada pembentukan parlemen tandingan oleh sekelompok orang, karena merasa diperlakukan tidak adil oleh anggota dewan yang lain.

Mereka lupa bahwa gedung dewan dengan semua perangkatnya itu dibeli dari uang rakyat dan mereka bisa duduk di situpun karena dipilih oleh rakyat. Makan dan minum mereka dibiayai oleh rakyat. Jadi ketika mereka berbuat seenaknya tanpa mau tahu bagaimana perasaan rakyat, berarti mereka telah melukai hati rakyat Indonesia dan mereka sangat tidak pantas untuk berada di sana. Mereka telah mencederai dan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh rakyat, apapun itu alasannya.

Sungguh miris dan prihatin kita melihatnya. Meskipun kita juga tahu, bahwa pelakunya adalah sebagian kecil dari anggota dewan yang ada. Namun secara institusi, lembaga negara yang mewakili seluruh rakyat Indonesia ini telah kehilangan mukanya. Karena ambisi, mereka lebih mengedepankan emosi. Karena kekuasaan, mereka rela martabat bangsa ini tergadaikan. Bagi mereka sebuah kursi lebih berharga daripada harga diri yang notabene harus mereka jaga sampai mati. Oleh karenanya, apakah mereka masih layak disebut sebagai “Anggota Dewan yang Terhormat”? Entahlah…

Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang harus tetap kita ingat juga waspadai. Bahwa ada pihak-pihak yang bersorak dan bertepuk tangan menyaksikan wajah parlemen Indonesia akhir-akhir ini. Ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan suasana gaduh ini. Ada pihak-pihak yang mencoba mengambil keuntungan, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dari semua kekacauan dan ketakpastian ini. Ada pihak- pihak yang ingin membuat Indonesia chaos dan hancur.

Dan itu dimulai dari Pemilu yang berimplikasi kepada wajah parlemen, yakni dengan sengaja menciptakan sebuah parlemen yang bobrok dan tidak berwibawa. Caranya adalah dengan menempatkan orang-orang yang tidak  kredibel, orang-orang yang memang tidak memiliki kapasitas sebagai anggota dewan yang akan memperjuangkan aspirasi rakyat dengan sebenarnya. Hingga tak heran jika kita mendapati isi parlemen seperti saat ini, berisi manusia-manusia yang ambisius, haus serta rakus akan kekuasaan dan uang.

Dengan cara begini maka cepat atau lambat parlemen Indonesia akan melemah, karena sudah tak ada lagi kepercayaan dari rakyat. Parlemen kehilangan wibawanya di mata rakyatnya sendiri. Tak ada lagi legitimasi, parlemen mengalami deadlock. Dampaknya tentu saja akan merembet kemana-mana, sebab parlemen adalah mitra pemerintah dalam rangka menyukseskan program-program yang akan dijalankan. Akhirnya rakyatlah yang akan menjadi korbannya.

Hancurnya parlemen merupakan hancurnya sebuah negara. Apabila hal ini tidak cepat disadari dan dibenahi, maka jangan salahkan nantinya akan muncul “parlemen jalanan” sebagai ekspresi dari kekesalan rakyat terhadap wakil-wakil mereka. Apabila ini terjadi, berarti skenario penghancuran Indonesia pun berhasil. Inilah yang mereka harapkan. Dengan dalih untuk menyelamatkan rakyat, mereka akan mengambil alih Indonesia. Ya… Mereka selalu mengatasnamakan rakyat. Dan itu memang alasan termudah serta termurah yang mereka terapkan, tanpa mereka harus bersusah-payah ataupun terjun langsung dalam konflik yang terjadi di negeri ini. Briliyan sekaligus sadis!

Tentu saja kita berharap dan berdoa semoga semua ini tidak pernah terjadi. Semoga para anggota dewan, pemerintah  beserta seluruh komponen bangsa cepat menyadarinya. Selanjutnya segera membenahi dan menyelesaikan konflik yang terjadi dengan menanggalkan egoisme, ambisi serta kepentingan masing-masing. Sebab jika tidak, kehancuran negeri ini tinggal menunggu waktunya saja. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, ketika anak cucu kita sudah tidak lagi menemukan sebuah negara kaya bernama Indonesia.

Wallahu a’lam…

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ria Dahlia
Ibu rumah tangga dengan 5 orang anak.Terus berkarya, baik dalam diam maupun bergerak, tak ada kata berhenti sampai Allah yang menghentikannya, tetap tegar walau badai menghadang.
  • Son Of The Ocean

    Kecintaan anak bangsa pada bumi pertiwi ini sudah terkikis dan nyaris pupus. Penyebabnya tidak lain adalah karena kita sudah jauh meninggalkan apa yang menjadi pedoman kita berbangsa yaitu Pancasila. Masuknya sistem demokrasi neo liberal secara perlahan dan pasti juga telah makin jauh melencengkan kita dari norma-norma UUD 45. Tidak ada cara lain, para tokoh negeri ini harus berkumpul dan mengikat sumpah untuk memperbaiki keadaan. Jika itu tidak dilakukan, Indonesia akan menjadi sebuah “KENANGAN”.

Lihat Juga

Islam di Indonesia, Jangan Ibarat Air Susu Dibalas Air Tuba