Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Asupan Ruhiyah

Asupan Ruhiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Membaca Al Quran (ilustrasi).  (syaamilquran.com)
Membaca Al Quran (ilustrasi). (syaamilquran.com)

dakwatuna.com Ruhiyah, menjadi aset fundamental keimanan seorang kader dakwah. Iman yang goyah, berawal dari kualitas ruhiyah yang menurun. Sehingga yang timbul kemudian ialah naz’ah (kecondongan terhadap dunia), mudah bermaksiat, dan malas melakukan amal shalih. Di saat-saat seperti itulah, setiap kader dakwah hendaknya mengisi kembali kualitas imannya dengan asupan ruhiyah yang mumpuni.

Islam pun telah menyediakan banyak perangkat ubudiyah untuk meningkatkan kualitas ruhiyah yang sedang menurun:

  1. Shalat

Shalat menjadi amalan penentu kualitas iman seorang kader dakwah. Karena jika kualitas shalatnya sudah baik, maka ibadah yang lainnya hampir bisa dipastikan baik. Sehingga terdapat berbagai macam shalat sunnah yang rasul contohkan, sesuai dengan fenomena apa yang dijalani seorang mukmin. Dalam sejarahnya pun, shalat menjadi satu-satunya ibadah mahdhoh yang allah syariatkan selama periode dakwah rasul di Mekkah. Begitu tingginya peran shalat dalam agama Islam, hingga rasul bersabda:

“Shalat adalah tiang agama; barangsiapa menegakkannya, maka dia telah benar-benar menegakkan agama. Barangsiapa meninggalkannya, maka dia telah benar-benar merobohkan agama.” (HR.Thabrani)

  1. Taddabur Quran

Di dalam taddabur Quran, terdapat perenungan. Di dalam taddabur Quran, terdapat usaha pendekatan diri kepada Allah. Di dalam taddabur Quran, terdapat ayat-ayat suci yang bisa menjadi media pengantar ilham. Semuanya merupakan obat penenang jiwa, dari segala kerumitan rutinitas harian, dan segala problematika hidup yang datang silih berganti.

  1. Dzikrullah dan Doa

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Dzikrullah dan doa menjadi asupan ruhiyah yang paling mudah untuk dilakukan, karena sifatnya yang fleksibel terhadap konteks ruang dan waktu. Tapi kemudahan itulah yang justru memberikan dampak besar bagi struktur kejiwaan seseorang. Sifat mudah marah, egois, sedih yang berkepanjangan, hingga iri dan dengki; akan terkikis dengan sendirinya. Apalagi jika amalan ini dengan istiqamah dilakukan.

Seperti itulah ragam asupan ruhiyah yang menjadi sumber energi kehidupan. Karena dari ruhiyah yang kokoh; akan lahir keikhlasan dalam bekerja, keimanan yang terjaga, hingga pikiran yang jernih. Aset-aset fundamental seperti itulah yang harus dimiliki setiap kader dakwah. Agar orientasi kerjanya bukan hanya kebahagiaan diri sendiri, tapi juga kebahagiaan orang lain yang ikut terpegaruh aura ruhiyah yang terpancar dari dalam diri.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (twitter)

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?