Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Persahabatan Dua Pemuda Tampan

Persahabatan Dua Pemuda Tampan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)

dakwatuna.com Alkisah, hiduplah seorang pemuda tampan dan nyaris sempurna. Selain tampan, ia pun terkenal kaya raya, ramah kepada sesama, dan gemar membantu orang yang kesusahan. Kebaikannya begitu semerbak dan ketampanannya demikian memikat, hingga ke mana pun ia melangkah orang-orang senantiasa menghampirinya untuk sekadar menyampaikan kekagumannya ataupun kebutuhannya.

Masih di kota yang sama hidup pula seorang pemuda yang sangat tampan cerdas. Namun sayang ia begitu miskin, hingga untuk makan saja ia harus berjuang keras untuk mendapatkannya. Bajunya yang demikian lusuh dan penuh dengan tambalan telah menyembunyikan ketampanannya dari perhatian orang-orang. Hampir tak satu pun warga yang mempedulikannya, hanya pada saat mereka membutuhkan orang untuk mengerjakan pekerjaan kotor dan menjijikan mereka menyuruhnya untuk mengerjakannya dengan upah alakadarnya.

Si pemuda miskin itu menjadi sedih dan kesepian. Kesedihannya kian menjadi saat melihat pemuda tampan dan kaya raya itu, betapa pemuda itu begitu diperhatikan dan dielu-elukan. Pemuda miskin itu selalu berharap bahwa suatu saat nanti orang-orang juga akan memperhatikan dirinya karena ia juga memiiki banyak hal yang ingin ia bagikan kepada orang banyak.

Suatu hari pemuda miskin itu memberanikan diri menemui pemuda kaya raya tersebut. “Permisi” katanya dengan suara parau dan lirih. “Bolehkah saya meminta bantuan anda?” Pemuda kaya raya yang baik hati tersenyum kepada pemuda miskin itu.

“Tentu saja” jawabnya. “Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan tulus.

“Begini” kata pemuda miskin itu. “Anda sangat tampan dan kaya, sehingga semua orang demikian memperhatikan dan ingin bertemu dengan anda. Sedangkan saya hanyalah pemuda miskin yang tidak mampu berpenampilan menarik dan indah, hingga tak ada seorangpun yang ingin memperhatikan saya. Saya ingin sekali kau meminjamkan salah satu baju terbaikmu dan berjalan keliling kota bersama-sama anda, walau hanya sehari saja. Mungkin dengan demikian orang-orang akan memperhatikan saya dan mau mendengarkan saya, karena banyak sekali yang ingin saya bagikan kepada mereka. Ah, andai saja mereka tahu.”

Mendengar permintaan pemuda miskin itu, pemuda kaya raya yang baik hati itu segera mengabulkannya.

Keesokan harinya, pemuda tampan dan kaya raya itu memakaikan salah satu pakaian terbaiknya kepada pemuda miskin itu dan mengajaknya berjalan-jalan berkeliling kota bersamanya. Di mana-mana, seperti biasa, orang-orang sibuk memperhatikan pemuda tamapan yang kaya raya itu. Sekarang ia dan pemuda tampan yang berbusana indah yang berjalan bersamanya. Selama perjalanan, pemuda miskin yang cerdas itu bercerita tentang berbagai hal kepada pemuda yang tampan dan kaya itu. Tahulah sang pemuda tampan dan kaya itu bahwa pemuda miskin ini memiliki pengetahuan yang sempurna tentang segala hal dan kehidupan.

Sejak saat itu mereka pun kemudian bersahabat, dan ke manapun pemuda tampan dan kaya raya itu pergi sahabatnya itu selalu menyertainya. Warga pun kian bahagia karena selain pertolongan dari si pemuda kaya, kini mereka pun memiliki tempat bertanya dan mendengarkan kisah-kisah luar biasa dari si pemuda miskin itu.

Siapakah nama pemuda miskin berbaju jelek itu? Dialah yang hari ini sering dikenal dengan nama ‘Islam’. Dan siapakah pemuda tampan yang kaya raya itu? Dialah yang hari ini lebih dikenal dengan nama ‘Amal’.

Terinspirasi dari buku One Hundred Wisdom Stories from Around The World, Margaret Silf

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lahir di Sukabumi, Menyukai membaca, menulis dan bercerita. Mengajar sebagai guru di Sekolah Penghafal Al-Quran di Lebak Bulus.

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini