Home / Narasi Islam / Sejarah / Imam Syahid Hasan Al-Banna Sang Guru Dunia (Bagian ke-2)

Imam Syahid Hasan Al-Banna Sang Guru Dunia (Bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Hasan Al-Banna. (inet)

dakwatuna.com Hasan Al-Banna sangat prihatin dan bersedih menyaksikan kondisi umat Islam, baik di dalam negeri atau pun di dunia Arab pada umumnya. Waktu itu negara Islam dalam cengkraman penjajahan negara barat, kekayaan Negara habis dikuras dan dikirim ke negara penjajah, rakyat hidup dalam tekanan dahsyat, tidak ada kebebasan, semua diatur penjajah. Orang yang vokal terhadap penjajah bisa hilang seketika. Para pengkhianat dipelihara sedemikian rupa, sebagai kaki tangan penjajah dalam menguasai rakyatnya. Makanya, banyak rakyat yang mati di tangan orang Mesir sendiri karena hanya memenuhi ambisi pribadi dan keuntungan singkat.

Di sisi lain, pengamalan agama di tengah masyarakat tidak tampak, pergaulan bebas merajalela, banyak pemuda pemudi yang mengikuti arus westernisasi yang bebas dari nilai-nilai. Organisasi atau Kelompok agama tidak akur dan mudah tersulut perpecahan, sementara ulama tidak bisa berbuat banyak bahkan di antara juga ada yang terpesona dengan rayuan dunia.

Hal inilah yang membuat hidup Hasan Al-Banna tidak tenang, tidurnya tidak nyenyak dan makannya tidak enak. Beliau berpikir keras untuk mencari solusi tepat dalam menyelamatkan umat dari kehancuran. Kemudian dengan semangat membara dan strategi dakwah yang hebat , beliau tampil sebagai “ Guru Umat “ bekerja keras dan berkerja ikhlas untuk mendidik dan membimbing umat ke jalan yang benar. Hasan Al-Banna berdakwah dari masjid ke masjid, masuk dari satu kedai ke kedai lain, berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa, menyadarkan anak muda, merekat ulama serta menyatukan tokoh bangsa untuk bersama berjuang menegakkan kalimatillah.

Hasan Al-Banna mendirikan Organisasi Ikhwanul Muslimin

Kecerdasan Hasan Al-Banna, kelembutan bahasanya dan kesholehan pribadinya, menyebabkan dakwahnya dan usaha pendidikannya mendapat simpati. Seruan dakwahnya, disambut meriah dan ajakannya menghasilkan buah nan indah. Banyak di antara masyarakat terutama dari kalangan anak muda yang bergabung dengan gerakan dakwah dan gelombang pendidikan yang dikoordinirnya. Al hasil, Hasan Al-Banna mendirikan sebuah organisasi yang bernama Ikhwanul Muslimin pada bulan maret 1928 sebagai wadah perjuanagan. Organisasi ini bergerak di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. Karena organisasi ini dikelola secara professional dengan manajemen modern maka organisasi ini berkembang dengan pesat. Berbagai kegiatan dakwah dan sosial kemasyarakatan membius umat bergabung dengan gerakan ini.

Untuk beberapa waktu lamanya beliau menetap di Ismaliyah, kota di mana beliau mendirikan kantor pertama Ikhwanul Muslimin bersama beberapa pengikutnya. Beliau kemudian menyebarkan dakwahnya secara luas melalui kegiatan dakwah dan pendidikan yang terorganisir. Tuntunan dakwah selanjutnya mendorong beliau mengunjungi banyak daerah bahkan sampai ke desa-desa. Kerja keras itu akhirnya memang membuahkan hasil yang gemilang. Dalam waktu yang singkat, gerakan dakwah dan pendidikan beliau telah memiliki cabang di hampir seluruh penjuru Mesir.

Keberadaan Organisasi ini, membangkitkan kesadaran rakyat untuk berdaulat, mereka bahu membahu untuk bisa menjadi kuat dengan menjalin komunikasi hebat dalam masyarakat dibawah panji Islam dan persaudaran yang mengikat. Kondisi ini menyebabkan penjajah dan pengkhianat rakyat berusaha menghambat laju gerakan dakwah ini, menangkap dan menghabisi para tokohnya yang berkhidmat dengan harapan agar organisasi berumur singkat.

Pemikiran Hasan Al-Banna tentang Pendidikan

Konsep pendidikan Hasan Al-Banna berorientasi pada pemecahan problema umat yang menghambat terbentuknya umat yang kuat karena dominasi barat selama ini dalam dunia pendidikan. Beliau berpikir untuk membebaskan umat dari belenggu kehinaan maka sistem pendidikan harus dibenahi. Beliau berusaha menghilangkan dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Dengan demikian pendidikan agama dari sumber autentik harus disampaikan pada setiap pelajar sekolah umum dan sekolah agama (madrasah) harus mendapat ilmu-ilmu umum yang sangat bermanfaat dalam kehidupan pelajar.

Yang sangat menarik dari konsep pendidikan Hasan Al-Banna adalah pengembangan potensi yang ada pada diri manusia. Semua aspek kehidupan manusia menjadi sasaran atau target pendidikan Islam yang bersifat universal dan terpadu. Dalam hal ini seorang ulama dunia, Yusuf Al Qardhawi, mengatakan, ”Pendidikan Islam yang dikelola oleh Hasan Al-Banna tidak hanya mementingkan satu segi tertentu, dan tidak pula mengharuskan adanya spesialisasi yang sempit, melainkan mencakup semua aspek secara terpadu dan seimbang. Pendidikan Islam tidak hanya mementingkan ruhani dan moral seperti yang terdapat pada paham kaum sufi, dan tidak pula hanya menekankan pendidikan rasio seperti yang didambakan kaum filosof, dan tidak juga hanya mementingkan latihan keterampilan dan disiplin sebagaimana pendidikan dalam kemeliteran, tetapi pendidikan Islam itu mementingkan semua dimensi secara seimbang.”

Dengan program pendidikan dan dakwah yang dilakukan oleh Hasan Al-Banna melalui organisasi Ikhwanul Muslimin, maka banyak lahir kader-kader Islam yang militan. Mereka memahami Islam secara baik dan benar serta berjuang untuk kejayaan Islam. Mereka berusaha bangkit dari keterpurukan yang melanda selama ini menuju kejayaan dengan izzah Islam yang bercahaya.

Akhir hayat Hasan Al-Banna

Gerakan dakwah dan pendidikan yang dilakukan oleh Hasan Al-Banna membuat penguasa menjadi dzalim pada waktu itu. Penguasa menganggap Hasan Al-Banna dengan organisasinya sebuah ancaman dan akan menghancurkan tahta kekuasaannya. Oleh karenanya mereka membuat makar jahat, untuk menghabisi nyawa Hasan Al-Banna dengan harapan agar dakwah Ikhwanul Muslimin akan tenggelam.

Tepat hari Sabtu malam Minggu tanggal 12 Desember 1949, Hasan Al-Banna ditembak oleh orang bejat suruhan pengkhianat rakyat. Hasan Al-Banna pulang ke Rahmatullah dengan tenang, dengan wajah ceriah dan senyum yang mempesona sebagai seorang syuhada. Terselimutilah di hari itu langit Mesir dengan kesedihan, mendung duka membahana dan rintik tanggis membahasahi buminya.

Yang lebih menyedihkan lagi, rezimpun tidak mengizinkan umat Islam untuk merawat jenazahnya dan bertakziyah ke rumah shohibul musibah. Untuk menunjukkan keangkuhan dan kedengkiannya terhadap Hasan Al-Banna, mereka susun penjagaan militer secara ketat yang siap untuk bertempur dan tank-tank yang seakan-akan menghadapi sebuah pertempuran yang dahsyat. Tidak seorangpun diizinkan membawa jenazahnya menuju makam kecuali orang tuanya beserta kedua saudari perempuannya.

Hasan Al-Banna telah pergi untuk selama-selamanya, meninggalkan umat dalam duka nestapa karena ulah penjajah dan rezim yang berkuasa. Namun, karena ketulusan hati Hasan Al-Banna , semangat juangnya dan kecintaannya pada agama dan Negara, menjadikan magnet hebat bagi pengikutnya dalam melanjutkan perjuangannya. Hasan Al-Banna pergi sebagai “ Guru Dunia “ yang telah mengajarkan pada semua manusia agar istiqamah berjuang di jalan Allah. Sekalipun jasadnya sudah tiada namun konsep perjuangannya masih hidup sepanjang masa.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Saat Eskalasi Perang Suriah Menjadi Perang Dunia