Home / Pemuda / Cerpen / Apakah Ini Cinta?

Apakah Ini Cinta?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSeolah langit runtuh mengenai tubuhku, bahkan hatiku seperti remuk dan hancur berkeping setelah menerima kabar bahwa ia menolak lamaranku. Menolak aku sebagai suaminya, menolak aku sebagai pujangga hatinya. Sesakit inikah ketika lamaranku ditolak oleh seorang yang sejak dulu kujaga hati ini hanya untuknya.

“Sudah akhi. Insya Allah ntar Antum mendapat yang lebih baik dari Ukhti Anggi!” bujuk seorang teman menasihatiku.

Akupun bingung mengapa aku selemah ini. Sesakit ini dan seburuk ini setelah menerima tolakkan itu. Aku tak lagi bersemangat, aku tak lagi dan banyak lagi. Sosok Umar kuat kini tak melekat lagi kepadaku. Permintaan-permintaan mengisi kajian di masjid ke masjid kini kutolak semua, aku menyendiri.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman’ , sedang mereka tak di uji? Dan sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

“Astagfirullah..” tersujud aku ketika mengingat surah Al-ankabut itu.

Meminta maaf atas segala khilaf, merendahkan diri serendah-rendahnya dan mengagungkan-Nya.

Roda waktu terus saja berputar dengan cepatnya, tak berhenti sedetikpun. Masa lalu ‘kan menjadi masa yang lampau dan tak akan pernah kembali, yang ada hanyalah masa depan dan harapan-harapan lainnya.

“Bagaimana akhi, cocokkah?” tanya seorang ustadz kepadaku sambil menatapku penuh harap.

Afwan ustadz, bukannya Ana menolak, tapi And kurang sreg!” tukasku meminta maaf kepada seorang ustadz yang telah menawarkan proposal seorang akhwat lulusan strata dua itu.

“Ini sudah yang keenam Antum menolaknya, ntar malah ngga dapat-dapat Antum!” jawabnya sambil sedikit tersenyum dan mengambil kembali proposal itu.

“Akhwat seperti apa yang Antum ingini akh?” tanya ustadz itu tiba-tiba. Dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman

Anggi. Seolah nama wanita itu tak hilang-hilangnya dari benakku. Satu tahun lebih ketika penolakannya aku tetap saja tak melepasnya dari hati ini. Seolah namanya tetap terpatri ke dalam sanubari ini. Setelah kecelakaan yang menimpanya, tak pernah lagi aku melihatnya di masjid kampus yang biasa ia datangi ketika senggang, bahkan di ta’limpun aku tak pernah menemuinya lagi.

Entah datang keberanian dari mana aku memberanikan diri untuk mengajak ustadz Malik untuk berkunjung dan bersilaturahim ke rumah Anggi, nomor ponselnya yang dulu tak aktif lagi.

“Akhi, jika ukhti Anggi sudah mendapatkan pilihan, Antum harus ikhlas menerima semua ini, Antum harus ikhlaskan ukhti Anggi!” itulah perkataan ustadz Malik ketika di perjalanan menuju rumah Anggi.

Hati ini menggebu seolah bergemuruh bagai suara guntur yang menandakan jika sebentar lagi akan hujan. Hati inipun bahkan tak setenang air di danau yang tenang dan sejuk. Kusebut nama Allah sesering mungkin dan berharap segala kebaikan menimpaku. Sampailah di depan rumah Anggi. Aku sejujurnya tak berani untuk mengetuk pintu rumahnya, aku takut jika saja aku tak bisa menerima hal yang akan terjadi. Semenjak kecelakaan itu, dan penolakan lamarannya itu, Anggi tak ada kabar sedikitpun. Temannya seolah bungkam, tak menjelaskan mengenai keadaan Anggi dan mengapa ia menolakku. Ustadz Malik mengetuk pintu rumah itu, aku berdiri tepat di belakang sang ustadz, tubuh sang ustadz yang tinggi dan besar cukup menghalangi tubuhku yang tak sebesar ustadz Malik. Salam pertama dilantunkan dari mulut ustadz Malik, tak ada jawaban. Salam keduapun terlantun dari mulut ustadz Malik dan Alhamdulillah ada jawaban dari dalam, dan aku mengira jika itu adalah suara Anggi. Dan pintu dibuka.

“Ustadz?” tukas Anggi sedikit kaget dan aku segera muncul dari balik ustadz Malik

“Anggi!” tukasku sambil memperlihatkan diri, Anggi tertunduk dan mempesilakan masuk. Anggi seorang wanita yang lama tak kutemui, lama tak kuketahui kabarnya. Ia mempersilakan masuk dan tertunduk berubah rona wajahnya. Ia menyuruh kami duduk dan permisi ke belakang memanggil ibunya.

Anggi, fisiknya tak sesempurna dulu, ia kini menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan, ia kinipun tak seceria dulu.

“Masya Allah, kedatangan Pak Ustadz dan Umar!” tukas Ibunya Anggi sambil tersenyum gembira, ia duduk tepat di depanku. Saling menanyakan kabar dan berbicara panjang lebar. Dan akhirnya Anggi keluar juga dan membawa nampan yang di atasnya berisi tiga gelas, dengan jalan yang tak sempurna dan masih menggunakan tongkat ia berjalan menuju kami, merasa kasihan dan aku berdiri ingin membantunya namun sebelum aku menawarkan diri ia mencegahku dan mengatakan jika ia mampu. Ia tak lagi seperti dulu, meskipun ia hanya memandangku sekilas dan lebih banyak menunduk, pandangannya mengatakan jika ia tak menyukaiku.

“Bu, aku pergi dulu!” tukas Anggi setelah beberapa saat. Ia bersalaman kepada ibunya dan menangkupkan kedua tangannya kepada ustadz Malik, dan aku, tak dihiraukannya.

“Anggi sekarang ngajar di TPA !” tukas sang Ibu dengan wajah yang tak ada beban sedikitpun di raut wajahnya, aku sudah mengenal Anggi dan keluarganya cukup lama, semenjak aku kecil hingga aku sekolah menengah atas, jadi sepertinya Ibunya Anggi tak sungkan lagi padaku.

“Awalnya Anggi tak menerima dengan kondisinya yang sekarang, ia bahkan menolak lamaran nak Umar dan menolak ditemui oleh teman-temannya. Sudah lama Anggi menjadi anak yang pendiam dan tak bergaul lagi dengan teman-temannya. Setelah wisuda bulan lalu, Anggi sibuk dengan mengabdikan dirinya di TPA. Ia merasa, hanya di situlah ia merasa aman!” panjang Ibunya bercerita, akupun berpikir apa karena kecacatannya ia menolak lamaranku? Apa karena ini ia tak lagi ingin menemuiku.

“Apa Anggi sudah punya pasangan Bu?” tukas Ustadz Malik tiba-tiba yang membuatku sedikit gugup.

“Belumlah, padahal aku sudah menyuruhnya berulang-ulang, dan berharap Umar datang kembali, namun Anggi menolak dengan keras kepalanya, bahwa ia takut membuat Umar kecewa dengan fisiknya yang tak sempurna sekarang!” hati ini seolah seperti ditusuk oleh sebilah pedang yang sangat tajam. Aku tak pernah menduga jika Anggi takut membuatku kecewa?

“Umar masih menyimpan harapan kepada Anggi Bu!” tukasku memberanikan diri.

“Tapi, terserah Angginya aja lagi Bu, Umarkan sudah semakin bertambah juga umurnya, jadi ingin segera aja!” tukasku dengan memberanikan diri berbicara disertai humoran yang sepertinya tidak lucu.

“Nanti saya tanyakan lagi ke Angginya ya?” perkataan inilah yang membuatku senang bukan mainnya.

Hari ini seolah mendapatkan kecerahan yang membuat hati ini kembali terang, bening dan sejuk.

Bergantinya hari, bergantinya bulan, membuatku ragu akan diterimanya lamaran yang kedua kali ini. Tak ada jawaban dan tanda-tanda jika lamaranku akan diterima. Ustadz Malik kembali menawarkanku sebuah proposal.

“Antum minta petunjuk ama Allah aja akh, Allah pasti memberikan yang terbaik untuk Antum!” pesan singkat itu muncul setelah Ustad menawarkan proposal lewat pesan singkat itu. Saran Ustadz Malik segera kutindak lanjuti.

“Ini akh, tafadhal dilihat dulu!” tukas ustad menjulurkan aku sebuah proposal yang dipegangnya.

“Ana sudah siap untuk menerima akhwat ini Ustadz!” tukasku tanpa berpikir panjang

“Meskipun Antum belum melihat biodatanya? Atau fotonyalah minimal?” tanya Ustadz Malik keheranan.

“Insya Allah And sudah mantap ustadz!” jawabku yakin.

“Serius ngga nyesel?” tanyanya sambil senyum

“Insya Allah ini yang terbaik!” jawabku mantab.

“Ya sudah, Insya Allah besok malam kita langsung datang ke rumah beliau” tukasnya sambil menaruh proposal itu di dalam tas ranselnya.

“Mau lihat fotonya?” tanyanya lagi sambil tersenyum dan belum memasukkannya ke dalam tasnya.

“Tidak, ustadz! Hehe!” jawabku mantab dan sedikit tertawa geli.

Insya Allah aku ikhlas, apapun yang terjadi, siapapun jodohku, dan dari manakah dia? Ustadz Malik menyuruhku untuk berdzikir dan memejamkan mata, sebelum ustadz menyuruh membuka mata ini, aku tak boleh membukanya. Aku turuti saja kemauannya.

“Umar, boleh dibuka sekarang, ini rumah akhwat yang proposalnya kamu terima itu!” tukas Ustad Malik sambil membuka pintu mobil.

Aku membuka perlahan mataku, dan menelaah sekitar. Dan…..

“Subhanallah….” ucapku dengan senang hati dan gembiranya hati.

“Allah itu keren dah Ustadz!” tukasku sambil bersemangat keluar dari mobil dan mengetuk langsung pintu rumah Anggi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Reni Novita Lestari
Mahasiswi di Universitas Palangkaraya. Sangat senang dengan dunia ke-sosial-an . sebagai Ka Kom A FSLDK Kalimantan Tengah, pengurus Relawan Indonesia Palangka Raya, FLP Palangka Raya, dan siap mensyiarkan Islam melalui tulisan

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang