Home / Berita / Opini / Pernikahan Raffi dan Semangat Hijrah

Pernikahan Raffi dan Semangat Hijrah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. (ROL)
Pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. (ROL)

dakwatuna.comSangat Fantatis! Begitulah kata yang dapat ditujukan dalam prosesi pernikahan Raffi Ahmad dengan Nagita Slavina, pada Minggu lalu. Parade kemewahan dipertontonkan Raffi dalam acara yang sakral tersebut. Mulai dari acara persiapan pernikahan, siraman, pengajian, akad nikah sampai acara resepsi pernikahan yang diliput oleh Trans TV secara live tanpa henti selama dua hari. Dalam alek gadang itu, Raffi menyewa gedung mewah Ritz Calton Jakarta. Tidak cukup di situ, Raffy juga mengadakan acara “ private party” di Tabanan Bali pada Sabtu 25 Oktober 2014 dengan menyediakan biaya akomodasi dan transportasi untuk 200 tamu undangan. Sementara mas kawin untuk Nagita ditambah dengan mobil mewah seharga 5 M. Tersiar kabar total biaya pernikahan Raffi sebanyak 10,3 M yang merupakan pernikahan termahal di negeri ini selama tahun 2014. Jauh di atas biaya pelantikkan Joko Widodo sebagai presiden RI ke tujuh dengan pesta rakyatnya.

Wah, Luar biasa! Raffi kembali membuat sensasi dan pamer gengsi. Berbagai tanggapan mengalir di media sosial dan masyarakat umum berupa decak kagum dan pandangan sinis , menyoroti kedahsyatan pernikahan Raffy. Seorang teman, berkata bahwa alek Raffi itu “bakalabian bana” (berlebihan benar). Soalnya, acara pernikahan Raffi diliput Trans TV secara utuh dan tidak wajar dalam akad nikah selama dua hari dengan program siaran “Janji Suci Raffi dan Nagita”. Itu sebabnya KPI menegur televisi Trans TV karena siaran tersebut telah dimanfaatkan bukan untuk kepentingan publik dan tidak memberikan manfaat kepada publik sebagai pemilik utuh frekwensi.

Bak seorang pangeran atau keluarga kerajaan saja, pemberitaan Raffi menghiasi media tiada hentinya. Padahal dia hanya seorang artis atau publik figur, seperti artis lainnya yang juga telah melangsungkan pernikahan tetapi tidak seheboh pernikahan Raffi. Di samping itu pernikahan merupakan ikatan suci memasuki gerbang rumah tangga. Sejatinya, harus dilangsungkan dengan khidmat dan religi namun justru dirayakan Raffi dengan pesta pora dan sangat glamour. Hal ini jelas bertentangan dengan makna dan tujuan akad nikah dan resepsi pernikahan (walimah) itu sendiri.

Semua orang berhak untuk merayakan pernikahannya, namun sebagai seorang muslim tentu kita harus memahami makna dan tujuan sebuah pernikahan. Di samping itu juga harus memiliki kepekaan sosial dalam membaca situasi dan keadaan masyarakat luas. Di saat masyarakat sedang dililit kesulitan ekonomi yang hebat, maka tidaklah tepat dan wajar seseorang merayakan pernikahan dengan cara yang yang super megah.

Dalam masyarakat, terlihat jelas bahwa hari pernikahan merupakan suatu hal yang sangat spesial. Hal ini menyebabkan pasangan pengantin dan keluarganya tidak menyia-nyiakan hari tersebut. Mereka mengadakan resepsi pernikahan semeriah mungkin yang terkadang melebihi batas kemampuannya. Sering kita mendengar bahwa ada orang memaksakan diri atau hutang-hutangan dalam mewujudkan alek tersebut sehingga tersaji kemewahan dan kemubaziran yang tiada tara. Atau baralek dijadikan sebagai pamer harta dan demonstrasi gengsi.

Sangat ironis, pesta bahagia yang sakral tersebut justru diisi dengan tampilan hiburan musik sampai larut malam dan terkadang menyediakan minuman keras untuk para pengunjung. Itulah realitas miris, yang terjadi di negeri ini. Padahal, agama dengan jelas dan tegas mengatur bagaimana seharus kita melangsungkan sebuah resepsi pernikahan. Oleh karena itu, pada momen tahun baru Islam 1436 H, hendaknya mampu menginstal ulang pemahaman dan pengamalan beragama kita termasuk dalam hal pesta pernikahan.

Makna dan Semangat Hijrah

Secara bahasa, hijrah berarti pindah yaitu berpindah tempat atau keadaan. Secara istilah , hijrah mengandung dua makna, yaitu hijrah makani dan hijrah maknawi. Maksud hijrah makani adalah hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik. Sedangkan hijrah maknawi artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran. Termasuk pindah dari cara baralek jahiliyah menuju cara baralek yang sunnah.
Arti hijrah yang diharapkan sekarang sebagaimana yang dipahami oleh ulama Salaf adalah hijrah maknawi. Yakni, perubahan atau reformasi ke arah yang lebih baik. Dengan semangat Tahun Baru, kita harus mampu menstransformasi nilai-nilai hijrah dalam kehidupan nyata. Seperti nilai keimanan, perjuangan, kesungguhan dan pengorbanan yang sudah mulai hilang dalam kehidupan umat. Kita berharap agar momen penting ini akan memberikan makna dan pengaruh besar dalam kehidupan beragama kita. Jangan sampai peringatan tahun baru Islam hanya sebatas seremonial belaka yang tidak menghasilkan apa-apa. Sungguh, bertambah tahun bertambah pula umur yang telah kita lewati. Hal ini berarti kesempatan hidup kita semakin berkurang dan pintu akhirat semakin dekat. Makanya, kita harus merenunggi hakikat hijrah ini menuju kehidupan baru yang lebih baik. Semangat hijrah itulah yang harus menghiasi kehidupan kita setiap saat.

Menuju Pernikahan yang Barakah

Sesungguhnya pernikahan merupakan gerbang legal untuk memasuki rumah tangga. Melalui akad nikah, sepasang anak manusia resmi menjadi suami istri yang sah dalam ikatan suci. Tentu semua orang berharap agar, mendapat rumah tangga yang sakinah. Sebuah rumah tangga yang memancarkan cahaya dengan suasana yang penuh bahagia. Untuk itu setiap orang yang ingin memasuki jenjang pernikahan harus mempersiapkan dirinya baik secara lahiriyah ataupun batiniyah. Salah satunya adalah hal yang berkaitan dengan pemahaman terhadap resepsi pernikahan yang sesuai dengan sunnah. Hal ini merupakan satu persyarat yang harus dipenuhi dalam mewujudkan rumah tangga yang didambakan.

Persepsi pernikahan adalah bagian dari sunnah yang harus dilaksanakan walaupun dengan sederhana. Rasulullah memotivasi umat untuk menyelenggarakan persepsi pernikahan atau baralek sebagai bentuk pengabaran pada masyarakat luas tentang telah bersatunya dua insan yang berbeda. Namun demikian bagaimana dalam setiap rangkaian acara persepsi itu sesuai dengan sunnah dan tidak bertentangan dengan syariah. Hal-hal yang bersifat kemewahan, kemubadziran dan menganggu orang lain harus dihindari. Dari sinilah keberkahan pernikahan akan terwujud. Oleh karena itu, dengan semangat hijrah kita harus mampu menghadirkan persepsi pernikahan yang benar dan berharap biduk rumah tangga akan langgeng sampai akhir hayat. Pertanyaannya, apakah perayaan pernikahan super mewah membawa kebahagiaan atau justru awal dari kehancuran? Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

FORKOMMI Gelar Talkshow Hijrah Rosulullah SAW dan Pembentukan Karakter Pribadi Pemimpin Masa Depan