Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengagumi Pesona Masjid Jogokariyan

Mengagumi Pesona Masjid Jogokariyan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Masjid Jogokariyan. (rindumasjidku.blogspot.com)
Masjid Jogokariyan. (rindumasjidku.blogspot.com)

dakwatuna.com Saya teringat satu tahun yang lalu, saat diberi kesempatan mengikuti MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) di Masjid Jogokariyan. Sedari dulu saya memang ingin sekali berkunjung ke rumah Allah ini, alhamdulillaah bisa terwujud. Salah satu hal yang membuat saya mengagumi masjid ini adalah banyaknya kegiatan sosial yang dikenal oleh masyarakat Jogja. Dan bermalam di sana membuat saya semakin mengaguminya. Masjidnya memang tidak sebesar masjid di kota-kota besar, namun  Mereka terdiri dari laki dan perempuan. Usia mereka kebanyakan sudah sepuh. Jamaah laki-laki di dalam masjid. Sedangkan yang perempuan di luar samping kiri. Ada yang sedang shalat sunnah, baca Al-Quran, dan berdzikir. Masjid Jogokariyan memang mengadakan lomba shalat jamaah berhadiah umrah. Panitia menyediakan empat paket umrah. Dua untuk kategori shalat jamaah dan yang kedua lagi untuk kategori hafalan surat-surat tertentu. Program itu dimulai tanggal 25 November 2012 lalu. Salah satu pengurus masjid Jogokariyan, Sudiwahyono mengatakan bahwa program itu untuk menarik simpati masyarakat agar semangat shalat berjamaah di masjid. Lebih dari itu, menurutnya, jika shalat jamaah 40 hari berturut-turut tanpa ketinggalan takbiratul ihram, seperti kata hadits Nabi, maka akan menuai dua hadiah dari Allah, yaitu hadiah bebas dari neraka dan kemunafikan.

Jarum menunjukkan pukul 03.00 pagi, kami bangun dan shalat Qiyyamul Lail, di sana sudah ada beberapa jamaah yang sedang khusyu’ bermunajat pada ALLAH. Masjid saat itu dalam keadaan gelap, hening. Beberapa kali terdengar suara lantunan Ayat Suci. Betapa mengagumkan sekali para jamaah Masjid ini, ketika hamba-Nya yang lain kebanyakan masih tertidur lelap, mereka melawan rasa kantuk dan dingin untuk meminta, untuk mengeluh, untuk bersyukur kepada ALLAH.

Lagi-lagi saya malu, malu jika saya sering tidak mampu mengalahkan rasa kantuk untuk bangun shalat. Kekuatan terbesar untuk bangun adalah ketika saya membayangkan bahwa ALLAH sedang menatap saya, dan berharap saya bangun untuk sekadar berdoa untuk keinginan saya. Saya juga akan langsung bangun ketika saya mengingat betapa banyak nikmat yang ALLAH berikan. Nikmat iman, nikmat ilmu, nikmat ukhuwah, nikmat segalanya. Bahkan, bisa bangun tahajudpun saya merasa itu nikmat yang patut untuk disyukuri.

Masih terekam jelas, remang-remang cahaya masjid tadi terlihat ada seorang laki-laki memakai baju batik, khusyu’ sekali beliau berdoa. Pukul 04.30 adzan subuh, dan ternyata sudah banyak jamaah yang datang. Jamaah yang menunggu adzan subuh. Mulia sekali, bukan? Ah, lagi-lagi malu rasanya jika shalat subuh kesiangan. Setelah shalat, ada kultum. Dan saya melihat baju penceramah mirip dengan baju laki-laki yang ada di dalam masjid saat tahajud tadi. Mendongakkan sedikit kepala, ah masya Allah, ternyata Ustadz Salim A Fillah. Isi kultumnya tentang persaudaraan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kultum yang singkat namun penuh makna di dalamnya, bahkan beberapa jamaah Ibu-Ibu di sekitar saya mengangguk dan beberapa kali tertawa kecil mendengar ceramah dari beliau. Tak hanya pandai berkicau di Twitter, beliau juga begitu fasih menyampaikan materi kultum yang kebanyakan jamaah di masjid sudah sepuh (usia lanjut). Menyampaikan namun tidak menggurui.

Akhirnya sekarang saya paham, mengapa seluruh kalimat beliau di Twitter mengandung makna yang luar biasa. Hati seorang hamba yang selalu bermunajat kepada-Nya memang lebih lembut. Sangat lembut dengan bahasa yang begitu menyejukkan hati. Saya benar-benar cemburu pada beliau.

Yaa Rabb, terima kasih telah memberi kesempatan untuk berkunjung ke salah satu rumah-Mu, kesempatan melihat betapa khusyuknya hamba-Mu yang lain dalam berdoa. Sungguh Yaa Rabb, hamba begitu cemburu, hamba cemburu ketika melihat hamba-Mu yang lain bisa dengan mudahnya bangun tahajud, cemburu dengan mereka yang begitu mudahnya melangkahkan kaki untuk menuju rumah-Mu, yang begitu mudahnya melawan rasa lelah, rasa kantuk untuk bermunajat pada-MU. Yaa Rabb, ajari hamba untuk selalu merasa bahwa dunia ini sementara. Ajari hamba untuk selalu bersyukur atas semua yang Kau berikan tanpa terkecuali.

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang mahasiswi Universitas Gadjah Mada yang juga merupakan santri Rumah Kepemimpinan PPSDMS Angkatan 7. Salah satu cita-citanya adalah menulis buku-buku inspiratif yang dapat mendekatkan pembacanya kepada Allah dan bersemangat dalam berdakwah.

Lihat Juga

Shalat Iedul Adha di Tengah Laut