Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Secangkir Cinta

Secangkir Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kartinki2008.ru)
Ilustrasi. (kartinki2008.ru)

dakwatuna.com Kumandang isya baru saja berlalu. Malam telah merangkak naik. Namun hiruk pikuk kota belum berakhir. Petikan gitar yang cukup fals terdengar samar-samar dari kamar sebelah. Namun untunglah hal itu tidak membuat Ahmad terganggu untuk mengkhalaskan tilawah one day one Juznya.

Setelah khalas, Ahmad bersiap-siap untuk menuntaskan tugas-tugas dari kampusnya, ditemani secangkir kopi hitam kesukaannya. Namun ketika baru saja hendak menyalakan notebooknya, handphone Nokia kecil miliknya berbunyi.

“Assalamu’alaikum..” sapa Ahmad perlahan

“Wa’alaikumsalam. Saya kecewa akhi.” Jamil langsung curhat ketika Ahmad baru saja mengangkat teleponnya.

“Ini tentang masalah yang tadi siang ya akhi?” tanyanya datar

Ahmad terdiam beberapa saat, ingatannya melayang ke peristiwa siang tadi. Saat rapat berlangsung, Jamil merasa tidak dihargai oleh salah satu kader sesama organisasi. Ia merasa tidak dikonfirmasi atas kegiatan yang berlangsung di bawah komandonya. Apalagi kegiatan itu sarat akan bahaya, yaitu melakukan gerebek di jalan lingkar dan beberapa tempat yang diduga digunakan untuk aktivitas ‘pacaran’, yang ujung-ujungnya juga akan berdampak di dirinya jika salah penanganan. apalagi Jamil adalah koordinator bidang Sosial Kemasyarakatan (SOSMAS).

Ahmad merasa ini hanyalah kesalahpahaman dalam komunikasi, apalagi Abbas, kader yang kena damprat dari Jamil mengutarakan bahwa ia telah mengirim sekitar 3 sms kepada Jamil. Namun Jamil mengaku tidak menerima sms apapun terkait kegiatan itu.

“Aku benci saat mereka mulai tidak menghargai kehadiranku di tengah-tengah mereka. Rasanya ingin keluar saja dari organisasi kita. Di luar sana masih banyak yang menghargai dan membutuhkan diri ini” keluhnya lagi

Ahmad hanya mengangguk-angguk sambil sesekali berdehem tidak jelas mendengar curhat dari sahabatnya.

“Santai dulu Akh, Antum jangan langsung terbawa emosi. Ini hanya masalah komunikasi” katanya masih degan suara tenang

“Kita harus husnuzhan sama saudara sendiri, siapa tahu dia tidak punya pulsa tahu lupa mengabari Antum soal kegiatan ini” lanjutnya

“Lupa bagaimana? Masa’ Lupa sampai 3 hari begitu? Hm, perlu diperingatkan lebih keras mungkin dia.” Ujarnya masih kesal

“Antum juga kalau punya masalah jangan langsung bertindak gegabah, jangan sampai menyakiti hati saudara kita yang lain” suara Ahmad terdengar sangat berhati-hati. Takut lawan bicaranya tersinggung

“Aargghh… Antum itu selalu membela dia, mentang-mentang 1 prodi. Ya sudah, Ana mau chattingan dulu sama adik-adik maba, Ana mau rekrut mereka untuk ikut organisasi kita. Yah lumayanlah yang dari luar kota maba-nya manis-manis. Biar ada penyemangat kalau rapat,” ujar Jamil sambil cekikikan. Masalahnya seakan hilang saat menyebut kata Maba Akhwat.

“Astagfirullahaladzim.. istighfar akhi. Jaga hijab.” Tegur Ahmad spontan

“Bilang aja Antum cemburu karena cashing Ana lebih memikat hati. Hahaaa… ya sudah ya.. Daaah” Jamil pun berlalu

“Assalamu’alaikum akh ” Ahmad memberi salam duluan.

“Tutt.. tuutt…” Jamil telah lebih dulu kabur hingga salam Ahmad bertepuk sebelah tangan.

Begitulah percakapan 2 sahabat itu. Ahmad syaifullah dan Jamil Sahab. Dua pemuda itu dipertemukan saat lomba anak shalih tingkat SMA di kabupaten Luwu Timur. Ahmad yang berasal dari Burau, sedang Jamil dari Towuti. Keduanya lalu akrab dengan saling bertukar kabar dan pesan. Tak dianya, Allah mempertemukan keduanya kembali di kampus Hijau STAIN Palopo. Hanya saja beda jurusan. Ahmad mengambil prodi Bahasa Arab, sedang Jamil sebelumnya telah dua kali pindah jurusan, dari matematika lalu ke bahasa Inggris dan akhirnya mentok di prodi Hukum Tata Negara. Ikatan di keduanya makin erat saat mereka sama-sama mengambil organisasi extra kampus KAMMI.

Ahmad sangat mengerti sifat sahabatnya itu, apalagi mereka telah duduk di semester 5. Walaupun Jamil agak cepat tersinggung, masih labil dan suka curhat blak-blakan, Ahmad selalu menjadi pendengar setianya. Ia maklum, sebab sahabatnya itu merupakan anak tunggal yang hidupnya dari dulu berkecukupan. Namun Jamil terkenal loyal dan nggak tanggung-tanggung kalau membantu sesama. Bisa-bisa seluruh isi dompet persediaan sebulan ia serahkan langsung kepada Ahmad jika ia membutuhkan.

***

Oktober menyapa dengan hawa panasnya. Rumput-rumput mulai menguning kekeringan. Sedang angin laut yang diharap membawa kesegaran, justru membawa aroma amis rumput laut yang dijemur petani di pinggir jalan kampus.

“Assalamu’alaikum” sapa seorang ustad

“Wa’alaikumsalam warahmatullah ustad” Ahmad langsung berbalik dan menjulurkan tangannya saat ia mengetahui, jika yang mengucapkan salam ustad Rahman memberikan salam.

kaifa khaluk ya akhi?”

“bikhair ustad. Alhamdulillah. Mau ke mana ustad?”

“mau pulang, kebetulan singgah shalat di masjid STAIN. Kangen dengan suasana saat jadi mahasiswa,” jawab ustadz rahman dengan sedikit bercanda. Ahmad hanya tersenyum mendengarnya

“Ana minta tolong ya akhi, kalau ketemu sama akh Jamil. Tolong sampaikan kalau Ana mau ketemu sama dia. Kalau bisa hari Sabtu ini suruh jalan-jalan ke rumah ya. Kemarin an sms tapi tidak dibalas,” ujar ustadz Rahman lagi.

Iye’ ustad” jawab Ahmad dengan logat Luwu’nya

“Insya Allah kalau ketemu Ana sampaikan. Ana duluan dulu ustad, masih ada kuliah. Assalamualaikum” Ahmad pun berpamitan dengan ustad rahman lalu melangkah ke kelasnya di Bahasa Arab.

***

Sore menjelang, adzan Ashar telah lama menghilang. Kini saatnya bagi Ahmad untuk melangkah pulang. Namun, ada satu hal yang mengganjal penglihatannya, dan mengiris hatinya. Yah, ia melihat sesuatu yang menimpa sahabatnya.

“Aduhai, pedih hati ini kawan” lirihnya dalam hati.

Ahmad berjalan lesu ke arah sahabatnya. Jika saat itu tak banyak orang yang melihat, bisa jadi air matanya meleleh di kedua pipi ikhwan itu.

“Assalamu’alaikum ya akhi? Apa yang sedang engkau diskusikan wahai saudaraku?” tanya Ahmad dengan suara paraunya.

Jamil seketika itu langsung menoleh. Kaget! Ia lalu melepaskan tangan seorang perempuan yang tadi digenggamnya.

“Wa’alaikumsalam. Da.. dari mana saudaraku?” Jamil gelagapan. Ia berbicara dengan suara intonasi kaget yang tak bisa ia sembunyikan.

“Dari kelas. Akh, tadi Ana ketemu sama ust Rahman. Beliau menyuruh Antum untuk datang ke rumahnya Sabtu ini. Beliau sudah krim sms tapi tidak Antum balas katanya” Ahmad mencoba tuk berbasa-basi.

“Oohhhh iya akh, ternyata HP Ana yang bermasalah. Sms pada lambat masuk. Duh malu diriku sudah marah-marah ke akh Abbas.” Jelas jamil. Ahmad hanya tersenyum lalu melanjutkan

“Apa yang sedang Antum lakukan di sini akh?” tanya Ahmad datar

“ I… ini, sedang ngajarin adik-adik maba untuk membaca atau menganalisa penyakit lewat garis tangan” jawabnya mencoba berkilah

“Kenapa bukan ikhwannya yang dianalisa akh?” tanya Ahmad sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Para akhwat maba itupun hanya bisa memperhatikan tanpa mengerti maksud tersirat dari Ahmad

“Ii..nii akh.. sekalian sharing-sharing biar mereka gak terjebak sama organisasi yang menyimpang, dan supaya mereka tidak jadi KRS alias Korban Retorika Senior” jawab Jamil berapi-api. Ahmad hanya bisa menunduk dengan sedih, tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.

“Dek, jam berapa ini? Pulanglah.” Pinta Ahmad kepada segerombolan akhwat maba yang tengah mengelilingi Jamil. Suara Ahmad yang terdengar menahan amarah itu sontak membuat para akhwat maba itupun langsung meninggalkan gazebo tempat mereka berkumpul dengan Jamil.

“Hey.. ada apa ini?” tanya Jamil makin kebingungan

“Saudaraku, sudah berapa lama Antum tarbiyah, ikut liqaat?” suara Ahmad dalam dan parau. Namun, pertanyaan Ahmad sebenarnya tak membutuhkan jawaban. Ia langsung melanjutkan.

“Berapa banyak kajian lagi yang Antum mau ikuti hingga paham? Mau berapa banyak ayat lagi agar Antum sadar? Mau berapa kali diingatkan agar tidak lupa, atau bahkan pura-pura lupa?

Jamil hanya mendengarkan, dengan pandangan menerawang.

“Demi Allah akh, Ana, murabbi kita, bahkan KAMMI tidak bisa dan tidak berhak memberikan Antum hidayah. Hidayah itu hanyalah kekuasaan-Nya semata. Tapi Ana wajib ingatkan Antum, untuk senantiasa menjaga hijab. Kalau Antum sendiri yang tidak berusaha berubah, bagaimana Ana bisa mengajak Antum untuk berbuat lebih banyak lagi untuk umat? “

“Kata-kata umat yang selalu Antum kumandangkan.” Ahmad berhenti sejenak. Matanya telah berubah kemerahan. Sementara Jamil, memandang ke arah lain. Tak berani melihat saudaranya itu

Palestina, apa kabarmu? Antum ingat itu? Itu status FB Antum 2 minggu lalu. Begitu besar perhatian Antum terhadap penderitaan negeri seberang, lalu Antum mulai menunjukkan simpati dengan memasang foto profil bendera Palestina di Facebook. Apa itu berpengaruh akh? Bagaimana mungkin Antum begitu bersemangat untuk memerdekakan, sedang diri Antum sendiri belum merdeka dari bisikan setan?” Ahmad menenggelamkan kepalanya tunduk lebih dalam.

“Bukankah menggerebek tempat ‘pacaran’ itu idemu akh? Bukankah kau yang menyerukan amar ma’ruf nahi munkar? Bagaimana mungkin kau melarang orang-orang berpacaran, berbuat yang tidak semestinya, lalu kau sendiri yang melakukan? Di mana malumu Akhi?” Ahmad makin geram.

Terperanjat! Jamil geram mendengar perkataan sahabatnya itu. Wajahnya merah padam. Giginya gemeretak! Tangannnya terkepal ke bawah. Ia merasa harga dirinya telah tercabik. Saat ia ditegur di depan umum seperti saat ini. Walaupun tidak terlalu banyak mahasiswa lain yang melihatnya. Tetap saja harga dirinya tidak terima diperlakukan demikian.

Namun kemarahannya langsung berubah. Saat ia melihat pemuda yang telah dikenalnya sejak 3 tahun lalu itu meneteskan air mata. Yah. Air mata kasih sayang untuknya yang tak kunjung berubah. Air mata yang tak pernah ia lihat meleleh sebelumnya. Mungkin bagi yang melihat, adegan mereka berdua terkesan melankolis dan lebay. Tapi di mata Jamil, air mata sahabatnya itu lebih indah dari ungkapan cinta manapun yang pernah ia dengar.

Kini jamil terdiam. Meresapi setiap kata demi kata yang dilontarkan sahabatnya sendiri. Dalam hati, ia mengakui perbuatannya dan membenarkan setiap untaian kata yang diucapkan oleh sahabatnya. Ia hanya bisa ikut tertunduk, dan tak berani menatap wajah saudaranya yang telah mengingatkannya dengan cara yang luar biasa.

Tanpa basa-basi. Jamil merentangkan tangannya dan langsung memeluk Ahmad yang masih tunduk dengan sisa-sisa air matanya.

“Syukran akhi. Terima kasih saudaraku karena telah mengingatkan saudaramu yang serba kekurangan ini” ucap Jamil dalam pelukan saudaranya.

 

Palopo, 23 Oktober 2014

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurul Hidayah
Mahasiswi Semester 2 Di STAIN Palopo Sulsel jurusan tarbiyah prodi pendidikan bahasa inggris. Aktif bekerja sebagai penyiar radio selama 3 tahun, dan sebagai staff humas di KAMMI. Menyukai dunia tulisan sejak SMP, dan telah menerbitkan 1 antologi cerpen di kelas 3 SMK. Cita-cita berharap suatau hari nanti bisa menjadi pendidik yang mencerdaskan, sekaligus menjadi reporter yang profesional dan berkarakter aamiin.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang