Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Aku Mencintaimu, Ayah

Aku Mencintaimu, Ayah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Aku terjatuh, ia membangunkanku. Aku menangis, ia selalu menenangkanku. Aku terlelah, ia menyemangatiku. Aku menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi. Ialah sumber kasih yang takkan pernah terkikis waktu.

Kepala rela ia jadikan kaki, kaki rela ia jadikan kepala. Kadang di tengah sunyinya malam ia berada di luar rumah untuk mencari nafkah. Sosok yang selalu menjadi inspirasi saat aku mulai mencari makna tentang kasih. Sosok gagah nyaris tak pernah kulihat ia meneteskan air mata di pipi. Ia adalah Ayahku tercinta.

Dahulu saat aku baru melihat bumi, aku yakin ia adalah sosok yang mengumandangkan adzan di telingaku, meski aku tidak ingat kejadian tersebut. Ialah sosok imam bagi keluargaku, sosok teladan bagi anak-anaknya.

Tangannya memang tak selembut kapas, tapi aku yakin ia menimangku selembut hati saat Ibu kelelahan. Ia juga yang mengganti pakaianku saat Ibuku terjaga dalam tidurnya. Ia sosok lelaki yang rela membantu pasangannya saat kelelahan.

Aku ingat kejadian saat balita ia mengajarkanku mengendarai sepeda. Aku terjatuh, ia langsung membangunkanku. Aku menangis, ia selalu menenangkanku. Aku lelah, ia memberiku semangat, Aku menyerah, ia memberiku motivasi untuk selalu bangkit dan mencoba lagi.

Kenangan-kenangan tersebut terukir indah layaknya ketenangan saat aku melihat ombak di tepi pantai. Walaupun ombaknya tinggi aku tetap merasa bahagia dan tenang karena aku tahu ombak itu karya Ilahi. Layaknya Ayahku yang ada di antara miliaran manusia karena kehendak Allah SWT.

Kerja keras dan usahanya tak akan pernah tergantikan. Peluh yang mengaliri seluruh tubuhnya tak mampu aku ringankan. Aku hanya bisa menyaksikan air wajah yang kelelahan saat ia pulang memberikan salam dan aku membuka pintu rumah.

Saat aku pandang wajahnya yang mulai menua. Aku tersadar, superhero sesungguhnya bukanlah spiderman yang mampu merayap di gedung-gedung tinggi, bukan juga superman dengan kekuatan supernya, bukan juga sosok superhero Marvel lainnya.

Ayahku, ialah sosok superhero sesungguhnya. Melawan kejahatan dan keburukan demi menjaga keluarga tercinta. Memberi nafkah kepada keluarga dengan susah payah. Tak pernah kenal kata lelah maupun menyerah. Aku yakin semua ia lakukan demi mengharap ridha Allah SWT.

Kasih sayang lembut yang ia berikan takkan pernah habis dimakan waktu. Selalu membekas di ruang kalbu. Hatiku takkan pernah menipu, ia adalah salah satu alasan aku menginjakkan kaki di muka bumi. Aku yakin kehadiranku di sini memiliki tujuan, yang salah satunya adalah untuk membahagiakannya dengan segala hal yang kupunya.

Doa adalah salah satu kasih sayang dan cara aku membalas segala yang telah ia berikan. Kuangkat kedua belah tanganku di setiap waktu shalat. Memohon kepada Allah SWT segala harapan dan cita tentangnya. Agar selalu dijaga kesehatan dan kekuatan iman serta Islam. Agar ia dijauhkan dari segala bahaya dan fitnah.

Selain doa, aku hanya bisa memberikan senyuman, canda tulus serta berusaha menjadi anak yang lebih baik untuknya. Aku yakin dengan hal tersebut setidaknya ia akan paham bahwa aku juga sangat mencintainya. Meski cintaku takkan pernah mampu menandinginya. Cinta sepanjang masa, Cinta sepanjang jalan. Cinta yang takkan pernah kadaluarsa.

Ayah, engkaulah pahlawan sesungguhnya. Engkau sinar yang mampu menerangi saat diriku redup. Engkau sumber kehidupan. Terima kasih atas kasih dan cinta yang takkan pernah terhenti. Aku mencintaimu layaknya udara murni, meski doaku tak terlihat aku akan selalu ada untukmu. Aku sangat mencintaimu, Ayah.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 7,30 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Yayah Sugianto
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, program studi Penerbitan (Jurnalistik).

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan