Home / Narasi Islam / Sejarah / Tahun Baru Islam, Umar, dan Momen Berhijrah

Tahun Baru Islam, Umar, dan Momen Berhijrah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Kita baru saja memasuki 1 Muharram 1436 Hijriah, artinya kita baru saja memasuki tahun baru dalam penanggalan Islam (Hijriah). Memang, di dalam ajaran Islam tidak ada perayaan khusus untuk menyambut tahun baru ini. Namun, sering kali momen tahun baru ini menjadi momen refleksi dan introspeksi atas apa yang telah dikerjakan selama satu tahun.

Momen tahun baru ini juga sering kali disebut sebagai momen untuk berhijrah, karena penanggalan Hijriah ini dihitung sejak Rasulullah dan para sahabat berhijrah dari Mekkah al-Mukarromah menuju Madinah al-Munawwaroh.

Maka, tahun baru Islam berarti berhijrah, hijrah ini selain berarti peristiwa pindahnya Rasulullah dan para sahabat ke Madinah, namun dimaknai pula sebagai peristiwa berpindahnya seseorang dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih baik, dari gelapnya kejahiliyyahan menuju terang benderangnya cahaya Islam.

Karenanya, menarik untuk menyimak bagaimana hijrahnya para sahabat dari kejahiliyyahan menuju Islam, salah satunya adalah ‘Umar Ibn Khaththab, Khalifah Kedua Islam sekaligus pencetus penanggalan Hijriah.

***

‘Umar bin Khaththab, nama yang akrab didengar bagi umat Islam. Sahabat Nabi yang juga Khalifah Kedua Islam. Kisah hijrahnya ‘Umar ke dalam Islam merupakan kisah yang mahsyur. ‘Umar merupakan sosok yang disegani, berperawakan tinggi besar, seorang yang keras hingga lawan pun takut dibuatnya.

Potensi luar biasa ‘Umar bin Khaththab tentunya akan menjadi kekuatan besar bagi Islam, hingga Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, perkuatlah Islam dengan salah satu dari dua ‘Amr yang lebih Kau cintai: ‘Umar ibn Al Khaththab atau ‘Amr ibn Hisyam.” Maka, Allah lebih ridha ‘Umar Ibn Khaththab yang memeluk Islam ketimbang ‘Amr Ibn Hisyam alias Abul Hakam atau Abu Jahl.

Bermula dari suara adiknya, Fathimah binti Khaththab yang membacakan surah Thaahaa, ‘Umar marah hingga melukai adiknya. Namun, ia malah membaca lembaran surah Thaahaa yang dibaca adiknya. Di sinilah momen hidayah muncul. ‘Umar akhirnya mendatangi Rasulullah yang sedang berada di rumah Arqam Ibn Abi Arqam.

‘Umar sempat dihadang Hamzah Ibn Abdul Muthallib sebelum akhirnya bertemu Rasulullah dan mengatakan dua kalimat syahadat. Allahu Akbar! Maka inilah salah satu kemenangan Islam kala itu. Islam kala itu telah memiliki Hamzah sang “Singa Padang Pasir”, lalu bertambah kuat dengan ‘Umar Ibn Khaththab.

Hijrahnya ‘Umar ini menjadi kabar gembira bagi kaum Muslimin. Kaum Muslimin lebih berani menunjukkan keislamannya. Masuknya ‘Umar ke dalam Islam ini sebagaimana yang dikatakan ‘Abdullah Ibn Mas’ud, “Masuknya Umar dalam Islam adalah pembukaan. Hijrahnya adalah kemenangan, kekuasaannya adalah rahmat. Sungguh kami menyadari diri kami sebelumnya tidak mampu melaksanakan shalat di Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Ketika masuk Islam, ia memerangi mereka dan membiarkan kami shalat.

Hijrahnya ‘Umar merupakan berkah, maka sang Nabi pun bersabda, “Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar Ibn Khaththab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk unta-unta mereka.

Kepemimpinan beliau adalah suatu teladan dan juga diimpikan. Ketegasan, fisik yang kuat, wibawa, cermatnya dalam mengambil keputusan, dan keberanian yang semuanya dilingkupi oleh cahaya Islam merupakan sebuah kemenangan.

Di bawah kepemimpinannya, kejayaan Islam terus berkembang dan bertambah besar pengaruhnya. Pada masanya, Islam berekspansi hingga wilayah kekuasaan Islam meliputi seluruh Jazirah Arab, Palestina, Syria, sebagian wilayah Persia, Mesir, Kufah, Basrah, hingga beberapa bagian Afrika.

Inilah hijrahnya ‘Umar Ibn Khaththab, yang keputusannya memeluk Islam menjadi kemenangan bagi islam.

Berbahagialah berislam, berbahagialah mereka yang pada akhirnya memutuskan berhijrah menuju Islam. Berhijrah memeluk Islam akan memuliakan mereka yang memeluknya, seperti apa yang dikatakan ‘Umar, “Wahai kaum Muslimin, kita dulu dalam keadaan yang hina dina, kemudian Islam datang dan kita menjadi mulia karenanya. Camkanlah, jika kita meninggalkan Islam setelah ini, maka Allah tentu akan kembali menghinakan diri kita.

Maka, pada momen 1 Muharram 1436 Hijriah ini sudah selayaknya kita berefleksi sejauh mana keislaman kita, sejauh mana kemanfaatan kita sebagai seorang manusia dan seorang muslim, karena Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Kisah ‘Umar sesungguhnya menjadi teladan dan inspirasi, bagaimana seseorang yang pada mulanya menentang Islam justru membawa kemuliaan dan kemenangan bagi islam bahkan menjadi sahabat dari Rasulullah.

Hijrah dari kejahiliyyahan / kebodohan kita kembali menuju cahaya Islam, yang lalu kita memperbaiki diri dan menshalihkan pribadi. Dari keshalihan pribadi ini meluas sehingga menjadi keshalihan sosial.

Semoga kita bisa berhijrah dan memberikan kemanfaat seluas-luasnya bagi Islam, Indonesia, dan dunia.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Firman Maulana
Mahasiswa Program Studi Matematika FMIPA Universitas Padjadjaran angkatan 2012. Peserta program beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung Angkatan 7.

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia

Organization