Home / Narasi Islam / Sejarah / Studi Komparatif-Membongkar Sejarah, Andalusia Riwayatmu Kini

Studi Komparatif-Membongkar Sejarah, Andalusia Riwayatmu Kini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: kubepublishing.com)
Ilustrasi. (Foto: kubepublishing.com)

dakwatuna.com Sebenarnya ini cerita klasik yang sering terlupakan seiring dengan perkembangan zaman, Andalusia atau Spanyol saat ini lebih dikenal dengan kompetisi La Liganya, belum lagi dua klub raksasa dunia FC Barcelona dan FC Real Madrid yang banyak digilai pecinta bola, apalagi di tahun 2010 Spanyol berhasil menjadi Juara Dunia untuk kali pertama, spontan kisah Andalusia bisa lebih terkikis, alhasil dunia bola lebih sering dibincangkan oleh publik ketimbang keberhasilan Islam mewarnai Spanyol ratusan tahun silam.

Rasa penasaran menggiring hati ini untuk menyelami peradaban dan sejarah Islam lebih dalam, berawal dari perjalanan saya pada tahun 2010 meninggalkan ibu pertiwi menuju negeri di benua Afrika yaitu Maroko untuk melanjutkan program Master pada Studi Islam sambil mengikuti kilas balik sejarah.

Walaupun selat menjadi pemisah di antara keduanya, dari kota Tanger di Utara Maroko terlihat dengan jelas nuansa Andalusia yang terpisah sekitar 14 KM, kendati dipisahkan oleh jarak bukan menjadi penghalang untuk saya me-recover sejarah dan peradaban Islam di Andalusia yang kini menjadi warisan bersama umat Islam terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan afrika utara meliputi Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya dan Mauritania.

Jika kita bicara soal peradaban, jauh sebelum Andalusia sebenarnya sudah ada yang mengisi lembaran sejarah di muka bumi, berawal dari sejarah Peradaban Mesopotamia: 6000 SM – 1100 SM, Peradaban Mesir: 4000 SM – 343 M, Peradaban Yunani: 750 SM – 146 SM, Peradaban Romawi: 753 SM – 1453 M, kemudian Peradaban Islam: 622 M – 1924 M, itulah rangkaian singkat dari masa-masa peradaban.

Sejarah tidak banyak mencatat perihal keakuratan fase-fase sebelum peradaban Islam, karena belum adanya sistem sanad seperti di peradaban Islam, salah satu metode menjaga keaslian sejarah agar manusia tidak berkata sesukanya, bahkan sebelum Peradaban Islam, di kenal dengan masa kegelapan (The Dark Age) yang berlangsung hingga ratusan tahun sampai akhirnya diutus suri tauladan untuk menyempurnakan Akhlaq dan menjadi revolusi besar akan peradaban manusia menuju masyarakat madani (Civil Society) di bawah komando Rasulullah SAW.

Setelah itu ajaran Islam sebagai ideologi yang lurus mulai berkembang ke berbagai penjuru, di antaranya: negara-negara arab, teluk, daratan Afrika utara, Andalusia, dan belahan dunia lainnya. Islam menyentuh dunia termasuk Andalusia dengan bahasa perubahan yang bermakna yaitu memanusiakan manusia dengan risalahnya yang jelas berupa ajaran Tauhid dan nilai-nilai luhur budi pekerti. Di masa-masa inilah Islam pernah mengukir prestasi di daratan Eropa dengan Andalusianya terhitung dari tahun 711-1492 M.

Sambil mengkaji artikel singkat ini, sejenak kita bayangkan fakta sejarah 13 abad silam, dibaca secara perlahan, dan di akhir tulisan kita bisa sama-sama mengambil pelajaran untuk dibandingkan dengan fakta di abad ke-21, sambil merenungkan sejenak cerita dari pejuang Islam Thariq bin Ziyad yang dengan menggeloranya beliau membakar semangat pasukan Islam. Kurang lebih sebanyak 7.000 prajurit dipimpinnya, mereka berasal dari suku Barbar (suku asli penduduk Maroko/Afrika utara) dan Arab. Mereka telah selamat dan tiba di dataran Andalusia. Mereka telah mengarungi selat yang memisahkan tanah Maroko di Afrika Utara dengan Eropa itu. Tanpa ragu sedikit pun Thariq memerintahkan untuk membakar kapal-kapalnya. Pilihannya jelas: terus maju untuk kejayaan Islam atau mati terhormat.

Pada cerita ini ada hal yang menarik yaitu soal pembakaran perahu yang diperintahkah oleh Thariq, disini terdapat perbedaan pendapat dikalangan sejarawan. Pada cerita lain dikisahkan atau ditulis secara umum, Thariq bin Ziyad tidak mungkin membakar perahu-perahu itu, dengan berbagai alasan:

  1. Umat muslim dilarang untuk merusak barang yang masih bagus dan berguna
  2. Thariq tidak mungkin merusak barang yang bukan miliknya. Karena perahu-perahu tersebut adalah milik tuan-nya (Musa). Apalagi pada perahu-perahu itu juga ada sumbangan dari pihak Andalusia yang tertekan dan minta bantuan.

Adapaun untuk kebenaran sejarah lebih lanjut kita butuh pembahasan lebih dalam dan intensif perihal keakuratan cerita dari sejarah Islam di Andalusia ratusan tahun silam.

Peristiwa di tahun 711 Masehi itu mengawali masa-masa Islam di Andalusia. Pasukan Thariq sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki disana. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik dan Tharif sukses dalam mengemban amanatnya. Maka tak heran di Spanyol kini ada daerah bernama Tarifa sebagai salah satu bukti peninggalan peradaban Islam yang diambil dari seorang komando bernama Tharif bin Malik.

Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid dari Bani Umayah tanpa intervensi sedikitpun dari Bani Abbasiyah yang berpusat di Bhagdad ketika itu. Dan ini menjadi prestasi tersendiri bagi dinasti Umayah yang bisa menguasai Andalusia.

Thariq pun mencatat sukses seperti pendahulunya Tharif. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah dengan membawa risalah keIslaman tanpa paksaan untuk berpindah agama, karena sejatinya tujuan mereka berperang bukan untuk memaksakan penduduk Andalusia memeluk Islam, akan tetapi melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan Imperium Barat, jika kita Komparatifkan sama halnya seperti perang antara pasukan Islam dengan pasukan Romawi yang menjadi adikuasa di zaman Rasulullah SAW.

Setelah itu Thariq maju untuk merebut kota-kota seperti Granada, Cordova dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa.

Akhrinya Thariq sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gibraltar hingga sekarang. Musa bahkan ikut menyebrang untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia berhasil merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan itu.

Pada 755 Masehi, Abdurrahman -keturunan Keluarga Dinasti Umayah (661-750 Masehi) yang lolos dari kejaran penguasa Abbasiyah-tiba di Spanyol. Perebutan kekuasaan dan persaingan tidak sehat menjadi isu sensitif kala itu karena ulah para elit dalam memperebutkan kursi panas dan puncak jabatan serta pembagian kavling kekuasaan.

Abdurrahman Ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan menjadi penguasa tunggal di Andalusia dengan gelar Amir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan “untuk mencari kematian” (martyrdom). Namun Dinasti Umayah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan itu.

Abdurrahman kemudian menjadikan Andalusia sebagai pusat ilmu terpenting di daratan Eropa. Pada 912, tersiar kabar bahwa khalifah Abbasiyah di Baghdad tewas dibunuh, Ia lalu menggunakan gelar khalifah dan mendirikan Universitas Cordova dengan perpustakaan berisi ratusan ribu buku. Dalam catatan ini jika kita komparatifkan antara dinasti Umayah dan Abbasiyah, dinasti yang berusia paling panjang dalam sejarah Islam adalah Abbasiyah (750-1258 Masehi).

Hal demikian dilanjutkan oleh Khalifah Hakam. Pusat-pusat studi dibanjiri ribuan pelajar, Islam maupun Kristen, dari berbagai wilayah. Ladang-ladang pertanian Andalusia tumbuh dengan subur mengadopsi kebun-kebun dari wilayah Islam lainnya. Sistem hidraulik untuk pengairan dikenalkan. Andalusia inilah yang mendorong era pencerahan atau renaissance yang berkembang di Italia dan Negara-negara di Eropa umumnya. Bahkan ilmu-ilmu modern pun bermunculan di era Andalusia ini seperti Matematika, Fisika, Astronomi, dan disiplin ilmu lainnya.

Islam dan Ilmu Pengetahuan pada hakekatnya adalah ibarat dua muka dari sebuah koin. Islam yang murni mesti berlandaskan pada dasar Ilmu Pengetahuan yang valid, dan Ilmu Pengetahuan yang sejati selalu mengantarkan kepada kebenaran Islam yang universal. bahkan tokoh barat Dr. Maurice Bucaille menambahkan perihal kitab suci Umat Islam di dalam (La Bible, le Coran et la Science (1976): Al Qur’an sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, namun bahwa Alkitab atau Bibel tidak konsisten dan penurunannya bisa diragukan.

Setelah Andalusia ada di puncak keemasan, munculah fase kemunduran dan Kekacauan. Diskursus para elit menjadi salah satu faktor utama dan terjadi setelah Hakam wafat, setelah itu kendali dipegang Manshur Billah seorang ambisius yang menghabisi teman maupun lawan-lawannya dengan menghalalkan segala cara. Kebencian masyarakat, baik Islam maupun Kristen mencuat. Situasi tak terkendalikan lagi setelah Manshur Billah wafat. Pada 1013, Dewan Menteri menghapuskan jabatan khalifah. Akhrinya Andalusia terpecah-pecah menjadi sekitar 30 negara kota.

Dua kekuatan dari negeri seribu benteng Maroko sempat menyatukan kembali seluruh wilayah itu. Pertama adalah Dinasti Murabithun (1086-1143) yang berpusat di Marrakech yaitu tempat yang dijuluki si Kota Merah karena bangunan dan rumah penduduknya banyak mengenakan cat berwarna merah.

Pasukan Murabithun datang untuk membantu kalangan Islam melawan Kerajaan Castilla. Mereka memutuskan untuk menguasai Andalusia setelah melihat Islam terpecah-belah. Dinasti Muwahiddun, yang menggantikan kekuasaan Murabithun di Afrika Utara, kemudian juga melanjutkan kepemimpinan Islam di Andalusia (1146-1235). Di masa ini, hidup seorang pemikir besar yang banyak menafsirkan naskah Aristoteles yaitu ibn rusyd (filsafat). Ada juga ilmuan-ilmuan lainnya yang mempunyai pengaruh besar terhadap peradaban manusia seperti: al-Qurthubi, Qadhi Iyadl (Tafsir), Ibnu Abdil Barr (Hadits), Ibnu Khaldun (ilmu sosial), Ibnu Arabi (Tasawuf), Sahnun, Ibnu Hazm (Fiqh), as-Shathibi (Maqashid), as-Shathibi (Maqashid) dan lain-lain.

Episode akhir sejarah Islam di Andalusia

Pada 1238 Cordova jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada 1248 dan akhirnya seluruh Spanyol. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492). Kepemimpinan Islam masih berlangsung sampai Abu Abdullah. Kemudian dia meminta bantuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Abu Abdullah sempat naik tahta setelah ayahnya terbunuh. Namun Ferdinand dan Isabella kemudian menikah dan menyatukan kedua kerajaan. Mereka kemudian menggempur kekuatan Abu Abdullah untuk mengakhiri masa kepemimpinan Islam sama sekali di bawah kekuasaan raja dan ratu Katolik tersebut.

Sejak itulah, seluruh pemeluk Islam juga Yahudi, dikejar-kejar untuk dihabisi sama sekali atau berpindah agama. Mega proyek Imperium Kristus dengan hegemoninya terhadap pemeluk Islam itu dibawa oleh pasukan Spanyol yang beberapa tahun kemudian menjelajah hingga kawasan Asia tenggara tepatnya di Filipina. Kesultanan Islam di Manila pun mereka bumi hanguskan, seluruh kerabat Sultan mereka perangi.

Alhasil memasuki Abad ke-16, Tanah Andalusia yang selama delapan Abad dalam naungan Islam kemudian bersih sama sekali dari keberadaan Muslimin setelah ekspansi besar-besaran para penguasa barat dengan imperium kristusnya merebut Andalusia dengan mengakhiri cerita pada Tragedy Granada, dimana Umat Islam ketika itu dihabisi dengan kejam tanpa belas kasihan.

Cemerlangnya cerita Andalusia sebenarnya bukan hal baru, termasuk perpecahan dan kemunduran pasca kejayaan. Berkaca ribuan tahun silam kepada Bani Israil yang bisa kita jadikan contoh relevan untuk dijadikan pelajaran berharga.

Mengenal Bani Israil

Bani berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah keturunan, sedangkan Israil itu sendiri terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Ibrani (bahasa yang hampir punah) “Isra dan iel, Isra artinya hamba dan iel adalah Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan, maka jangan heran jika keturunan Isail/bani Israil bangga dengan nasabnya karena ada faktor sejarah versi keyakinan dan buku bacaan/kitab suci mereka.

Israil adalah kalimat Ibrani yang merupakan gelar yang diberikan oleh Tuhannya orang Yahudi yaitu Yahwe kepada nabi Ya’kub, karena nabi Ya’kub dapat mengalahkan Tuhan dalam pertarungan antara keduanya, setelah itu Yahwe berkata: setelah ini janganlah kamu dipanggil Ya’kub tapi Israil, karena kamu telah mengalahkan Tuhan.

Adapun Yahudi itu sendiri adalah kalimat yang dinisbatkan kepada anak keempat dari nabi Ya’kub yang bernama Yahoudza, gelar ini muncul setelah runtuhnya kerajaan Yahoudza. Maksud kata Yahudi adalah kalimat yang berartikan “sesungguhnya kami telah kembali kepada Engkau wahai Tuhan”.

Yang disebutkan sebagai keturunan Israil adalah dari keturunan nabi Ishak dan Ya’kub ‘alaihima as-salam, bukan dari nabi Ismail, orangtua daripada nabi Ishak dan Ismail ‘alaihima as-salam adalah nabi Ibrahim, hanya saja beda ibu, Ishak dari Sarah adapun Ismail dari Hajar, akan tetapi keturunan Israil hanya berlaku dari nabi Ishak dan seterusnya, dari nabi Ishak inilah banyak menghasilkan nabi, maka jangan heran kalau bani Israil bisa berbangga karena memang banyak leluhur mereka menjadi nabi kendati mereka sendiri membunuh para nabinya karena kedurhakaan.

Kitab suci orang Yahudi adalah Taurat dan Talmud, posisi Talmud sangat suci bagi orang Yahudi, bagi mereka Taurat dianggap sebagai roti dan Talmud sebagai lauknya, jika beriman kepada Taurat tapi tidak kepada Talmud, maka tidak sah.

Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam adalah keturunan Israil, mereka berdua sukses membawa Bani Israil kepada kegemilangan sejarah dan kemakmuran (fase keemasan). Setelah wafatnya Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam, Bani Israil yang dulu kuat dan dipuja-puja akhirnya menjadi kaum yang lemah dan mengalami perpecahan yang akhrinya dibagi menjadi dua kelompok:

  1. Kerajaan selatan dengan Yerussalem sebagai ibukota di pimpin oleh Rahbaam (Rehabeam)-(913-930/31 SM).
  2. Kerajaan utara dengan Nabloes sebagai ibukota dan dipimpin oleh Yarbaam (Yerabeam)-(909/910-930/931 SM).

Mereka berdua adalah keturunan para pemimpin Bani Israil terdahulu. Rahbaam Putra Nabi Sulaiman ‘Alaihi as-salam menjadi penerus dari kepemimpin ayahnya, sedangkan Yarbaam enggan berjalan bersama dan lebih memilih menjadi Oposisi ketimbang koalisi dengan Rahbaam dalam memimpin Bani Israil, dari sinilah berawal perpecahan demi hasrat politik menuju kekuasaan dari kubu Yarbaam.

Faktor mendasar kemunduran Bani Israil

Terlena dengan kejayaan, perebutan tahta kekuasaan, maraknya kubu oposisi yang bersifat subyektif, perpecahan, hidup yang berfoya-foya, krisis moral, dan unsur duniawi lainnya menjadi faktor paling mendasar kemunduran Bani Israil. Setelah beberapa kurun dalam fase kemunduran, estafet kepemimpinan Bani Israil diteruskan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihima as-salam dengan membawa risalah ilahi, keduanya mampu mengeluarkan Bani Israil dari penindasan turun temurun di bawah kekuasaan sang diktator Mesir Fir’aun serta berhasil dengan taufik dari Allah Ta’ala seperti yang diceritakan di banyak ayat dalam Kitab suci Al Quran. salah satunya di Surat Al A’raaf ayat 103-137 juz 9.

Tambuk kepemimipinan Bani Israil pun berganti seiring dengan wafatnya kedua utusan Allah tersebut. Yusha Bin Nun salah seorang murid kepercayaan Nabi Musa ‘alaihi as -salam yang akhirnya menjadi pemimpin Bani Israil membawa mereka ke Tanah sakral Palestina dan menetap di sana dalam jangka waktu yang lama. Yusha Bin Nun senantiasa membagi masa kepemimpinan Bani Israil menjadi 3 bagian:

  1. Masa Pemerintahan,
  2. Masa kerajaan/kejayaan,
  3. Masa perpecahan.

Di bawah kepimimpinan nabi Daud ‘alahi as-salam awal masa pemerintahan, diteruskan nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam dengan masa kejayaan, setelah mereka berdua wafat datanglah masa perpecahan seperti yang diceritakan pada paragraf sebelumnya.

Catatan akhir studi komparatif:

Cerita singkat ini hanyalah contoh kecil dari lembaran sejarah manusia yang bersifat Normatif. APALAH ARTI SEBUAH SEJARAH? kalimat itu ingin saya tanyakan ketika harus disandarkan dengan maraknya Fenomena keagamaan di era global ini.

Bangkitnya pergerakan Islam di Asia tenggara, kemenangan tipis kelompok Islam di Turki atas kubu sekuler dan militer, revolusi negara-negara Arab yang diawali di Tunisia tahun 2010 dan semakin menjamurnya pemeluk Islam di benua Eropa, Australia, Amerika, hingga Asia timur pasca tragedi World Trade Center 2001, walaupun propaganda barat dan media massa juga tidak kalah bangkit memberitakan berita negatif seputar dunia Islam. Bahkan menggambarkan Islam di mata dunia sebagai agama yang ekstrim, sebagai contoh terbaru adalah kehadiran kontroversial dari ISIS di tahun 2013 yang mengatasnamakan pembela agama. Para ulama dunia sepakat kehadiran ISIS tidak mewakili umat Islam.

Ini semua menjadi akumulasi yang tidak terbantahkan perihal meluasnya cahaya Islam yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun dengan izin AllahTa’ala, sama halnya seperti meluasnya cahaya Islam ke daratan Andalusia ratusan tahun silam, sesuai dengan beberapa firmannya:

  1. Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At-taubah: 32).
  2. Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim (7). Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (8). (Ash Shaff: 7-8).
  3. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Israa’: 81).
  4. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Muhammad: 7).
  5. Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shali (Al-Anbiyaa’: 105).
  6. Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik [kalimat tauhid] dan amal yang shalih dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (Faathir: 10).
  7. Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (Al Maa’idah: 56).

Fakta menarik studi komparatif

Jaminan Allah ta’ala terhadap orang-orang yang menjaga budi pekerti secara utuh disertai keimanan bukan hanya berupa kejayaan dan kemenangan seperti pada ayat-ayat di atas, melainkan masih ada hadiah dan lebih dari sekadar jaminan yaitu janji-janji khusus untuk hamba-hambanya sebagai bukti kasih sayang Allah ta’ala, janji-janji ini telah di bingkai secara khusus di dalam surat:

  1. An Nuur ayat 55 juz 18:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Beberapa janji Allah ta’ala sangat jelas, di antaranya:

  1. Menjadi Pemegang kepentingan. (Stakeholders)
  2. Dikuatkan agamanya (Strong in faith)
  3. Kenyamanan hidup (Comfortable in life)

Untuk mendapatkan tiga point di atas ternyata tidak terlalu sulit, hanya butuh usaha lebih, Bahkan Allah ta’ala hanya memberikan satu syarat saja setelah iman dan amal shalih yaitu: Menyembah Allah ta’ala tanpa menyekutukannya dengan hal apapun.

  1. An Nakhl ayat 97 juz 14:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’’

Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki atau perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. Paling tidak ada dua point penting yang bisa kita ambil dalam ayat di atas, di antaranya:

  1. Ganjaran di dunia: Berupa kehidupan yang layak
  2. Ganjaran di akhirat: Kompensasi dari Allah ta’ala berupa pahala berlipat

Pelajaran berharga yang bisa didapat, di antaranya:

  1. Diskursus para elit acap kali menjadi faktor mendasar kehancuran suatu negri.
  2. Kecerobahan intelektual, kemiskinan, perpecahan adalah tanda awal dari runtuhnya suatu kejayaan.
  3. Keimanan disertai amal shalih akumulasi dari kebahagian dunia dan akhirat.
  4. Islam yang murni mesti berlandaskan pada dasar Ilmu Pengetahuan yang valid, dan Ilmu Pengetahuan yang sejati selalu mengantarkan kepada kebenaran Islam yang universal.
  5. Ajaran Islam senantiasa menawarkan pesan kedamaian dan kasih sayang bagi semesta.
  6. Sejatinya cahaya kebenaran tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun, karena Allah ta’ala yang senantiasa menyempurnakannya.
  7. Manuver para ambisius yang bersifat tidak sehat, menghalalkan segala cara, memaksakan persepsi, cenderung berapriori terhadap lawan politiknya dapat mematikan hati nurani dan akal sehat.
  8. Kejayaan dan kemunduran suatu kaum terjadi atas izin Allah ta’ala.
  9. Seyogyanya seorang muslim sejati tidak pernah bosan dalam mencari kebenaran, apalagi dalam menyiarkannya. Karena ruang, jarak, dan dinding waktu bisa ditembus dengan kesungguhan niat yang semata-mata karena Allah ta’ala seperti masuknya cahaya kebenaran ke daratan Andalusia melalui para pejuang Islam terdahulu.
  10. Niat adalah hal terpenting dalam melakukan suatu aksi, karena dari situlah berawal segala sesuatunya.
  11. Kasih sayang Allah ta’ala terhadap orang-orang yang beriman dan beramal soleh begitu besar.
  12. Persatuan adalah hal terpenting dalam suatu Negara.
  13. Sifat fanatik yang berlebihan dan tidak mendasar adalah hal yang terbantahkan, karena akan menimbulkan perbedaan yang tidak normal.
  14. Hal tersulit daripada memperoleh kemenangan adalah mempertahankannya.
  15. Keteladan para pejuang Islam terdahulu bisa menjadi teladan dalam menghadapi segala tantangan di era globalisasi dan motivator terbaik bagi umat Islam.
  16. Sejatinya hidup adalah perjuangan tanpa henti. Karena dengan itulah hidup akan terasa lebih bermakna.
  17. Konsisten adalah karakter dari orang-orang yang berjiwa besar.
  18. Tiada keberhasilan yang berarti kecuali didapat setelah bersusah payah.
  19. Allah ta’ala sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan amal baik kita walaupun baru tersimpan di dalam hati dan terlintas di pikiran seorang muslim/muslimah.
  20. Sebagai penutup catatan ringan ini, segala sesuatunya Allah ta’ala ciptakan dengan keseimbangan:
    1. Suatu kejayaan atau kemenangan terjadi seiring dengan kesabaran dan kesungguhan.
    2. Sebuah jalan keluar terjadi seiring dengan cobaan, rintangan, gesekan, halangan, dan benda-benda mati lainnya.
    3. Kemudahan terjadi seiring dengan kesulitan.

Referensi: Al Qur’an Al Kariem, Siroh nabawiyah, Data kolektif via Online (Tarikh El Andalus), Diktat Univ-Azhar Kairo (Milal Wa Nihal-Tarikh Bani Israil), dan Analisa Personal.

(Catatan ringan ini didedikasikan untuk seluruh umat Islam dan para pengagum akan sejarah Islam di Andalusia)

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

Wanita, Kartini, dan Emansipasi dalam Tinjauan Sejarah Islam