Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Don’t Share Your Happiness

Don’t Share Your Happiness

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)

dakwatuna.com Menikah mungkin suatu momen yang biasa saja, namun selalu istimewa bagi yang menjalaninya. Bayangan kebahagiaan berada di pelupuk mata. Tak ayal banyak yang ingin memperlihatkan kebahagiaan itu kepada orang. Entah melalui cerita secara langsung ataupun membuat status pada sosial media. Tujuannya supaya orang lain mengetahui kebahagiaan yang tengah dirasakan. Tak peduli orang tersebut sedang dalam kesulitan atau dalam kondisi lainnya.

Suatu sifat yang mungkin wajar dimiliki setiap manusia. Ingin membagi setiap rasa yang tersirat di dalam hati. Bahagia atau sedih. Sayangnya, setiap manusia pun memiliki masalah hidup masing-masing yang tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. Bisa jadi ada seseorang yang biasa saja tatkala bercerita kebahagiaan yang kita rasakan, meskipun dalam hatinya kini diliputi kesedihan. Namun tidak sedikit yang justru merasa kesal dengan cerita kita, karena orang tersebut belum bisa mendapatkan apa yang sedang dipamerkan kepadanya. Dan menikah adalah salah satunya.

Menikah. Siapa sih yang tidak ingin menikah?? Bahkan seseorang yang mengambil keputusan untuk hidup sendiri pun pasti terbersit keinginan untuk menikah. Sunnatullah. Manusia diciptakan hidup berpasang-pasangan. Siapapun dia, bagaimanapun dia. Hanya saja, ada yang sudah dipertemukan dengan jodohnya. Ada yang masih Allah tahan untuk dipertemukan di saat yang tepat.

Bagi yang sedang menunggu pujaan hati datang untuk bersanding di pelaminan, tentu bukanlah hal mudah jika ada pasangan suami dan istri yang mengumbar bagaimana bahagianya mereka menemukan belahan jiwa yang telah lama dirindukan. Menunggu bukanlah aktivitas yang menyenangkan, bagi sebagian orang. Namun ada pula yang mampu menjadikan proses menunggu sebagai ajang melatih kesabaran. Sama halnya dengan mereka yang sedang menanti pasangan hidupnya.

Fenomena sosial media yang kini tengah marak dijadikan sebagai fasilitas pengguna untuk mengekspresikan diri. Update status yang dijadikan ajang pengisi waktu luang, sarana mengeluarkan uneg-uneg, tempat memanjatkan doa dan sebagainya. Salah satu jenis status yang seringkali muncul adalah tentang kemesraan pasangan suami istri. Terlebih jika mereka adalah pengantin baru yang sedang merasakan bunga-bunga cinta hadir dalam hidup mereka. Tidak ada yang salah dalam mengekspresikan perasaan. Pun di sosial media. Itu adalah hak kita. Lalu, muncul pertanyaan. Apakah semua orang yang menjalin persahabatan dengan kita senang dengan status tersebut? Mungkin akan ada pembelaan, lebih baik update status yang berisi kebahagiaan dibandingkan dengan keluhan, cacian atau hal-hal yang berbau vulgar. Memang benar. Tapi perlu dikaji juga mengenai manfaat dan mudhorotnya dari status tersebut.

Saat ini kita membahas mengenai status yang berisi kemesraan suami istri yang pastinya sangat berdampak bagi mereka yang jomblo. Secara langsung atau tidak. Bagi kita yang tidak pernah mengalami saat-saat menunggu pasangan yang menjemukan, mungkin akan merasa biasa saja. Dan tidak semua orang memiliki hati yang teguh dalam penantian. Sedikit banyak, terbersitlah rasa gundah, resah, sedikit ketidaksabaran dan lainnya.

Ibarat sedang menyantap hidangan di hadapan seseorang yang sedang berpuasa dengan sengaja. Bisa jadi tidak ada maksud untuk membuat orang lain ngiler, tetapi secara tidak langsung pasti menimbulkan rasa kesal atau inginnya menyantap hidangan tersebut namun terbentur oleh kondisi diri yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan seseorang yang sedang istiqamah dalam penantian dengan tidak menempuh jalur pacaran, justru dibuat galau dengan status mesra, misalnya :
“Terima kasih sayang atas kejutannya pagi iniatau “Makan malam bersama istri tercinta” dan lain sebagainya. Tak hanya status yang bermunculan, juga foto-foto yang menampakkan kebahagiaan pasangan tersebut.

Sekali lagi, tidak semua orang memiliki keteguhan hati tatkala melihat godaan dari sekitar yang mengusik keistiqamahan dalam penantian. Siapa yang tahu, karena status yang kita buat bisa menjadikan si Jomblo menjadi futur atau imannya lemah dan menghalalkan cara mencari si “dia” dengan jalan yang tidak baik. Karena masa penantian adalah masa paling rawan jika hati kita masih terkontaminasi virus duniawi, menyerahkan urusan kepada Allah tapi tetap melirik kiri kanan yang memberikan sinyal perhatian.

Kita bisa saja menyalahkan mereka yang tidak bisa menjaga hati, tapi sebagai saudara seiman yang harusnya saling menyayangi, menasihati, mengingatkan, bukankah lebih baik jika kita mencegah datang suatu keburukan, apalagi jika keburukan itu datang akibat perbuatan kita sendiri. Bergotong-royonglah dalam kebaikan bukan dalam keburukan.

Kebahagiaan yang sedang dirasakan, langsung saja diungkapkan kepada pasangan kita. Secara pribadi. Bukan untuk konsumsi umum. Termasuk di tempat umum dengan tidak berperilaku yang lagi-lagi membuat si Jomblo menjadi iri.

Bersyukur kita bisa menjaga hati dan perasaan dalam masa penantian, Karena itu hendaknya kita bisa saling menjaga perasaan sesama. Semoga kebahagiaan yang kita rasakan akan kekal hingga akhirat nanti. Menjadi pengantin surga. Dan mereka yang kini dalam penantian, segera dipertemukan dengan jodoh terbaiknya menurut Allah. Aamiin.

 

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Jodohku Mungkinkah Dirimu