Home / Narasi Islam / Sejarah / Sultan Murad IV dan “Zindiq”

Sultan Murad IV dan “Zindiq”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Sultan Murad IV (inet)
Sultan Murad IV (inet)

dakwatuna.com Kisah berikut adalah salah satu kisah menarik bagi umat Islam. Kisah yang terjadi di antara penggalan hidup Murad IV ketika menjadi Sultan Khilafah Utsmaniyah ke-17 (1623-1640). Dia hidup pada tahun 1021-1049H (1612-1640M). Dia diangkat menjadi Sultan Khilafah Utsmaniyah pada usia 11 tahun.

Dikisahkan bahwa pada suatu malam Sultan Murad IV merasa dadanya sesak tanpa diketahui sebabnya. Kondisi ini membuatnya memanggil kepala penjaga istana dan menceritakan perasaan sesaknya lalu memutuskan untuk keluar istana demi memantau keadaan rakyatnya secara diam-diam. Sultan dan kepala penjaga istana berangkat dan sampai ke suatu tanah lapang dan didapatinya seorang lelaki yang terbaring di atas tanah. Kemudian Sultan menggerak-gerakkan lelaki tersebut dan ternyata telah menjadi mayat yang tidak ada seorang pun yang peduli dengan lelaki tersebut.

Sultan pun memanggil orang-orang yang ada di sekitar tempat itu dan tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Mereka bertanya kepada Sultan, “Apa yang Anda inginkan?”

Sultan menjawab, “Kenapa tidak ada orang yang mengangkat mayat ini? Siapa sebenarnya mayat ini dan di mana rumah keluarganya?”

Mereka menjawab, “Dia adalah orang yang bejat (zindiq), peminum khamar dan penzina.”

Sultan bertanya, “Bukankah dia salah seorang umat nabi Muhammad saw? Ayo kita bawa mayat ini ke rumah keluarganya!”

Lalu mereka membawa mayat tersebut ke rumah dan ketika istri sang mayat tersebut melihatnya, dia pun menangis. Orang-orang yang telah mengantar ayat tersebut telah kembali ke aktivitasnya masing-masing dan tinggallah Sultan beserta kepala penjaga istana. Di tengah tangisnya, sang istri berkata:

رحمك الله يا ولي الله أشهد أنك من الصالحين

“Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu wahai waliyullah. Aku bersaksi bahwa kamu termasuk orang-orang yang shalih.”

Mendengar persaksian istri si mayat tersebut, Sultan Murad IV kaget dan bertanya, “Bagaimana mungkin dia adalah seorang wali, sementara masyarakat telah mengatakan hal-hal negatif tentangnya sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya?”

Istrinya menjawab, “Aku sudah menduga akan terjadi seperti ini. Sesungguhnya suaminya ketika masih hidup setiap malam pergi ke tempat minuman untuk membeli khamar semampunya, kemudian dibawa pulang dan dituangkan ke dalam toilet. Dia mengatakan aku akan mengurangi jumlah khamar yang beredar di kalangan umat Islam. Dia juga mendatangi rumah WTS dan memberikan uang sambil berkata, “Malam ini aku yang bayar kamu, tutuplah pintu rumahmu (pen: agar tidak ada pelanggan yang datang) hingga pagi hari dan dia pulang ke rumahnya sambil berkata, “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dampak kemaksiatan WTS tersebut dari para pemuda muslim.”

Peduduk kota melihatnya membeli khamar dan mendatangi WTS lalu mengatakan hal-hal negatif tentangnya, sebagai peminum dan penzina. Suatu hari aku pernah menegurnya, “Nanti di saat kamu meninggal tidak ada orang yang mau memandikan, menshalatkan, dan menguburkan kamu.” Suamiku tertawa dan berkata:

وقال ﻻ تخافي سيصلي علي سلطان المسلمين والعلماء وأولياءه

“Jangan khawatir, aku akan dishalatkan oleh Sultan, para ulama, dan para wali.”

Mendengar cerita istri si mayat, Sultan Murad IV menangis terharu dan berkata:

صدق والله أنا السلطان مراد وغدا نغسله ونصلي عليه وندفنه

“Dia benar, demi Allah, aku Sultan Murad, besok kami akan memandikan, menshalatkan, dan akan menguburkannya.”

Demikianlah yang terjadi pada esok harinya, jenazah lelaki disaksikan oleh Sultan Murad IV, para ulama, para syeikh dan masyarakat muslim sampai ke kuburnya. (usb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (25 votes, average: 9,44 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ja'far Samin
Lulusan pesantren Husnul Khotimah, Kuningan-Jawa Barat yang cinta Al-Quran dan hobi olahraga.
  • Maskan Bin Usman

    Masya Alloh… dakwah bilkhal…..

Lihat Juga

Ilustrasi (Inet)

Kondomisasi: Kampanye Sesat, Kampanye Bejat