Home / Berita / Opini / Ini Bukan Kabinet Kodok Mas Joko!

Ini Bukan Kabinet Kodok Mas Joko!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kabinet Kerja Jokowi-JK (inet)
Kabinet Kerja Jokowi-JK (inet)

dakwatuna.com Bulshitt! Itulah yang pantas disebutkan setelah melihat susunan Menteri yang dibuat Jokowi. Katanya dulu tidak akan bagi-bagi dan kompromi kursi menteri ke partai pendukung, nyatanya tidak demikian to? Semuanya memiliki aroma bagi-bagi, baik itu secara partai politik, kedekatan hubungan bisnis, kedekatan satu kampus dulunya, atau bahkan sesama satu daerah. Semuanya hanya katanya, Anda tidak perlu menanyakan hal ini pada Sang Presiden karena akan diberikan jawaban “Toh sekarang saya sudah jadi Presiden kalian. Suka-suka saya aja siapa pun dia yang jadi menteri”.

Kabinet ramping itu hanya janji, kabinet tanpa bagi-bagi kursi itu hanya janji, hanya janji, apa sich susahnya bikin janji, semudah ngecap setelah itu lupakan saja. Penulis tidak ingin menghakimi, memang kita harus menunggu Kabinet Kerja ini benar-benar bekerja, jangan sampai menjadi Kabinet Kodok, atau Kabinet Babi dan Kabinet Kera. Karena ada kata “KERJA, KERJA, KERJA, KH Buya Hamka mengatakan “Jika kerja sekadar bekerja, KERA juga bekerja, jika hidup sekadar hidup, BABI HUTAN juga hidup”. Saya ingin melanjutkan pernyataan ini dengan apabila kerja dan hidup sekadarnya atau ala kadarnya maka kabinet yang ada tidak ubahnya seperti yang disebutkan Buya Hamka tersebut.

Sekali lagi memang kita harus melihat 5 tahun lagi, tetapi sebelum 5 tahun. Kita harus melihat 5 bulannya seperti apa? 5 pekannya seperti apa? 5 harinya seperti apa? 5 jamnya seperti apa? dan 5 menitnya seperti apa? Toh faktanya sebelum 5 jam seorang menteri pilihan Jokowi dengan petantang-petenteng merokok di depan publik tanpa rasa malu. Jika tidak dikawal maka apa yang diramalkan Jusuf Kalla bahwa Republik Indonesia akan hancur apabila dipimpin Jokowi benar-benar bisa jadi kenyataan.

Lidah memang tak bertulang, tetapi kenapa selalu lidah yang jadi kambing hitam setiap orang yang memiliki lidah dengan mudahnya mengumbar janji tidak menepati janjinya? Tidak bijaksana apabila hanya menyalahkan lidah tetapi seharusnya yang ditanyakan pada orang yang berjanji “Punya otak atau tidak?” Seorang filosof mengatakan “Apabila akalnya di atas lidahnya maka dia adalah seorang yang cerdas, tetapi apabila lidah di atas akalnya maka dia adalah orang yang dungu” (Al-Kindi). Jadi, Seseorang yang berjanji tanpa memikirkan dulu mengapa harus berjanji maka pantaslah disebut “Dungu” didasarkan pada pernyataan ini.

Projo (Pro-Jokowi) akan membuat opini dengan tulisan ini dengan menyebut “Anda mencari-cari kesalahan”. Mencari kesalahan itu apabila Anda tidak menemukan fakta tetapi tetap diumbar, fakta bahwa kabinet yang disusun berdasarkan azas transaksi sangat terlihat jelas dengan nyata. Mindset hasil cuci otak revolusi mental pendukung Jokowi sungguh sudah sangat mematikan akal sehat, Mengkritisi dibilang hatter atau ada yang bilang “Jokowi Phobia”. Tidak serta merta kritik yang diberikan datang dari kubu lawan, bukan karena Prabowo, saya mengkritisi Jokowi, tetapi saya rakyat Indonesia. Urusan Jokowi dan Prabowo telah selesai kini saatnya urusan Jokowi dengan rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia wajib mengingatkan apabila melenceng dan wajib memberhentikan apabila sampai memutar haluan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini.

Tetapi, buat pembaca yang ingin mengkritisi Jokowi harus siap-siap dikatai “Anjing, goblok, tolol, tai ” oleh Relawan Jokowi berkat hasil cuci otak revolusi mental mereka. Hal ini sudah dialami siapa pun, bagaimana dengan saya ? Buat saya, abaikan saja, toh mereka sedang mengatai diri mereka sendiri dengan ucapannya.

Mengapa soal “janji” ini penting untuk dibahas. Mengapa soal “bohong” ini penting untuk dibahas? Karena KEDUSTAAN adalah akar dari segala kejahatan, dan mengapa Nabi Muhammad SAW lebih dulu mengajarkan “Jangan berbohong”, dan bahkan akhlak pertama yang adalah kejujuran (al-amin). Pemimpin yang berbohong dan ingkar janji akan melahirkan rakyat yang sama, itulah yang penulis khawatirkan di akhirnya karena rakyat yang terlatih berbohong dan ingkar janji kelaknya akan melahirkan pemimpin-pemimpin sejenis dengan mereka. (usb/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: Samin B

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (39 votes, average: 7,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Adi Supriadi, MM
HR Manager PT Hitachi Power Systems Indonesia, Tinggal Di DKI Jakarta kelahiran Kota Ketapang, Kalimantan Barat. A Speaker, Motivation Trainer, Thinker and a Writer on culture, humanity, education, politics, peace, Islam, Palestinian, Israel, America, Interfaith, transnational, interstate, Management, Motivation and Cohesion at workplace. Committed to building a Cohesive Indonesia, Cohesive Industrial relation, Cohesion at workplace and offer Islamic solutions to the problems that inside. Lulus dari Fakultas Dakwah STAI Al-Haudl Ketapang, Kalbar, Melanjutkan S-2 Manajemen di Universitas Winaya Mukti Bandung, Jawa Barat.

Lihat Juga

Thomas Lembong, Luhut Binsar Pandjaitan, Darmin Nasution, Rizal Ramli, Pramono Anung dan Sofyan Djalil, saat akan dilantik menjadi menteri oleh Presiden Joko Widodo, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015). (banjarmasinpost/kompas)

Aboebakar: Perombakan Kabinet Bisa Jadi Tolok Ukur Keberhasilan Pemerintahan